Lingkungan hidup

Keanekaragaman Hayati Salah Kelola

Kompas.com - 24/05/2010, 04:22 WIB

 NAWA TUNGGAL

Indonesia memiliki jumlah tumbuhan dengan spesies palem terbanyak di dunia, mencapai 477 spesies, diikuti tumbuhan kayu bernilai komersial 350 spesies, dan tumbuhan yang bermanfaat sebagai obat 1.300 spesies, hingga pada akhirnya Indonesia dijuluki sebagai megadiversity country.

Akan tetapi, ironisnya, di berbagai forum internasional, keanekaragaman hayati Indonesia justru dituding salah kelola ketika muncul tabiat orang senang menghancurkannya karena dikonversi, atau akibat ketidakmampuan mencegah kebakaran-kebakaran hutan perawan.

”Indonesia tidak pula pintar menjaga kearifan lokal dan mengomunikasikan tradisi-tradisi melestarikan keanekaragaman hayati,” kata peneliti senior biologi Dedi Darnaedi, yang juga mantan Kepala Pusat Penelitian Biologi pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jumat (21/5) di Jakarta.

Lebih runyam lagi, menurut Wakil Kepala LIPI Lukman Hakim, akhir-akhir ini akibat pola otonomi daerah bagi keberlanjutan keanekaragaman hayati sungguh memprihatinkan. ”Izin industri tambang merupakan ancaman paling serius bagi kelangsungan keanekaragaman hayati kita,” kata Lukman.

Konservasi keanekaragaman hayati yang terbaik adalah di lokasi ekosistem aslinya. Tetapi, sekarang hal itu hampir tidak memungkinkan karena perusakan sangat dahsyat. Pihak LIPI mendesak pemerintah pusat ataupun daerah untuk membuat kebun-kebun raya minimal 45 kebun raya di seluruh Indonesia. Keberadaan saat ini baru 17 kebun raya.

Tudingan-tudingan ketidakmampuan Indonesia menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati dialami Dedi, tatkala mengikuti berbagai forum internasional. ”Kita tidak pintar mengomunikasikan tradisi dan kearifan lokal, seperti dilakukan masyarakat Mentawai, Baduy, Maluku, dan Lamalera, dalam menjaga keseimbangan alam,” kata Dedi.

Dia menguraikan, kearifan lokal di Baduy dengan menanam padi itu hanya satu kali dalam satu tahun. Maka, tidak terjadi eksploitasi kesuburan tanah berlebih. Begitu pula menanam pohon aren tidak lebih dari delapan pohon untuk tetap menjaga keseimbangan alam.

Di Mentawai, masyarakat lokal sungguh piawai menentukan kera atau monyet yang sudah tidak lagi produktif boleh diburu untuk dikonsumsi. Begitu pula di Lamalera yang dikenal karena perburuan ikan paus pada musim-musim tertentu. Perburuan itu dibatasi sebagai ritual untuk kelangsungan hidup dan interaksi komunitas masyarakat pesisir dan masyarakat yang tinggal di dataran tinggi.

Di Maluku, dulunya subur dengan tradisi sasi atau pantangan untuk mengeksploitasi sumber daya alam pada waktu-waktu tertentu. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga keseimbangan alam. ”Contoh sederhana lain, pada sebagian masyarakat yang pekarangannya yang dipenuhi keanekaragaman hayati untuk dikonsumsi. Tradisi itu tak pernah dijaga dan dikomunikasikan dengan baik,” kata Dedi.

Isi pekarangan dimulai dari pagar dengan tanaman singkong atau jarak yang bermanfaat untuk pangan dan energi. Kemudian ada pisang, pepaya, kelapa. Air sumur yang digunakan ditampung kembali untuk kolam ikan. Pekarangan seperti ini turut menjaga keanekaragaman hayati, tetapi sekarang luntur.

Pemetaan

Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Jan Sopaheluwakan mengatakan, hal terpenting lainnya di bidang keanekaragaman hayati terletak pada kemampuan pemetaan genetik. Pemetaan genetik berfungsi untuk mengetahui genetika yang bisa menunjang arah penelitian dan pengembangan yang bermanfaat di kemudian hari.

”Seperti pernah dibantu Jepang, LIPI memetakan genetika sampai pada 2 juta tumbuhan dan mikroba. Persoalannya, lebih lanjut pada ketidakmampuan memanfaatkan potensi dari hasil pemetaan itu,” kata Jan.

Dedi Darnaedi menambahkan, ketergantungan impor terhadap sayur dan buah-buahan ataupun tanaman pangan lainnya saat ini adalah akibat lemahnya pemetaan genetik dan pemanfaatannya untuk riset dan pengembangan. ”Prospek dari pemetaan genetika jadi perhatian dunia saat ini,” kata Dedi.

Penguasaan pemetaan genetika memudahkan riset dan pengembangan untuk suatu produk tanaman pangan, misalnya. Menurut Dedi, pemetaan genetik kita masih sangat kurang. Akibatnya, kita kurang memahami keunggulan setiap tumbuhan dan terjebak menjadi pembeli produk negara lain yang mengembangkan inovasi produk berdasarkan rekayasa genetika dari hasil kegiatan pemetaan genetik.

Potensi terpendam dari hasil pemetaan genetik juga terkait dengan upaya menjaga populasi dari kepunahannya. Indonesia menempati urutan ke-4 sebagai negara yang kini terancam memiliki jumlah tumbuhan terancam kepunahan paling banyak. Yaitu, setelah Ekuador, Malaysia, dan China, berdasarkan kriteria The International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).

Kini LIPI melalui Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor dalam peringatan ulang tahun ke-193 tahun baru-baru ini meluncurkan 100 spesies tumbuhan prioritas untuk dikonservasi. Menurut Mustaid Siregar, yang mengepalai satuan unit LIPI itu, penetapan prioritas spesies mengandung dilematis.

”Penetapan 100 spesies prioritas bisa berdampak naiknya harga di pasaran ilegal karena legitimasi kelangkaannya sehingga meningkatkan perburuan dan perdagangan liar,” kata Mustaid.

Tentu, ungkapan Mustaid itu cukup beralasan dan berlatar pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di lapangan. Kalau memang demikian, pantaslah kalau kita dituding tidak pintar menjaga kekayaan keanekaragaman hayati atau mempertahankan diri sebagai negara dengan kekayaan keragaman hayati tertinggi di dunia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau