Dua Kapal Perompak Somalia Dirusak

Kompas.com - 31/05/2010, 00:26 WIB

BRUSSELS, KOMPAS.com — Penjaga pantai Seychelles mencegat sekelompok tersangka perompak dan menghancurkan dua perahu serang kecil, kata Angkatan Laut Uni Eropa di kawasan itu, Minggu (30/5/2010).

Kapal patroli penjaga pantai Seychelles mengejar tersangka perompak itu Sabtu malam  sekitar 250 mil laut di barat laut negara pulau tersebut sesudah dituntun ke arah mereka oleh pesawat Swedia dari pasukan Angkatan Laut Uni Eropa (Navfor). Kapal tersangka perompak itu terdiri atas satu penangkap paus sebagai kapal induk dan dua perahu kecil penyerang cepat. "Sesudah memastikan bahwa mereka mempunyai perlengkapan bajak laut di kapal itu, sembilan tersangka perompak dilucuti dan dua perahu serang kecil mereka dihancurkan," pernyataan Navfor.

"Tersangka perompak itu kemudian dinaikkan ke kapal induk mereka dan dibebaskan," tambahnya.

Tersangka perompak itu dibebaskan karena tidak dihentikan saat menyerang, kata juru bicara Navfor. Pesawat patroli Swedia mengetahui tersangka perompak itu Kamis di sekitar 500 mil laut timur pantai Somalia, tetapi tidak ada satuan di wilayah tersebut untuk memeriksa mereka.

Perompak Somalia meraup jutaan dollar AS (sekitar triliunan rupiah) dalam bentuk uang tebusan lewat pembajakan di Teluk Aden. Lebih dari 400 pelaut saat ini disandera, jumlah tertinggi sejak lonjakan pembajakan di Somalia tahun 2007. Serangan perompak Somalia meningkat dalam beberapa bulan belakangan, kata pejabat Angkatan Laut, dan daya jangkau mereka meluas, menyesuaikan diri dengan usaha antarbangsa untuk menumpas mereka.

Kapal patroli Angkatan Laut antarbangsa di jalur ramai penghubung Eropa dengan Asia melalui Teluk Aden itu hanya membuat gerombolan perompak memperluas serangan mereka semakin jauh ke lautan India. Perompak dari negara gagal di Tanduk Afrika itu menahan belasan kapal dan lebih dari 200 awaknya.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyetujui penyerbuan di wilayah perairan Somalia untuk memerangi perompak, tetapi kapal perang patroli di daerah itu tidak berbuat banyak, kata Menteri Perikanan Puntland Ahmed Saed Ali Nur.

Pemerintah lemah peralihan Somalia, yang menghadapi pemberontakan berdarah, tidak mampu menghentikan perompak tersebut, yang membajak kapal dan menuntut uang tebusan bagi pembebasan kapal itu dan awak mereka.

Perompak, yang bersenjatakan granat roket dan senapan otomatis, menggunakan kapal cepat untuk memburu sasaran mereka. Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan kekacauan sejak panglima perang menggulingkan tentara penguasa Mohamed Siad Barre pada 1991.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau