Jakarta, Kompas
Peningkatan ini seiring dengan penguatan bursa regional dan Eropa menyusul keluarnya komitmen IMF dan Uni Eropa untuk menyediakan dana talangan sebesar hampir 1 triliun dollar AS untuk mengatasi krisis keuangan di Yunani.
Pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Senin (10/5), Indeks Harga Saham Gabungan melambung hingga 111 poin atau 4,05 persen menjadi 2.850. Peningkatan yang lebih tinggi terjadi pada Indeks LQ-45 yang naik 4,57 persen ke level 549 dan Indeks Kompas100 yang menguat 4,38 persen menjadi 685.
Penguatan ketiga indeks harga saham utama di BEI ini merupakan penguatan tertinggi dalam sehari sepanjang 2010.
Adapun nilai tukar rupiah menguat dari Rp 9.293 pada Jumat lalu menjadi Rp 9.120.
Pekan lalu, selama lima hari berturut-turut, indeks harga saham merosot dengan total penurunan 232 poin atau 7,8 persen.
Hal ini terutama dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap penyelesaian krisis keuangan di Yunani serta sejumlah negara lainnya di Eropa, seperti Spanyol dan Portugal.
Kekhawatiran itu diperparah dengan pengunduran diri Sri Mulyani sebagai menteri keuangan 5 Mei lalu.
Pada perdagangan, setelah dibuka, indeks saham di BEI langsung menguat. Demikian pula dengan indeks di seluruh bursa regional.
Di sesi kedua, indeks saham di BEI menguat lebih tajam lagi. Hal ini dipengaruhi lonjakan indeks saham pada pembukaan perdagangan di semua bursa di Eropa, yaitu dengan kenaikan rata-rata di atas 5 persen.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Analis Efek Indonesia Pardomuan Sihombing mengatakan, komitmen IMF dan Uni Eropa untuk menalangi krisis keuangan di Yunani menjadi angin segar bagi pasar modal global.
Namun, optimisme investor sebaiknya tidak berlebihan dengan melakukan pembelian saham secara membabi buta.
Menurut Pardomuan, sekalipun telah ada komitmen dari IMF dan Uni Eropa, penyelesaian krisis keuangan Yunani masih akan membutuhkan waktu lama dan tergolong krisis yang tidak mudah untuk diselesaikan.
Hal itu, antara lain, tampak dari besarnya dana yang dicadangkan untuk menangani krisis tersebut.
”Sebelumnya dana yang dibutuhkan hanya 144 miliar dollar AS. Kenapa sekarang bisa jadi hampir 1 triliun dollar AS. Ini menunjukkan bahwa krisis di Eropa jauh lebih berat dari yang diperkirakan sebelumnya,” kata Pardomuan.
Fenomena lainnya yang perlu dianalisis, lanjut Pardomuan, adalah sampai kemarin investor asing di BEI masih terus melakukan penjualan bersih, yaitu sebesar Rp 126,5 miliar.
Ini mengindikasikan bahwa investor asing masih terus mengurangi portofolionya dalam bentuk saham, terutama saham-saham di pasar modal negara berkembang.
”Yang penting investor tetap mewaspadai dan mengikuti realisasi penyelesaian krisis di Eropa. Jangan overconfidence melihat indeks yang meningkat pesat,” tambah Pardomuan.
Sebelumnya, Kepala Riset PT Recapital Securities Poltak Hotradero mengatakan, sejak awal, krisis keuangan di Yunani akan melebar.