Yunani Tak Memiliki Pilihan

Kompas.com - 07/05/2010, 03:45 WIB

ATHENa, RABU - Pemerintah Yunani berada di antara dua pilihan sulit. Mengetatkan anggaran lalu mendapatkan dana talangan dan mengatasi gejolak di dalam negeri karena pengetatan anggaran tersebut. Sudah tiga orang tewas dalam aksi protes di Yunani.

Menteri Keuangan Yunani George Papaconstantinou mengatakan di parlemen bahwa Yunani hanya berharap menghindari kebangkrutan dengan mengambil dana talangan dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Uni Eropa.

Perdebatan di parlemen semakin hangat setelah tiga orang tewas terbakar dalam aksi protes besar di Yunani. Untuk mendapatkan dana talangan tersebut, Yunani harus memangkas gaji pegawai negeri dan tunjangan pensiun serta menaikkan pajak.

Uni Eropa juga berkepentingan memberikan pinjaman tersebut karena tidak ingin masalah krisis utang di Yunani meluas ke negara-negara Eropa lainnya yang keuangannya juga lemah, seperti Spanyol dan Portugal.

Kurs euro terhadap dollar AS terus melemah menjadi di bawah 1,28 per dollar AS, sementara akhir tahun lalu euro sempat mencapai posisi tertinggi 1,51 per dollar AS.

Pemangkasan tersebut memicu protes di seantero Yunani. Diperkirakan, lebih dari 100.000 orang turun ke jalan-jalan di Athena.

Demonstrasi itu berubah menjadi kekerasan. Seorang lelaki dan dua perempuan, seorang di antaranya sedang mengandung, tewas karena terjebak di sebuah bangunan bank yang dibakar oleh para pemrotes. Petugas pemadam kebakaran menggunakan tangga panjang untuk menyelamatkan empat orang lain dari balkon gedung tersebut.

Menteri Keuangan George Papaconstantinou mengatakan, pemerintah tidak memiliki pilihan selain melakukan langkah penghematan.

Papaconstantinou mengatakan, rancangan undang-undang (RUU) itu diajukan sebagai RUU darurat karena negara itu dua pekan lagi harus membayar utangnya yang jatuh tempo. Pada 19 Mei mendatang, obligasi Yunani senilai 8,5 miliar euro akan jatuh tempo. Jika pada saat itu Yunani tidak dapat membayar obligasinya, Yunani akan dinyatakan gagal bayar.

”Kantong negara sudah kosong, tidak ada uang lagi. Karena sekarang ini, negara kita tidak dapat lagi meminjam dari pasar. Karena itulah, satu-satunya jalan untuk menghindar dari kebangkrutan adalah penghentian sementara gaji para pegawai negeri agar kita mendapatkan dana talangan dari IMF dan mitra kita di Uni Eropa,” katanya.

Semakin ketat

Sementara itu, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel menyerukan pengawasan yang lebih ketat atas anggaran di 16 negara zona euro. Demikian pernyataan bersama yang dikeluarkan hari Kamis (6/5).

Pada pertemuan tingkat tinggi hari Jumat ini, para pemimpin Eropa harus menyepakati untuk meningkatkan pengawasan dan sanksi lebih keras lagi untuk negara yang gagal mempertahankan defisit mereka.

Zona euro juga harus membuat kerangka agar dapat mengatasi krisis supaya penalangan sebesar 110 miliar euro untuk Yunani tidak terjadi lagi.

Mereka juga menambahkan, ”Demi persatuan ekonomi dan moneter yang tetap sukses dalam sejarah, mengatasi krisis seorang diri tidak akan berhasil,” demikian surat yang ditulis para pemimpin Eropa kepada Presiden Uni Eropa Herman van Rompuy dan Ketua Komisi Eropa Jose Manuel Barroso.

Walaupun sudah ada langkah baik dari Yunani maupun Uni Eropa dalam mengatasi krisis utang ini, para pelaku pasar masih diliputi kekhawatiran krisis utang di Yunani akan meluas di Benua Eropa. Perusahaan pemeringkat Moody’s Investor Service memperingatkan, krisis itu dapat memukul perbankan di negara yang lemah.

Spanyol menyatakan bahwa biaya utangnya naik pada pelelangan utang dan pelaku pasar tengah menantikan apakah ada bantuan lagi dari Bank Sentral Eropa.

Moody’s Investor Service menyatakan, sistem perbankan di Portugal, Italia, Spanyol, Irlandia, dan Inggris dapat terpengaruh karena krisis yang semakin dalam.

Dengan biaya kredit Spanyol yang semakin meningkat dalam penerbitan obligasi terbarunya, jelaslah bahwa masih ada ketakutan di pasar karena investor menginginkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi lagi seiring dengan semakin tingginya risiko di Spanyol.

(AP/AFP/Reuters/joe)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau