Sejak Dulu Bali Perhatikan Keseimbangan Lingkungan

Kompas.com - 25/05/2010, 06:42 WIB

NUSA DUA, BALI, KOMPAS.com - Tokoh properti Indonesia Ciputra mengatakan FIABCI University yang akan digelar dalam Kongres FIABCI di Bali akan menekankan pentingnya pembangunan dan pengembangan real estate berdasarkan prinsip eco-property, yang memperhatikan lingkungan.

“Kita bersyukur dan berterima kasih pada mereka yang mendirikan dan menentukan kriteria pembangunan Bali berdasarkan lingkungan. Kita bersyukur pada Bung Karno yang memberi kriteria bahwa tinggi bangunan tak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa. Ini luar biasa. Sejak dulu Bali dibangun dengan prinsip lingkungan, ekosistem yang baik,” kata Ciputra.

Menurut Ciputra, yang mengusulkan agar topik lingkungan dibahas dalam Kongres FIABCI adalah Sdr Pingki Pangestu. “Topik eco-property ini sangat tepat. Dan FIABCI University akan menekankan pentingnya membangun dengan prinsip eco-property,” tandasnya.

Ciputra juga menambahkan, dia bangga pernah membangun kawasan Ancol lebih dari 30 tahun lalu. “Taman Impian Jaya Ancol sampai saat ini masih banyak daerah hijau. Dan di sepanjang pantai Ancol, tak ada rumah pribadi. Yang ada adalah public property. Dan Ancol sampai saat ini mempertahankan penghijauan,” jelasnya.

“Sekali lagi kita perlu bersyukur dapat melihat Bali dengan keindahan seperti saat ini. Coba Anda lihat Dubai, mereka bangun high-rise, ingin menjangkau langit. Tapi yang Balilakukan adalah mempertahankan ekologi. Dan tidak ada tawar-menawar soal ini. Saya berpesan tolong jaga Bali, jangan sampai berubah. Tinggi bangunan jangan sampai lebih dati tinggi pohon kelapa. Kalau KDB di Jakarta bisa 60 persen, Bali bisa 20 persen,” kata Ciputra. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau