Partai demokrat

Majelis Tinggi Legalkan Otoritas SBY

Kompas.com - 17/05/2010, 10:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Wacana pembentukan majelis tinggi Partai Demokrat pada Kongres II pada 21-23 Mei mendatang di Bandung dinilai sebagai upaya Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono melegalkan kewenangannya. Majelis ini terdiri dari sembilan orang, termasuk ketua umum, ketua dewan kehormatan, ketua dewan pembina, dan lainnya.

Majelis yang dipimpin ketua dewan pembina ini pada nantinya mampu membatalkan hasil keputusan rapat DPP, serta memberikan masukan soal calon presiden-calon wakil presiden. "Hal ini secara tidak langsung melegalkan kewenangan yang selama ini diam-diam dilakukan SBY. Pembentukan majelis tinggi secara otomatis memformalkan otoritas SBY. Padahal, berdasarkan AD/ART, ketua dewan pembina hanya bisa memberikan arahan. Tapi pada realitasnya, sosok SBY begitu dominan," ujar pengamat politik Burhanuddin Muhtadi, Senin (17/5/2010) kepada Kompas.com.

Usulan pembentukan majelis tinggi partai juga, kata pengamat lulusan Australian National University ini, mencerminkan Demokrat belum mampu menentukan kebijakannya secara kolegial. Padahal, Demokrat harus mampu membuat keputusan yang didasarkan pada aspirasi seluruh pengurus dan kader.

"Seharusnya, tidak ada majelis superbodi yang membuat aspirasi pengurus dari atas ke bawah tidak bisa disuarakan secara optimal. Majelis tinggi bisa-bisa menjadi veto player yang mampu memutuskan kebijakan seolah-olah organisasi menjadi milik sekelompok elit saja," ujarnya.

Sementara itu, secara terpisah, Ketua Umum Demokrat Hadi Utomo mengatakan, majelis tinggi partai pada nantinya merupakan semacam think-thank partai. Majelis ini pada nantinya dapat menentukan arah koalisi, serta menentukan bakal capres dan cawapres. Kendati demikian, keputusan tertinggi di partai pemenang pemilu 2009 itu tetap berada pada Kongres. "Hal ini sesuai dengan UU Parpol bahwa keputusan tertinggi partai berada para pertemuan tinggi organsisasi tersebut," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau