BRUSSELS, KOMPAS.com — Penjaga pantai Seychelles mencegat sekelompok tersangka perompak dan menghancurkan dua perahu serang kecil, kata Angkatan Laut Uni Eropa di kawasan itu, Minggu (30/5/2010).
Kapal patroli penjaga pantai Seychelles mengejar tersangka perompak itu Sabtu malam sekitar 250 mil laut di barat laut negara pulau tersebut sesudah dituntun ke arah mereka oleh pesawat Swedia dari pasukan Angkatan Laut Uni Eropa (Navfor). Kapal tersangka perompak itu terdiri atas satu penangkap paus sebagai kapal induk dan dua perahu kecil penyerang cepat. "Sesudah memastikan bahwa mereka mempunyai perlengkapan bajak laut di kapal itu, sembilan tersangka perompak dilucuti dan dua perahu serang kecil mereka dihancurkan," pernyataan Navfor.
"Tersangka perompak itu kemudian dinaikkan ke kapal induk mereka dan dibebaskan," tambahnya.
Tersangka perompak itu dibebaskan karena tidak dihentikan saat menyerang, kata juru bicara Navfor. Pesawat patroli Swedia mengetahui tersangka perompak itu Kamis di sekitar 500 mil laut timur pantai Somalia, tetapi tidak ada satuan di wilayah tersebut untuk memeriksa mereka.
Perompak Somalia meraup jutaan dollar AS (sekitar triliunan rupiah) dalam bentuk uang tebusan lewat pembajakan di Teluk Aden. Lebih dari 400 pelaut saat ini disandera, jumlah tertinggi sejak lonjakan pembajakan di Somalia tahun 2007. Serangan perompak Somalia meningkat dalam beberapa bulan belakangan, kata pejabat Angkatan Laut, dan daya jangkau mereka meluas, menyesuaikan diri dengan usaha antarbangsa untuk menumpas mereka.
Kapal patroli Angkatan Laut antarbangsa di jalur ramai penghubung Eropa dengan Asia melalui Teluk Aden itu hanya membuat gerombolan perompak memperluas serangan mereka semakin jauh ke lautan India. Perompak dari negara gagal di Tanduk Afrika itu menahan belasan kapal dan lebih dari 200 awaknya.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyetujui penyerbuan di wilayah perairan Somalia untuk memerangi perompak, tetapi kapal perang patroli di daerah itu tidak berbuat banyak, kata Menteri Perikanan Puntland Ahmed Saed Ali Nur.
Pemerintah lemah peralihan Somalia, yang menghadapi pemberontakan berdarah, tidak mampu menghentikan perompak tersebut, yang membajak kapal dan menuntut uang tebusan bagi pembebasan kapal itu dan awak mereka.
Perompak, yang bersenjatakan granat roket dan senapan otomatis, menggunakan kapal cepat untuk memburu sasaran mereka. Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan kekacauan sejak panglima perang menggulingkan tentara penguasa Mohamed Siad Barre pada 1991.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang