Pilkada kediri

Istri Tua Menang, Bupati SMS Istri Muda

Kompas.com - 18/05/2010, 11:46 WIB

KEDIRI, KOMPAS.com — Pertarungan Hj Nurlaila dengan dr Hj Haryanti, dua istri bupati yang sama-sama maju pada Pilkada Kabupaten Kediri, berakhir bahagia (happy ending) kendati salah satu harus dikalahkan.

Haryanti adalah istri pertama Bupati Kediri saat ini, Ir Sutrisno MM, sedangkan Nurlaila merupakan istri kedua.

Dari hasil rekapitulasi penghitungan suara yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Kediri, Senin (17/5/2010), pasangan Haryanti-Masykuri (disingkat Harmas) meraih suara terbanyak dalam pilkada itu dan bakal ditetapkan menjadi pemenangnya. Dengan begitu, Haryanti akan menggantikan suaminya, Sutrisno, sebagai Bupati Kediri.

Pilkada Kabupaten Kediri yang berlangsung 12 Mei lalu diikuti oleh tiga pasangan. Berdasarkan hasil akhir rekap penghitungan suara kemarin, pasangan Harmas yang diusung oleh PDI-P, Partai Golkar, PPP, dan Hanura mendapatkan perolehan suara sebanyak 391.079 atau 54,58 persen.

Sedangkan Hj Nurlaila yang berpasangan dengan Turmudi Abror (disingkat Nata) yang dicalonkan koalisi PAN, Gerindra, serta tujuh parpol nonparlemen, hanya mendapatkan 60.005 suara (8,37 persen), dan berada di urutan ketiga. Urutan kedua ditempati pasangan Ir Sunardi-Sulaiman Lubis (Susu) yang mendapatkan 265.401 suara atau 37,04 persen.

Meski kalah telak dari Haryanti, Nurlaila mengaku legawa menerima kenyataan. Terlebih setelah Bupati Kediri Sutrisno menghiburnya dengan beberapa kali mengirim pesan singkat atau SMS setelah pelaksanaan pencoblosan yang berlangsung 12 Mei lalu.

Nurlaila enggan mengungkapkan seluruh isi SMS yang dikirim suaminya tersebut. Namun, salah satunya mengingatkannya untuk tidak lupa mengonsumsi tablet vitamin. Maklum, menjelang pilkada, aktivitas Nurlaila menjadi sangat padat dan supersibuk. Bupati tampaknya tak ingin istri keduanya itu mengabaikan kondisi kesehatannya di tengah tumpukan kegiatannya.

“Seperti biasa, Bapak tak pernah membicarakan soal pilkada. Kalau SMS ke saya, ya isinya terkait saling mengingatkan, misalnya, apakah sudah minum vitamin. Yang lain-lain ya enggak usah saya ceritakan isinya,” ungkap Nurlaila, yang juga Kepala Desa Wates tiga periode.

Diakui Nurlaila, meski cukup pahit, dia dapat menerima bahwa mayoritas masyarakat Kabupaten Kediri lebih menghendaki Haryanti yang bakal menjadi Bupati Kediri periode 2010-2015.

“Saya legawa saja, ternyata itulah pilihan masyarakat,” tambahnya.

Kendati telah mengetahui hasil pilkada memenangkan Haryanti, Nurlaila sejauh ini masih belum menyampaikan ucapan selamat kepada pemenang yang mantan rival beratnya tersebut.

Saat rekapitulasi penghitungan suara dilakukan kemarin, Nurlaila bersama keluarganya sedang berlibur dan mengunjungi sejumlah kerabatnya di Kota Malang. “Ucapan selamat (untuk Haryanti) nanti setelah dilantik saja,” ungkapnya. (nDim)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau