Kasus bank century

"Ngumpet", Perburuk Citra Boediono

Kompas.com - 29/04/2010, 13:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski pihak Komisi Pemberantasan Korupsi telah memastikan bahwa mantan Gubernur Bank Indonesia yang kini menjabat Wakil Presiden, Boediono, akan diperiksa mulai pukul 14.00 di Kantor Wapres, sebelumnya informasi ini sempat simpang siur.

Wapres pun sempat "terkesan" kucing-kucingan untuk menghindari buruan para pekerja media. Sempat ia dikabarkan berada di Istana Wapres, tempatnya berkantor, sejak pukul 09.15 pagi tadi. Namun, belakangan mobilnya ditemukan di Wisma Negara, kompleks Istana, Jakarta. Tersiar kabar, ia bakal diperiksa di gedung itu. Apa gerangan yang ditutup-tutupi?

Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi menilai, menghindari publikasi pemeriksaan justru akan memperburuk citra Boediono. Sebelumnya, banyak pihak berpendapat, keengganan Boediono diperiksa di Kantor KPK untuk menjaga citra dirinya sebagai pemimpin negara.

"Efek sampingannya justru sebaliknya. Atas dalih menjaga simbol negara, tapi yang muncul sebaliknya. Bisa menimbulkan kesan bahwa pejabat negara selalu minta diperlakukan istimewa dan eksklusif. Ini harus bisa dijelaskan," kata Burhan kepada Kompas.com, Kamis (29/4/2010).

Meskipun KPK beralasan pemeriksaan di luar Gedung KPK merupakan kelaziman dalam proses penyelidikan, Burhan menangkap ada upaya untuk "membentengi" Boediono. "Padahal, tempus delicti-nya ketika dia menjadi Gubernur BI. Tetapi, posisi sebagai Wapres semakin membuat ada keinginan untuk membentengi Boediono agar jangan sampai pemeriksaan membuat citranya sebagai pimpinan negara terdegradasi," paparnya.

"Ada usaha memagari, termasuk dengan meminta keikhlasan KPK agar pemeriksaan tidak di kantor KPK karena mungkin khawatir mengurangi kredibilitas Boediono," sambung peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) ini.

Menurut survei LSI pada Januari 2010, kasus Bank Century membawa imbas pada kepuasan publik terhadap kinerja Boediono. Indeks kepuasan terhadap Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada itu hanya berada pada angka 50 persen, terpaut 20 persen dengan kepuasan terhadap Presiden SBY yang mencapai 70 persen.

"Ada rentang yang lebar sekali antara kepuasan terhadap Presiden dan Wapres. Dulu, ketika SBY-JK, jaraknya tidak selebar itu. Kasus Bank Century ikut menyumbang turunnya popularitas Boediono," ujar Burhan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau