Dr Samsuridjal Djauzi
Istri saya hamil tujuh bulan. Kami sudah lama mempersiapkan kehamilan ini. Maklumlah kami sudah tiga tahun menikah dan istri saya sekarang sudah berumur 30 tahun. Kakak saya menganjurkan agar kami ikut dalam program penyimpanan sel punca tali pusat seperti yang telah dilakukannya. Melalui program ini nantinya sel punca tali pusat bayi saya akan disimpan sehingga jika diperlukan untuk terapi sel punca tersebut telah tersedia.
Untuk penyimpanan ini kami harus membayar sejumlah biaya, baik untuk proses penyimpanan maupun biaya penyimpanan setiap tahun. Kami memerlukan informasi yang lebih rinci mengenai bank sel punca ini.
Sudah sejauh mana pemanfaatan sel punca untuk terapi berbagai penyakit di Indonesia dewasa ini. Benarkan kita sudah mampu memanfaatkan sel punca untuk terapi kanker, diabetes melitus, atau stroke? Apakah untuk pemanfaatan nanti masih dibutuhkan biaya lagi?
Saya menjadi ragu atas program ini karena dokter spesialis kebidanan menyatakan bahwa terapi sel punca masih merupakan penelitian belum menjadi terapi yang telah dapat dilaksanakan secara luas. Jika program penyimpanan sel punca ini baik, kenapa pemerintah tidak membuat bank sel punca untuk masyarakat seperti halnya bank darah. Bukankah dengan demikian masyarakat luas akan dapat ikut serta dan biayanya menjadi murah? Terima kasih.
M di J
Terapi sel punca memang merupakan harapan di masa depan. Terapi ini mempunyai potensi yang luas untuk digunakan mengatasi penyakit yang selama ini pengobatannya belum ada atau belum memberikan hasil yang baik. Karena itulah, kalangan kedokteran di Indonesia bahkan juga Kementerian Kesehatan berusaha untuk mengembangkan penelitian dan pelayanan sel punca di Indonesia.
Harapan terhadap terapi sel punca ini juga harus didasari oleh penelitian yang telah dilakukan. Terapi sel punca di dunia dewasa ini memang masih merupakan penelitian berupa uji klinik. Terapi yang sudah dinyatakan merupakan layanan barulah terapi sel punca pada penyakit kelainan darah seperti kanker darah, misalnya leukemia dan limfoma. Terapi sel punca untuk penyakit lain masih menunggu hasil uji klinik.
Terapi sel punca untuk terapi infark jantung akut misalnya di seluruh dunia telah dilakukan pada lebih dari 1.000 orang dan hasil penelitian yang dipublikasikan menunjukkan bahwa terapi ini bermanfaat dan aman. Di FKUI/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo terapi ini telah dilakukan pada lebih dari 20 orang dan hasilnya juga baik. Di FKUI/RSCM juga sedang disiapkan uji klinik terapi sel punca pada kaki penderita diabetes, sendi, dan stroke. Jadi kita harus bersabar untuk menanti hasil penelitian untuk menilai hasil terapi sel punca ini.
Bank sel punca menyediakan sel punca dan pada penggunaan sel punca untuk terapi diperlukan biaya lagi. Biaya untuk terapi sel punca pada leukemia amat mahal dan sepengetahuan saya belum termasuk dalam biaya penyimpanan. Perlukah dibangun bank sel punca di negeri kita? Memang di seluruh dunia kecenderungan untuk mendirikan bank sel punca meningkat.
Ada dua bentuk bank sel punca, yaitu bank sel punca publik dan bank sel punca swasta. Pada bank sel punca swasta peserta menyimpan sel punca tali pusatnya di bank tersebut dan jika sewaktu-waktu diperlukan, sel punca tersebut dapat dimanfaatkan untuk terapi. Untuk itu, diperlukan biaya untuk memproses darah untuk disimpan dan karena penyimpanannya dalam tabung nitrogen, juga diperlukan biaya untuk menjamin agar sel punca tersebut tetap baik sebelum digunakan. Biayanya relatif mahal. Banyak peserta yang bertanya berapa risiko anak saya akan memerlukannya.
Pertanyaan ini tak mudah dijawab karena di masa depan terapi sel punca tentu akan berkembang. Namun jika yang dipakai sebagai ukuran adalah terapi sel punca yang sekarang, maka indikasi utama hanyalah pada penyakit darah. Kalau dihitung risiko seseorang terkena leukemia sejak bayi sampai tua (usia 70 tahun) menurut pakar risikonya kurang daripada 1 persen. Sudah tentu meski risikonya kecil, tetap masih banyak orang yang merasa perlu menyimpan sel punca anaknya untuk persiapan terapi jika itu terjadi.
Di negeri kita baru ada bank sel punca swasta. Pada bank sel punca publik peserta tidak perlu membayar untuk ikut serta dan juga tak membayar untuk penyimpanan. Mereka baru membayar jika akan menggunakannya. Jadi hampir serupa memang dengan bank darah namun tentu lebih mahal. Di Belanda, misalnya, keterlibatan Palang Merah dalam bank sel punca publik amat dominan karena Palang Merah mempunyai pengalaman lama dalam penyimpanan darah.
Jika tersedia bank sel punca publik, baik sel punca tali pusat maupun sel punca dewasa, maka sel punca dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat. Ini berarti tidak hanya yang punya sel punca yang dapat menggunakannya, tetapi juga orang lain yang memerlukan. Pemberian sel punca seseorang kepada orang lain ini disebut alogenik.
Pada penggunaan sel punca harus dijamin sel punca yang akan digunakan untuk terapi diproses dengan baik sehingga aman digunakan untuk terapi. Untuk itu, fasilitas
Penyaringan pada penggunaan sel punca alogenik memang lebih rumit agar penerima sel punca dapat terhindar dari risiko penularan penyakit dari orang lain dan juga sel punca tersebut dapat diterima tubuhnya dengan baik. Jadi dari segi kepentingan masyarakat memang bank sel punca publik lebih efisien dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Mungkin sudah waktunya kita mempertimbangkan untuk membangun bank sel punca publik. Kalangan kedokteran kita mempunyai kemampuan untuk itu. Untuk tahap permulaan memang diperlukan modal yang cukup besar. Program ini hendaknya merupakan program nasional. Kita bergembira Palang Merah Indonesia saat ini sedang bersemangat untuk meningkatkan persediaan darah dan mendorong produksi nasional labu darah. Kita berharap Palang Merah Indonesia seperti juga di Belanda akan mendorong berdirinya bank sel punca publik di negeri kita.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang