Krisis dua korea

Korea Utara Menuduh Korsel Palsukan Data

Kompas.com - 21/05/2010, 16:49 WIB

SEOUL, KOMPAS.com - Korea Utara, Jumat menuduh Korea Selatan memalsukan bukti bahwa kapal perangnya ditorpedo dan mengatakan kedua negara kini makin mendekati perang.

Ini adalah bantahan kedua Pyongyang dalam dua hari tuduhan Seoul, bahwa sebuah kapal selam Korea Utara me-norpedo korvet Korea Selatan pada 26 Maret, yang menewaskan 46 pelautnya.

Presiden Korea Selatan, Lee Myung-Bak, menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan Nasionalnya Jumat (21/5/2010), untuk membahas cara-cara menghukum Korea Utara.

Tim penyelidikan multinasional Kamis mengatakan dalam laporannya, bukti-bukti menunjukkan torpedo Korea Utara membelah dua kapal perang Cheonan.

Para anggota tim mengatakan, torpedo tersebut ditembakkan dari dasar laut oleh Korea Utara. Mereka menunjukkan hal itu dalam konferensi pers yang disiarkan televisi nasionalnya.

Dalam tanggapan cepat yang tidak biasanya, Korea Utara Kamis mengatakan, bahwa laporan tersebut berdasarkan pada kebohongan belaka dan mengancam perang habis-habisan dalam jawaban atas upaya untuk menghukumnya.

Pada Jumat, pejabat Komite untuk Reunifikasi Perdamaian Korea menegaskan kembali, bahwa klaim-klaim Korea Selatan itu adalah bukti palsu.

"Itu hanyalah serpihan aluminium yang darimana aslinya masih belum diketahuui sebagai bukti, menjadikan target ejekan," kata seorang juru bicara komite dalam pernyataan di media resmi.

Pemerintah Seoul, dalam pernyataannya mengatakan, pihaknya berupaya mendorong pemilihan lokal di seluruh negeri pada 2 Juni, dan mencari dalih untuk berperang dengan Korea Utara bersama dengan pasukan luar.

"Kelompok boneka (pemerintah Seoul) telah menciptakan situasi berbahaya di semenanjung Korea, bahwa perang mungkin akan pecah sejak sekarang," katanya, merujuk peringatan yang disampaikan oleh Korea Utara.

Korea Utara mengatakan, pihaknya melihat situasi saat ini sebagai tahapan perang.

Korea Utara mengancam akan menanggapi dengan membalas pembekukan secara total hubungan-hubungan antar-Korea, pembubaran pakta non-agresi dan menghentikan kerjasama antara kedua negara.

Para anggota parlemen Amerika Serikat bersatu mendukung Seoul setelah laporan penyelidikan itu diterbitkan, dan menyerukan sanksi-sanksi baru terhadap Pyongyang.

Presiden Lee telah menjanjikan resolusi balasan terhadap Korea Utara, namun tidak memberikan perincian.

Juru bicaranya mengatakan bahwa Dewan Keamanan Nasional bertemu untuk pertama kalinya dalam hampir setahun ini.

Mereka akan membahas situasi keamanan secara keseluruhan dan mengenai cara-cara untuk membalas serangan torpedo itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau