Pesona Edelweis Gunung Gede

Kompas.com - 22/05/2010, 16:49 WIB

Oleh Arum tresnaningtyas Dayuputri

Kuncup-kuncup bunga edelweis menghampar di padang rumput nan luas dikepung pegunungan, Jumat (14/5). Sejauh mata memandang, sinar surya memantulkan kilau keemasan bunga berwarna putih kekuning-kuningan. Pagi begitu hening dan langit biru menghiasi ketinggian 2.750 meter di atas permukaan laut.

Dataran seluas 50 hektar ini dikenal dengan Alun-alun Suryakencana. Padang dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ini kerap menjadi persinggahan pendaki sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Gede. Pemandangan yang sungguh memikat sekaligus memanjakan mata yang melihat, terlebih bagi pendaki yang melepas lelah.

"Nikmatnya dunia rasanya bila berada di tempat ini," gumam Ngakan Prinanta (18), pendaki asal Bogor. Bersama sembilan temannya yang tergabung dalam kelompok pencinta alam Palaka Recon Tim Indonesia, ia menempuh perjalanan melelahkan selama tujuh jam, Kamis pekan lalu, melalui jalur Gunungputri.

Perjalanan dibuka dengan menyusuri jalan setapak melintasi lahan sayur penduduk. Seusai menyeberangi sungai kecil, jalur semakin menanjak berbalut bebatuan terjal dan akar pohon malang melintang. Kabut tipis dan rintik hujan menyelimuti sepanjang langkah kaki mereka.

Jalur ini merupakan jalur terdekat ke puncak Gede yang memiliki ketinggian 2.958 meter di atas permukaan laut. Namun, medan yang ditempuh cukup terjal dibandingkan dengan dua jalur lain, yaitu jalur Cibodas dan Selabintana.

Di sepanjang jalur Gunungputri jarang ditemui pendaki yang membuka tenda di pos peristirahatan. "Jalurnya sempit dan susah menemukan sumber air. Biasanya pendaki lebih suka bersusah payah untuk sampai di Alun-alun Suryakencana dan berkemah di sana," Nanta menambahkan.

Cuaca yang tidak bersahabat, hujan disertai angin dan badai, menyambut rombongan yang tiba di alun-alun. Hawa dingin yang menusuk tulang membekukan perjalanan. "Rencana menikmati sore di alun-alun terpaksa batal," ucapnya.

Curah hujan

Gunung Gede-Pangrango adalah salah satu tempat di Pulau Jawa yang memiliki curah hujan tertinggi, rata-rata 3.000-4.200 milimeter per tahun. Pada musim hujan jalanan sangat licin sehingga pendaki harus ekstra hati-hati.

Rasa lelah seketika lenyap di tengah hamparan edelweis, esok paginya. Spontan, Nanta merasa sangat kecil di antara indahnya ciptaan Tuhan. Barangkali perasaan itulah yang hinggap pada setiap pendaki yang menginjakkan kaki di tempat itu.

Kekaguman serupa diungkapkan Oki Ruhiyat (22), pendaki asal Jakarta, yang mendaki lewat jalur Gunungputri bersama tujuh temannya. "Kami sengaja memilih jalan di malam hari agar tanjakan yang terjal tak terlihat. Rasanya mendaki menjadi lebih optimistis," ujarnya.

Tak hanya pendaki yang terpikat bunga edelweis. Penggemar fotografi pun antusias mengabadikan keindahan rumpun bunga itu. Sebanyak 18 pencinta fotografi yang tergabung dalam komunitas Cloud Chaser menghabiskan tiga hari dua malam untuk berburu foto di Gunung Gede. Peter Vincen (48), fotografer yang kerap memenangi lomba foto, mengaku sangat antusias. "Ini pertama kalinya saya memotret edelweis dan saya terpesona dibuatnya," katanya. Bahkan untuk perjalanan ini ia membawa tiga kamera dan memori 20 gigabyte.

Sekilas bunga kecil ini tampak biasa. Namun, perjuangan untuk menikmatinya telah membuat cerita yang berkesan dan indah. Sesuai dengan julukannya, kecantikan bunga ini akan terus abadi, tak lekang oleh zaman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau