Pasar modal

Krisis Yunani Ditalangi, IHSG Meningkat Pesat

Kompas.com - 11/05/2010, 04:42 WIB

Jakarta, Kompas - Setelah merosot tajam selama lima hari berturut-turut pada pekan lalu, indeks harga saham dalam negeri mengawali pekan ini dengan kenaikan yang spektakuler.

Peningkatan ini seiring dengan penguatan bursa regional dan Eropa menyusul keluarnya komitmen IMF dan Uni Eropa untuk menyediakan dana talangan sebesar hampir 1 triliun dollar AS untuk mengatasi krisis keuangan di Yunani.

Pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Senin (10/5), Indeks Harga Saham Gabungan melambung hingga 111 poin atau 4,05 persen menjadi 2.850. Peningkatan yang lebih tinggi terjadi pada Indeks LQ-45 yang naik 4,57 persen ke level 549 dan Indeks Kompas100 yang menguat 4,38 persen menjadi 685.

Penguatan ketiga indeks harga saham utama di BEI ini merupakan penguatan tertinggi dalam sehari sepanjang 2010.

Adapun nilai tukar rupiah menguat dari Rp 9.293 pada Jumat lalu menjadi Rp 9.120.

Pekan lalu, selama lima hari berturut-turut, indeks harga saham merosot dengan total penurunan 232 poin atau 7,8 persen.

Hal ini terutama dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap penyelesaian krisis keuangan di Yunani serta sejumlah negara lainnya di Eropa, seperti Spanyol dan Portugal.

Kekhawatiran itu diperparah dengan pengunduran diri Sri Mulyani sebagai menteri keuangan 5 Mei lalu.

Pada perdagangan, setelah dibuka, indeks saham di BEI langsung menguat. Demikian pula dengan indeks di seluruh bursa regional.

Di sesi kedua, indeks saham di BEI menguat lebih tajam lagi. Hal ini dipengaruhi lonjakan indeks saham pada pembukaan perdagangan di semua bursa di Eropa, yaitu dengan kenaikan rata-rata di atas 5 persen.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Analis Efek Indonesia Pardomuan Sihombing mengatakan, komitmen IMF dan Uni Eropa untuk menalangi krisis keuangan di Yunani menjadi angin segar bagi pasar modal global.

Namun, optimisme investor sebaiknya tidak berlebihan dengan melakukan pembelian saham secara membabi buta.

Menurut Pardomuan, sekalipun telah ada komitmen dari IMF dan Uni Eropa, penyelesaian krisis keuangan Yunani masih akan membutuhkan waktu lama dan tergolong krisis yang tidak mudah untuk diselesaikan.

Hal itu, antara lain, tampak dari besarnya dana yang dicadangkan untuk menangani krisis tersebut.

”Sebelumnya dana yang dibutuhkan hanya 144 miliar dollar AS. Kenapa sekarang bisa jadi hampir 1 triliun dollar AS. Ini menunjukkan bahwa krisis di Eropa jauh lebih berat dari yang diperkirakan sebelumnya,” kata Pardomuan.

Fenomena lainnya yang perlu dianalisis, lanjut Pardomuan, adalah sampai kemarin investor asing di BEI masih terus melakukan penjualan bersih, yaitu sebesar Rp 126,5 miliar.

Ini mengindikasikan bahwa investor asing masih terus mengurangi portofolionya dalam bentuk saham, terutama saham-saham di pasar modal negara berkembang.

”Yang penting investor tetap mewaspadai dan mengikuti realisasi penyelesaian krisis di Eropa. Jangan overconfidence melihat indeks yang meningkat pesat,” tambah Pardomuan.

Sebelumnya, Kepala Riset PT Recapital Securities Poltak Hotradero mengatakan, sejak awal, krisis keuangan di Yunani akan melebar. (REI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau