Jabatan menteri keuangan

Anas: Menkeu Jangan dari Parpol

Kompas.com - 08/05/2010, 12:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hampir semua sepakat bahwa pengganti Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan harus segera ditentukan. Namun, tak semua sepakat sosok yang cocok haruslah berasal dari kalangan profesional atau partai politik.

Ketua Fraksi Demokrat Anas Urbaningrum menyarankan agar SBY memilih sosok yang bukan berasal dari kalangan partai politik.

"Kami cenderung menyarankan agar (menkeu) bukan dari kalangan parpol tapi dari non-partai. (Sosok yang) profesional, punya kompetensi, jujur, lurus, tapi bisa melakukan komunikasi politik dengan partai-partai," ungkapnya dalam diskusi mingguan, Polemik, Sabtu (8/5/2010).

Menurut Anas, bukan dari parpol tidak serta merta berarti sosok ini tak ahli dalam berkomunikasi politik. Dia yakin ada sosok pengganti Menkeu yang mampu menjalankan fungsi komunikasi politik dengan baik. Namun, siapa orangnya, Anas mengatakan itu adalah hak prerogatif Presiden SBY. Hal senada juga dilontarkan oleh kalangan usaha.

Ketua Masyarakat Profesional Madani Ismet Hasan Putro menyatakan, kalangan dunia usaha tidak menghendaki pengganti Menkeu berasal dari partai politik. "Kalau boleh, suarakan pelaku pasar yang sangat peka dengan IHSG dan nilai tukar rupiah. Figur itu tak boleh menjadi alat perpanjangan tangan parpol atau bandar parpol," tuturnya.

Jika kekhawatiran itu terjadi, maka menkeu akan mudah kehilangan otoritas dan kredibilitasnya. Namun, Ismet yakin bahwa SBY akan memilih sosok yang teduh dan minim pro-kontra serta tidak menjadi alat representasi parpol.

Berbeda dengan keduanya, pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia, Burhanuddin Mutahdi, mengatakan tak perlu muncul dikotomi antara kubu parpol dan non-parpol. Pasalnya, ada sosok yang walaupun berasal dari partai, dia tetaplah profesional.

"Yang jadi persoalan apakah kalangan profesional itu jadi kuda troya kepentingan politik tertentu atau tidak? Kalau mampu ambil jarak, menurut saya, kalangan itulah yang harus dinominasikan. Tapi kalau kalangan profesional yang jadi kandidat kuat justru rentan menjadi titipan, itu juga akan membuat sulit Kemenkeu ke depan," ungkapnya.
 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau