MOGADISHU, KOMPAS.com - Ketua parlemen Somalia mengundurkan diri, Senin (17/5), sementara presiden menyatakan akan mengangkat seorang perdana menteri baru.
Para analis menyebut perkembangan itu sebagai kompromi untuk membuka jalan bagi pemerintahan yang lebih stabil di negara Tanduk Afrika tersebut. Pada pertemuan pertama sejak Desember, Minggu, parlemen Somalia dengan suara mayoritas mendongkel Perdana Menteri Omar Abdirashid Sharmarke dan pemerintahnya yang didukung Barat. Sejumlah anggota juga memberikan suara untuk mencopot ketua parlemen Sheikh Aden Madobe.
Analis mengatakan, langkah Presiden Sheikh Sharif Ahmed itu mungkin diputuskan dalam kompromi dengan ketua parlemen dan perdana menteri demi menyelamatkan pemerintah dari pembubaran total dan presiden mungkin akan mengangkat lagi Sharmarke. "Itu adalah satu bentuk kompromi untuk menyelamatkan pemerintah dari keruntuhan total," kata Rashid Abdi, seorang pengamat Somalia pada Kelompok Krisis Internasional.
"Mungkin presiden akan mengangkat lagi perdana menteri yang sekarang, selama tidak ada perselisihan diantara mereka," tambahnya.
Kerja parlemen lumpuh tahun ini dan banyak anggotanya tinggal di Kenya, Eropa dan Amerika karena kekhawatiran keamanan. Parlemen juga terpecah menyangkut jangka waktu tugas ketua dan kompetensinya.
Sementara itu, penduduk desa di Somalia mengatakan, sejumlah pasukan Ethiopia dengan kendaraan-kendaran lapis baja menyeberang masuk ke kota perbatasan El Barde di daerah tengah selatan Bakool. "Pasukan Ethiopia yang bersenjata berat dengan kereta-kereta perang tiba di kota itu pada Senin sore. Tidak ada konfrontasi dan gerilyawan Al-Shabaab meninggalkan kota itu sebelum orang Ethiopia datang," kata Ali Nur, seorang warga El Barde, kepada Reuters.
Minggu (16/5), ketika parlemen melakukan pertemuan untuk pertama kali sejak Desember, gerilyawan Al-Shabaab menembakkan mortir ke gedung parlemen, yang menyulut pemboman balasan dari pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika. Sebuah kelompok hak asasi manusia menyebut jumlah korban tewas 24, sementara pertempuran mortir terus berlangsung setelah pertemuan parlemen berakhir.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang