Presiden Somalia Angkat PM Baru

Kompas.com - 18/05/2010, 02:13 WIB

MOGADISHU, KOMPAS.com - Ketua parlemen Somalia mengundurkan diri, Senin (17/5), sementara presiden menyatakan akan mengangkat seorang perdana menteri baru.

Para analis menyebut perkembangan itu sebagai kompromi untuk membuka jalan bagi pemerintahan yang lebih stabil di negara Tanduk Afrika tersebut. Pada pertemuan pertama sejak Desember, Minggu, parlemen Somalia dengan suara mayoritas mendongkel Perdana Menteri Omar Abdirashid Sharmarke dan pemerintahnya yang didukung Barat. Sejumlah anggota juga memberikan suara untuk mencopot ketua parlemen Sheikh Aden Madobe.

Analis mengatakan, langkah Presiden Sheikh Sharif Ahmed itu mungkin diputuskan dalam kompromi dengan ketua parlemen dan perdana menteri demi menyelamatkan pemerintah dari pembubaran total dan presiden mungkin akan mengangkat lagi Sharmarke. "Itu adalah satu bentuk kompromi untuk menyelamatkan pemerintah dari keruntuhan total," kata Rashid Abdi, seorang pengamat Somalia pada Kelompok Krisis Internasional.

"Mungkin presiden akan mengangkat lagi perdana menteri yang sekarang, selama tidak ada perselisihan diantara mereka," tambahnya.

Kerja parlemen lumpuh tahun ini dan banyak anggotanya tinggal di Kenya, Eropa dan Amerika karena kekhawatiran keamanan. Parlemen juga terpecah menyangkut jangka waktu tugas ketua dan kompetensinya.

Sementara itu, penduduk desa di Somalia mengatakan, sejumlah pasukan Ethiopia dengan kendaraan-kendaran lapis baja menyeberang masuk ke kota perbatasan El Barde di daerah tengah selatan Bakool. "Pasukan Ethiopia yang bersenjata berat dengan kereta-kereta perang tiba di kota itu pada Senin sore. Tidak ada konfrontasi dan gerilyawan Al-Shabaab meninggalkan kota itu sebelum orang Ethiopia datang," kata Ali Nur, seorang warga El Barde, kepada Reuters.

Minggu (16/5), ketika parlemen melakukan pertemuan untuk pertama kali sejak Desember, gerilyawan Al-Shabaab menembakkan mortir ke gedung parlemen, yang menyulut pemboman balasan dari pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika. Sebuah kelompok hak asasi manusia menyebut jumlah korban tewas 24, sementara pertempuran mortir terus berlangsung setelah pertemuan parlemen berakhir.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau