Jangan Pe r n a h Mencoba Merokok

Kompas.com - 23/05/2010, 04:14 WIB

Tanggal 31 Mei disahkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai Hari Tanpa Rokok Sedunia atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Kampanye antirokok dan tembakau sangat penting agar kematian yang disebabkan oleh tembakau dapat dihindari.

Wah, mengerikan sekali akibat dari merokok. Menurut data yang dikeluarkan WHO, setiap tahun 3,5 juta orang meninggal karena mengisap tembakau. Data angka tersebut cenderung bertambah setiap tahun. WHO menyatakan, rokok dan tembakau adalah penyebab kematian urutan kedua setelah HIV/AIDS.

Beberapa bulan lalu beberapa stasiun televisi menayangkan berita, seorang anak balita berumur sekitar tiga tahun menghabiskan sebungkus rokok per hari. Anak itu merengek dan menangis bila tidak boleh merokok. Berita tersebut tentu saja menghebohkan!

Anak-anak seusia kita sangat rentan bila terkena asap rokok. Paru-paru, jantung, dan organ lain di tubuh kita masih peka terhadap racun yang dikeluarkan oleh asap rokok.

Agar tetap sehat hingga tua nanti, dari sekarang kita harus bisa menjaga kesehatan. Salah satu cara menjaga kesehatan adalah tidak terpengaruh bila ada orang atau teman yang menawari dan mengajak untuk merokok.

Usia kita yang masih sangat muda sangat mudah terkena penyakit infeksi di paru-paru, bronkitis, batuk dan bengek, infeksi telinga, asma.

Penyakit tersebut akan hinggap di tubuh kita bila sejak kecil kita sudah merokok. Jangankan merokok, mengisap asap rokok saja sudah bisa menimbulkan berbagai penyakit.

Masih banyak kegiatan positif daripada mencoba merokok, misalnya berolahraga bersama teman-teman. Tetap bisa sambil bermain, kan? Berburu dan membaca, entah itu buku pengetahuan atau komik dan buku hiburan lainnya, juga sangat mengasyikkan.

Bingung mencari kegiatan yang menarik? Kita bisa bergabung dengan kelompok pencinta museum. Kelompok ini sering mengadakan kegiatan dengan mengunjungi museum bersejarah.

Yang tak kalah mengasyikkan adalah bergabung ke kelompok pencinta lingkungan.

Sibuk dengan kegiatan positif jauh lebih baik daripada mencoba merokok yang jelas-jelas merusak kesehatan.

Apa yang kita rasakan bila kita berada di dekat perokok? Saat asap mengepul, secara tidak sengaja kita mengisap asap rokok. Bila termasuk anak yang peka, saat itu juga kita merasa pengap dan terbatuk-batuk. Perokok pasif adalah orang yang tidak merokok, tetapi mengisap asap rokok.

Menurut penelitian, perokok pasif menanggung bahaya tiga kali lipat dari perokok aktif. Dua puluh persen zat-zat berbahaya dari rokok masuk ke dalam tubuh si perokok. Sedangkan sisanya, 75 persen, beredar di udara bebas, masuk ke tubuh orang-orang di sekelilingnya.

Kita juga perlu tahu bahwa zat-zat racun rokok yang masuk ke dalam perokok pasif tidak ada penyaringnya seperti filter (penyaring) yang terdapat di ujung batang rokok. Zat-zat bahaya yang terkandung di dalam asap rokok antara lain:

Tar: di dalam tubuh, tar bisa memicu iritasi paru-paru dan kanker. Bila tar masuk ke dalam tubuh perokok pasif, bahayanya tiga kali lipat dibanding perokok aktif.

Nikotin: bisa menyebabkan kecanduan dan tergantung untuk selalu merokok.

Karbon monoksida: zat racun ini bisa menurunkan kadar oksigen dalam tubuh manusia dan bisa memicu penyakit jantung. Pada perokok pasif, bahayanya tiga kali lipat bahayanya dibanding perokok aktif.

Bahan kimia berbahaya lainnya: berupa gas dan zat berbahaya yang jumlahnya sampai ribuan. Kalau zat berbahaya ini masuk ke dalam tubuh manusia, bisa meningkatkan penyakit kanker.

• Asap rokok mengandung sekitar 4.000 partikel zat kimia, 200 di antaranya mengandung racun dan 43 jenis lainnya bisa menyebabkan kanker bagi tubuh manusia. Beberapa zat tersebut, antara lain, tar, nikotin, karbon dioksida.

• Bila suatu tempat dipenuhi asap rokok, tempat itu lebih berbahaya daripada polusi jalanan yang macet.

• Hati-hati pada asap rokok yang baru dimatikan di asbak. Asap ini mengandung tiga kali lipat bahan pemicu kanker dan bisa menyebabkan iritasi mata dan pernapasan.

• Merokok merupakan kegiatan yang merusak tubuh karena sangat mengganggu kesehatan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau