LUMAJANG, KOMPAS.com — Bak film laga, para polisi Lumajang, Jawa Timur, terlibat baku tembak dengan kawanan perampok 3 kg emas. Pemenangnya polisi, pecundangnya kawanan perampok.
Peristiwa yang menggegerkan warga Lumajang itu bermula dari aksi enam perampok bersenjata api yang menjarah 3 kilogram perhiasan dari Toko Emas Semar di Pasar Kunir stan nomor 5, Kecamatan Kunir.
Setelah beberapa kali melepaskan tembakan ke udara untuk menggertak penjaga toko, pembeli, dan warga sekitar, dengan tiga sepeda motor mereka kemudian kabur. Mereka juga membopong 3 kg emas yang dimasukkan dalam dua karung atau kantong tepung terigu.
Namun, karena cepatnya laporan korban, aparat Polres Lumajang dan Polsek Kunir segera menerjunkan timnya untuk memburu di sejumlah titik yang diduga menjadi arah kaburnya para pelaku.
Pada titik 20 km dari tempat kejadian perkara (TKP), tepatnya di Desa Rejopolo, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang, polisi berhasil memergoki mereka. Kejar-kejaran pun terjadi.
Dengan tetap membopong dua karung emas itu, mereka tak mau menyerah kepada petugas.
Namun, polisi berhasil melumpuhkan sebagian dari mereka. Dua perampok ditembak mati, seorang tertangkap, sedangkan tiga lainnya berhasil meloloskan diri.
Dari penyergapan pada Rabu (19/5/2010) siang itu, polisi berhasil mengamankan satu kantong yang berisi sekitar 2 kg emas. Sedangkan perhiasan di kantong lainnya seberat 1 kg berhasil dibopong pelaku lainnya pada saat mereka menggeber laju sepeda motornya.
Dua perampok yang ditembak mati adalah Mogib (36) dan Sueb (39), warga Tanggul, Jember. Tubuh keduanya diberondong peluru oleh petugas. Sueb tewas di lokasi, sedangkan Mugib mengembuskan napas terakhirnya saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
Terbunuhnya bandit yang sudah dikenal di Lumajang dan Jember itu menjadi tontonan warga sekitar dan pengguna jalan. Akibatnya, jalur menuju Jember itu selama hampir satu jam macet total.
Dalam baku tembak tersebut, nasib sial menimpa Brigadir Widi, anggota Reskrim Polres Lumajang. Saat berusaha menangkap kawanan perampok di Desa Rojoplo—kawasan jalan raya Lumajang-Jember itu, paha kirinya terkena peluru pistol milik perampok.
“Saya tertembak saat hendak melumpuhkan salah satu pelaku,” kata Brigadir Widi saat ditemui wartawan di Ruang IGD RSUD Bhayangkara Lumajang, Rabu sore.
Sedangkan dalam pengejaran berikutnya, polisi berhasil menangkap seorang pelaku, Didik. Warga Desa Manggisan, Kecamatan Tanggul, Jember, ini ditangkap polisi tidak jauh dari lokasi baku tembak antara polisi dan perampok di Desa Rojopolo.
Namun, polisi masih belum berhasil mendapatkan satu kantong lagi yang berisi sekitar 1 kg emas dari toko emas milik H Suwinarno.
Spesialis rampok emas
Berdasarkan data di lapangan, aksi kawanan spesialis perampok toko emas ini tergolong nekat karena dilakukan di siang bolong saat situasi pasar dan jalan sedang ramai.
Keenam pelaku, semuanya memakai helm teropong, menumpang tiga sepeda motor. Tiga pelaku bertindak sebagai eksekutor, sedangkan yang lainnya siaga di kendaraan masing-masing.
Begitu sampai di dalam toko, salah seorang pelaku langsung menembakkan senjata api jenis FN ke atas. Dua pelaku yang mengikuti dari belakang langsung memecah kaca etalase dengan kapak yang dibawanya.
Setelah berhasil menguras sebagian besar perhiasan emas yang dipajang di etalase, keenam perampok itu melarikan diri ke arah timur. Namun, sebelum mereka menancap gas motornya, seorang di antaranya menembakkan pistol ke arah tukang bakso dekat lokasi.
Melihat pistolnya diarahkan ke dirinya, penjual bakso yang hendak membantu korban itu pun mengurungkan niatnya dan berusaha bersembunyi di balik rombong baksonya.
“Enggak kena, Pak. Soalnya tembakannya diarahkan agak ke atas,” ujar penjual bakso itu di TKP.
Melihat aksi beringas kawanan perampok yang hanya berlangsung sekitar 5 menit itu, warga dan pengguna jalan tidak bisa berbuat apa-apa karena ketakutan.
H Suwinarno (34), pemilik toko, mengaku tidak tahu secara persis kejadiannya. Sebab, saat perampok itu beraksi, ia sedang melaksanakan salat zuhur.
“Enggak tahu, saya sedang shalat. Kejadiannya sekitar pukul 11.30,” ungkap H Suwinarno di depan tokonya menyaksikan petugas saat olah TKP.
“Pokoknya kejadiannya begitu cepat, hanya 5 menit, kalau emasnya senilai Rp 300 jutaan,” ungkap Hj Buati, istri H Suwinarto, sambil berlinang air mata.
Saat itu, lanjut Suwinarto, di tokonya hanya ada seorang karyawan, Buati, istrinya, serta seorang perempuan yang hendak membeli perhiasan.
“Mereka ketakutan enggak sempat berteriak minta tolong. Tahu-tahu setelah saya keluar, sudah berantakan dan perampoknya kabur,” jelasnya.
Lelaki yang masih terlihat trauma ini, begitu mendengar toko emasnya dirampok, langsung minta bantuan ke Polsek Kunir yang jaraknya tidak jauh dari tokonya. Selanjutnya petugas langsung mengejar kawanan perampok dan mengepung dari beberapa jalur yang diduga akan dilalui.
Sampai berita ini diturunkan, Kapolres Lumajang AKBP Dedy Prasetyo belum bersedia memberikan keterangan terkait kejadian ini. Ia masih menunggu Kapolwil Malang yang rencananya akan ke Lumajang, Kamis (20/5) hari ini. “Nanti saja konfirmasi ke Kapolwil,” ujar Kapolres.
Dari informasi yang berhasil dihimpun dari sejumlah polisi, nama ketiga tersangka yang sampai saat ini belum tertangkap sudah mereka kantongi. Ketiga nama itu yakni Yd, Np, dan Imr. Semuanya warga Desa Manggisan, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember.
Mereka dikenal sebagai spesialis perampok toko emas yang sadis dalam mengeksekusi sasaran ataupun korban. Guna memburu ketiganya, Polres Lumajang masih melakukan penutupan jalur ke arah Jember. (st35)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang