Konsep Kampanye AM Salah Kaprah

Kompas.com - 24/05/2010, 12:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Calon ketua umum Partai Demokrat, Andi Mallarangeng, kalah telak dalam perebutan tampuk pimpinan partai. Andi yang keok pada putaran pertama hanya mampu mengumpulkan 82 suara dari 530 suara yang diperebutkan. Padahal, kampanye Andi bertebaran di sejumlah media cetak dan elektronik. Tak cukup itu, umbul-umbul bergambar wajahnya juga berkibar-kibar di sepanjang jalan di pusat-pusat kota.

Lantas, kenapa Andi kalah? Konsep kampanye Andi yang dikemas Fox Indonesia salah kaprah. "Ini persoalan strategi yang dipahami tim kampanye Andi Mallarangeng yang dikomandoi Fox Indonesia. Mereka sangat memercayakan kekuatan media coverage. Padahal, pemilihnya adalah ketua DPC/DPD yang sangat elitis, bukan masyarakat umum," ujar Direktur Citra Politik Indonesia Hendrasmo kepada Kompas.com, Senin (24/5/2010).

Hendrasmo menilai, serangan udara berupa pemasangan iklan di televisi, radio, media cetak, atau juga yang bersifat below the line, seperti spanduk, backdrop, dan lainnya di pelosok Jakarta dan Bandung, sia-sia belaka. Dia mengatakan, media tidak selalu memenangkan hati konstituen. Padahal, Hendrasmo memperkirakan kubu Andi telah menghabiskan dana di atas Rp 10 miliar demi kampanyenya.

"Ini tentu saja menjadi mubazir. Apa yang didapat hanya fatamorgana. Seolah-olah besar, tapi kenyataannya tidak. Ini kesalahan konsep strategi," tambahnya.

Menurut Hendrasmo, kubu AM seharusnya lebih fokus pada usaha lobi-lobi terhadap pimpinan DPC/DPD dan memerhatikan "isi" ketimbang kemasan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau