Oleh Arum tresnaningtyas Dayuputri
Kuncup-kuncup bunga edelweis menghampar di padang rumput nan luas dikepung pegunungan, Jumat (14/5). Sejauh mata memandang, sinar surya memantulkan kilau keemasan bunga berwarna putih kekuning-kuningan. Pagi begitu hening dan langit biru menghiasi ketinggian 2.750 meter di atas permukaan laut.
Dataran seluas 50 hektar ini dikenal dengan Alun-alun Suryakencana. Padang dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ini kerap menjadi persinggahan pendaki sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Gede. Pemandangan yang sungguh memikat sekaligus memanjakan mata yang melihat, terlebih bagi pendaki yang melepas lelah.
"Nikmatnya dunia rasanya bila berada di tempat ini," gumam Ngakan Prinanta (18), pendaki asal Bogor. Bersama sembilan temannya yang tergabung dalam kelompok pencinta alam Palaka Recon Tim Indonesia, ia menempuh perjalanan melelahkan selama tujuh jam, Kamis pekan lalu, melalui jalur Gunungputri.
Perjalanan dibuka dengan menyusuri jalan setapak melintasi lahan sayur penduduk. Seusai menyeberangi sungai kecil, jalur semakin menanjak berbalut bebatuan terjal dan akar pohon malang melintang. Kabut tipis dan rintik hujan menyelimuti sepanjang langkah kaki mereka.
Jalur ini merupakan jalur terdekat ke puncak Gede yang memiliki ketinggian 2.958 meter di atas permukaan laut. Namun, medan yang ditempuh cukup terjal dibandingkan dengan dua jalur lain, yaitu jalur Cibodas dan Selabintana.
Di sepanjang jalur Gunungputri jarang ditemui pendaki yang membuka tenda di pos peristirahatan. "Jalurnya sempit dan susah menemukan sumber air. Biasanya pendaki lebih suka bersusah payah untuk sampai di Alun-alun Suryakencana dan berkemah di sana," Nanta menambahkan.
Cuaca yang tidak bersahabat, hujan disertai angin dan badai, menyambut rombongan yang tiba di alun-alun. Hawa dingin yang menusuk tulang membekukan perjalanan. "Rencana menikmati sore di alun-alun terpaksa batal," ucapnya.
Curah hujan
Gunung Gede-Pangrango adalah salah satu tempat di Pulau Jawa yang memiliki curah hujan tertinggi, rata-rata 3.000-4.200 milimeter per tahun. Pada musim hujan jalanan sangat licin sehingga pendaki harus ekstra hati-hati.
Rasa lelah seketika lenyap di tengah hamparan edelweis, esok paginya. Spontan, Nanta merasa sangat kecil di antara indahnya ciptaan Tuhan. Barangkali perasaan itulah yang hinggap pada setiap pendaki yang menginjakkan kaki di tempat itu.
Kekaguman serupa diungkapkan Oki Ruhiyat (22), pendaki asal Jakarta, yang mendaki lewat jalur Gunungputri bersama tujuh temannya. "Kami sengaja memilih jalan di malam hari agar tanjakan yang terjal tak terlihat. Rasanya mendaki menjadi lebih optimistis," ujarnya.
Tak hanya pendaki yang terpikat bunga edelweis. Penggemar fotografi pun antusias mengabadikan keindahan rumpun bunga itu. Sebanyak 18 pencinta fotografi yang tergabung dalam komunitas Cloud Chaser menghabiskan tiga hari dua malam untuk berburu foto di Gunung Gede. Peter Vincen (48), fotografer yang kerap memenangi lomba foto, mengaku sangat antusias. "Ini pertama kalinya saya memotret edelweis dan saya terpesona dibuatnya," katanya. Bahkan untuk perjalanan ini ia membawa tiga kamera dan memori 20 gigabyte.
Sekilas bunga kecil ini tampak biasa. Namun, perjuangan untuk menikmatinya telah membuat cerita yang berkesan dan indah. Sesuai dengan julukannya, kecantikan bunga ini akan terus abadi, tak lekang oleh zaman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang