SURABAYA, KOMPAS.com - Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengaku malu jika daerahnya hanya bisa mengirimkan pembantu rumah tangga atau babu ke luar negeri.
"Harus ada perubahan paradigma dalam mengirimkan TKI ke luar negeri. Itu sedang kami lakukan dengan mengurangi jumlah pengiriman PRT ke luar negeri," katanya saat ditemui di gedung DPRD Jatim, Jalan Indrapura, Surabaya, Senin (20/5/2010).
Ia menjelaskan, pihaknya sudah memerintahkan seluruh Balai Latihan Kerja (BLK) di Jawa Timur untuk meningkatkan pelatihan-pelatihan tenaga terdidik bagi calon TKI. Peran sekolah menengah kejuruan (SMK) juga akan ditingkatkan.
"Beberapa negara minta ribuan tenaga terdidik, tetapi kami belum mampu memenuhinya," katanya usai mengikuti sidang paripurna DPRD Jatim itu. Gubernur menyebutkan beberapa negara yang meminta tenaga terdidik itu, di antaranya Tunisia, Yordania, Maroko, Amerika Serikat, dan Australia.
"Kami sudah menargetkan mulai 2013 pengiriman TKI difokuskan pada tenaga terdidik. Kami tidak akan menggantungkan perolehan devisa pada PRT lagi," katanya.
Sementara, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan Jatim Gentur Sanjoyo Prihantono mengaku telah mengkaji ulang aturan pengiriman TKI, di samping meningkatkan kualitas SDM TKI.
Lembaganya juga telah merekomendasi kepada Kemenakertrans mengenai kejelasan regulasi sistem pelayanan keberangkatan dan kedatangan TKI, jaminan gaji, dan asuransi perlindungan.
"Usulan itu telah kami sampaikan ke Menakertrans dan sekarang masih dipelajari," kata Gentur yang beberapa waktu lalu ikut rombongan Menakertrnas ke Timur Tengah.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.