Hiv/aids di mimika

Seks Berisiko Tinggi Usia 20-29 Tahun

Kompas.com - 14/05/2010, 18:25 WIB

TIMIKA, KOMPAS.com - Hingga akhir Maret jumlah kasus HIV/AIDS di Mimika mencapai 2.303 kasus, terdiri atas HIV sebanyak 1.753 kasus dan AIDS sebanyak 550 kasus.

Dalam laporan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Mimika di Timika, Jumat (14/5/2010) selama periode Januari-Maret 2010 disebutkan terjadi penambahan 123 kasus baru yaitu HIV sebanyak 90 kasus dan AIDS 33 kasus.

Temuan kasus baru tersebut berdasarkan laporan sejumlah unit layanan voluntary conseling test (VCT) yaitu terbanyak dari RSMM Timika dan RS Tembagapura, selanjutnya Klinik Reproduksi Malcon PT Freeport, Puskesmas Timika Jaya dan Kwamki Lama serta RSUD Mimika.

Sekretaris KPA Mimika, Reynold Ubra mengatakan pola penularan kasus HIV di Mimika seluruhnya melalui media hubungan seksual dengan kelompok berisiko.

"Laki-laki yang terinfeksi kebanyakan merupakan pelanggan Pekerja Seks Komersial (PSK) dan kelompok usia produktif 20-29 tahun paling rentan tertular HIV," jelas Reynold.

Menurut Reynold, temuan infeksi baru HIV hampir 80 persen dibanding temuan kasus AIDS. Hal itu menandakan perilaku risiko tertular masih tetap tinggi.

"Rata-rata temuan kasus HIV/AIDS per triwulan di Mimika mencapai 90 hingga 130 kasus baru," jelasnya.

Guna menekan laju kasus HIV/AIDS di Mimika, KPA setempat akan memasang 72 dispenser kondom pada 15 lokasi baik pada unit pelayanan kesehatan milik pemerintah maupun klinik swasta di kota Timika.

Dengan semakin banyaknya tersedia dispenser kondom, maka warga setempat lebih mudah mengakses kondom yang dianggap sebagai salah satu alat pencegahan penularan virus HIV saat berhubungan intim.

Selain itu, sejak tahun ajaran mendatang kurikulum HIV/AIDS akan menjadi kurikulum yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah setempat mulai tingkat SD hingga SMA.

Saat ini tim dari Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah Mimika bersama KPA Mimika sedang menyusun kurikulum HIV/AIDS tersebut.

Sementara itu pada Jumat siang berlangsung workshop penanggulangan HIV/AIDS di Mimika yang diikuti para pekerja pers dan kelompok kunci seperti PSK dan relawan AIDS di Mimika.

Kabid Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Mimika, Saiful Taqin mengatakan kegiatan tersebut dilakukan untuk menyatukan pemahaman pekerja pers dengan populasi kunci dalam menekan laju kasus HIV/AIDS di Mimika.

Menurut Taqin, pemberitaan media massa yang tidak akurat, diskriminatif justru memberikan stigma buruk bagi para PSK, terutama mereka yang terinfeksi.

"Media massa memegang peranan penting dalam mengubah pandangan masyarakat terhadap kasus ini maupun terhadap ODHA melalui pemberitaan yang tidak menakutkan," harapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau