Setelah genosida

Kredit Mikro Berkembanng di Rwanda

Kompas.com - 03/05/2010, 23:49 WIB

KOMPAS.com - Kredit mikro berkembang pesat. Apalagi di Rwanda. Belanda juga ikut membantu kesuksesan ini, baik diam-diam maupun terang-terangan.

"Banyak, banyak sekali organisasi kredit mikro datang ke Rwanda setelah genosida tahun 1994," kata Aussi Sayinzoga sebagaimana dikutip Radio Nederland, Senin (3/5). Di Universitas Wageningen, Belanda, orang Rwanda ini sekarang tengah meneliti kredit mikro di Rwanda dan Burundi.

"Bagi kami, kredit mikro membuka kesempatan besar," kata Sayinzoga. Enam dari sepuluh juta penduduk Rwanda hidup di bawah garis kemiskinan. "Orang-orang tak bisa meraih bantuan keuangan. Cuma 10 persen orang Rwanda yang punya rekening bank. Di pedesaan bahkan cuma 3 persen. Ini masalah besar."

Wartawan Radio Nederland, Sophie van Leeuwen, melaporkan, negara-negara Barat berbondong-bondong datang ke Rwanda. Setelah reformasi ekonomi dan pertumbuhan ekonomi mencapai rata-rata 6 persen, negara kecil di Afrika tengah ini dianggap sebagai teladan untuk benua Afrika. Dalam waktu singkat berdiri lebih dari 200 organisasi kredit mikro di Rwanda. Tiap tahunnya mereka menerima lebih banyak dana dari negara-negara donor Barat. Dana ini ditujukan untuk pengusaha kecil dan petani. Dari 60 juta orang penerima kredit mikro pada 2007 sampai 80 juta pada 2008.

Peran Belanda, salah satu negara donor pertama setelah genosida, sangat mencolok di Rwanda. Selain dana yang disalurkan lewat Bank Dunia, Uni Eropa dan PBB ke negara-negara berkembang, tiap tahunnya Belanda menyalurkan sekitar 25 juta euro langsung ke Rwanda. Sekitar 9 juta euro mengalir ke sektor swasta, salah satunya ke organisasi-organisasi kredit mikro di Rwanda.

Kesuksesan Afrika
"Rwanda adalah contoh kesuksesan di Afrika," kata Robert Lensink, dosen Ekonomi Pembangunan di Wageningen dan profesor di Universitas Groningen. Belum lama ini, ia memberi kursus kredit mikro kepada karyawan Bank Sentral Rwanda di Kigali. Tujuannya, bagaimana mengatur kredit mikro dalam skala besar?

Robert Lensink sendiri mengaku sangat terkejut ketika pertama kalinya sampai di sana. Semua sepertinya sangat teratur dan terorganisir. Menurutnya ini berkaitan dengan masa lalu Rwanda - perang dan sebagainya. Karena itu, menurutnya, orang Rwanda ingin mengendalikan keadaan.

Walau begitu, Rwanda yang merupakan 'anak emas' internasional ini tetap kontroversial. Akhir tahun 2008 pemerintah Belanda menghentikan bantuan langsung pada anggaran belanja Rwanda, karena alasan politis, yaitu keterkaitan Rwanda pada kekerasan di negara tetangga Kongo.

"Menteri Kerjasama Pembangunan Belanda Bert Koenders patut diacungi jempol," kata Robert Lensink. Dengan langkah itu, pemerintah Belanda menunjukkan tidak akan membantu negara-negara yang tidak demokratis dan tidak menghormati hak-hak asasi manusia.

Belanda dan Rwanda menjalin hubungan aneh, kata Robert Lensink. Sebagian besar bantuan pembangunan ternyata terus jalan saja. Sekarang bantuan itu masuk lewat jalur lain untuk mencapai Rwanda, demikian Lensink. Misalnya proyek pendidikan yang sekarang dilaksanakannya. Pelbagai organisasi kredit mikro juga diuntungkan karenanya.

Sampai saat ini Kementerian Luar Negeri Belanda tetap dengan seksama mewaspadai Rwanda. Pemilu Agustus mendatang ternyata dibarengi penangkapan kalangan oposisi, baik sipil maupun militer. Para pengkritik menyebut pemerintah Kigali bersikap diktatorial dan tidak demokratis.

Sedikit Kontrol
Rwanda yang miskin itu sangat tergantung pada donor. Sekitar 400 juta euro per tahunnya, jadi separuh APBN Rwanda, berasal di negara-negara seperti Belanda, Amerika Serikat, dan Inggris.

Berbagai organisasi kredit mikro menerima puluhan juta euro per tahunnya. Tetapi jumlah yang begitu besar ini ternyata tidak bisa dikontrol, terutama pada awalnya. Banyak lembaga yang buruk pengorganisasiannya. Demikian Aussi Sayinzoga yang meneliti kredit mikro di Rwanda. "Tidak ada kontrol. Bank Sentral Rwanda tidak mencermati apa yang terjadi. Kredit mikro dikacaukan dengan bantuan pembangunan."

Kekacauan ini tidak hanya menyebabkan korupsi pada tingkat lokal, tetapi juga di kalangan pemerintah di Kigali. Sayinzoga ingat, seorang anggota parlemen pernah menerima kredit sampai 48 juta RWF, sekitar 60 ribu euro. Ini jelas bukan kredit mikro, dan anggota parlemen itu juga bukan orang miskin. Pada tahun 2006 delapan LSM ditutup, puluhan orang ditangkap.

Robert Lensink sendiri berpendapat, korupsi terjadi di mana-mana, apalagi pada kredit mikro. Pada tahun-tahun belakangan sektor ini berkembang begitu cepat. Kredit mikro dianggap sebagai jalan keluar berbagai masalah. Uang berdatangan dari segala penjuru, tapi akhirnya kita berurusan dengan orang. Di situlah masalahnnya, seperti yang terlihat di Rwanda.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau