JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah spekulasi mengenai siapa pejabat baru yang bakal menduduki jabatan menteri keuangan langsung bermunculan selepas pengunduran diri Sri Mulyani.
Nama-nama yang santer beredar di antaranya Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan sejak tahun 2004 Anggito Abimanyu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Darmin Nasution, Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo, dan pengamat ekonomi, Iwan Jaya Aziz.
Namun, Kompas kini mendapatkan penegasan mengenai pertimbangan Presiden tentang keterwakilan perempuan di dalam kabinet. Berdasarkan informasi dari sebuah sumber di lingkungan Istana, Presiden menaruh perhatian yang besar menyangkut komposisi keterwakilan perempuan.
Menyusul pertimbangan itu, munculnya nama Armida Salsiah Alisjahbana, yang tak lain adalah Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas, seolah mendapat penguatan. "Nama itu juga sedang ditimbang-timbang oleh Presiden, di samping nama-nama yang kini sudah santer beredar. Presiden sangat concern soal keterwakilan perempuan," kata sumber itu.
Selama duduk di kabinet sejak 22 Oktober 2009, nama Armida terbilang jauh dari sorotan media, terlebih jika dibandingkan dengan koleganya, Sri Mulyani. Apa latar belakang Armida sehingga namanya pun dilirik Presiden untuk menduduki jabatan krusial tersebut?
Wanita kelahiran Bandung, Jawa Barat, 16 Agustus 1960, itu meraih gelar sarjananya dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 1985. Setelah itu, ia mendapatkan gelar Master of Arts in Economics Northwestern University, Evanston, Illinois, USA (1987). Tahun 1994, ia meraih gelar Doctor of Philosophy in Economics University of Washington, Seattle, Washington, AS.
Meskipun demikian, Armida yang terakhir dimintai keterangan pada Jumat pekan lalu mengaku belum mengetahui kabar ini. "Wah, saya belum terima berita. Mesti up date dulu, nih," katanya singkat.
Benarkah Armida yang akan menjadi srikandi baru dan memimpin Kementerian Keuangan? Lagi-lagi hanya Presiden yang tahu....
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang