Hari buruh sedunia

Wah... Demo di Depan Istana Ricuh

Kompas.com - 01/05/2010, 14:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kericuhan terjadi saat unjuk rasa memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day di depan Istana Negara, Sabtu (1/5/2010). Kericuhan berawal saat polisi berpakaian sipil akan mengamankan satu orang di tengah kerumuman pendemo.

Berdasarkan hasil pemantauan Kompas.com, polisi yang memakai kemeja warna hitam merangkul satu pendemo. Namun, beberapa pendemo lain menahan pria yang akan dibawa polisi itu. Polisi lain yang juga berpakaian sipil dengan tanda identitas Bareskrim Polri terkalung di leher datang membantu.

Lalu, terjadilah kericuhan. Beberapa orang melemparkan bambu dan botol minuman ke arah dua polisi itu. Kedua polisi itu lalu memutuskan masuk ke dalam Monas dengan meninggalkan pria yang hendak dibawa. Namun, polisi itu tetap dilempari bambu dari tengah kerumunan.

Ketika dua polisi itu akan melewati pagar Monas, tampak satu pendemo menghampiri dua polisi itu dan menghantamkan bambu yang dibawa. Pria yang menghantam bambu itu lalu ditarik polisi yang berjaga di pagar ke dalam lingkungan Monas dan diamankan.

Polisi sempat menyemprotkan air dari mobil water cannon, hal ini membuat para buruh berang. Mereka menuntut pihak kepolisian untuk meminta maaf. "Dari atas mobil komando ini," teriak seorang orator dari atas mobil.

Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari kepolisian mengenai kericuhan itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau