Oleh Yurnaldi
KOMPAS.com - Perempuan tua dengan bunga di tangan itu terlihat begitu menggoda. Sambil duduk bersimpuh di lantai, dia tampak begitu cekatan membuat rangkaian bunga yang indah memesona. "Kalau bunga yang ini sudah dipesan orang,” ujarnya tersenyum penuh bangga.
Di depan perempuan lanjut usia itu memang terpajang dua vas rangkaian bunga yang sudah selesai dia kerjakan sehari sebelumnya. ”Dua hari, paling lama, siap satu vas rangkaian bunga,” kata perempuan tua yang belakangan diketahui bernama Hajjah Yasmin Sudarsih (71) asal Semarang, Jawa Tengah.
Siang itu, sejumlah perempuan lanjut usia (lansia) lain di Wisma Sakura, Panti Sosial Tresna Werda Budhi Dharma, Bekasi, Jawa Barat, juga terlihat asyik dengan kegiatan masing-masing. Ratna (65), misalnya, tampak sibuk merenda. Juga ada perempuan lansia lain yang merangkai manik-manik menjadi gelang tren anak muda.
Walau sudah berusia senja, kreativitas mereka tiada surut. ”Tetap berkarya sehingga di usia tua tetap berguna,” kata Yasmin Sudarsih, yang sudah tujuh tahun menghuni panti.
Keterampilan Yasmin merangkai bunga juga ditularkannya kepada ibu-ibu PKK. Untuk membuat bunga, Yasmin yang tidak punya anak ini memodali dan membeli sendiri bahan bakunya hingga ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Di antara 110 penghuni panti, hanya Yasmin yang mengisi hari-harinya dengan membuat rangkaian bunga. Hasil keterampilan tangannya sudah dikoleksi banyak pejabat hingga menteri. ”Jika di Pasar Tanah Abang harganya bisa mencapai Rp 150.000, saya menjualnya hanya Rp 60.000. Dengan modal Rp 45.000, cukuplah untung Rp 15.000,” kata Yasmin, yang sejak bulan pertama masuk panti tidak mau menerima bantuan Jaminan Sosial Lanjut Usia sebesar Rp 15.000 per hari.
Pemandangan memilukan ditemui ketika berkunjung ke poliklinik rawat inap di panti tersebut. Ada delapan perempuan lansia terkapar di tempat tidur. Sudah bertahun-tahun mereka di sana. Salah satunya Sri Yuniarti (72), pensiunan pegawai Departemen Sosial.
”Sudah delapan tahun dia terkapar di tempat tidur,” kata Maria. Petugas panti ini dengan setia melayani semua keperluan para lansia yang terkapar di sana, mulai dari urusan memandikan, memotong kuku, menyuapkan makanan, membersihkan kamar, hingga menghibur mereka.
Begitulah gambaran sekilas para lansia penghuni Panti Sosial Tresna Werda Budhi Dharma. Di satu sisi membanggakan meski sudah tua-tua masih bisa berkarya. Di sisi lain memprihatinkan karena tidak berdaya.
Panti Sosial Tresna Werda Budhi Dharma adalah satu di antara dua panti sosial lansia yang dikelola pemerintah. ”Satunya lagi Panti Sosial Tresna Wreda Gauma Baji di Makassar, Sulawesi Selatan. Total penghuni kedua panti itu tercatat 211 orang lanjut usia,” kata Menteri Sosial Salim Segaf Al’ Jufrie, Rabu (26/5/2010), terkait peringatan Hari Lansia setiap tanggal 29 April.
Saat ini di Indonesia ada 23,9 juta orang tergolong lansia. Dari jumlah itu, menurut data di Kementerian Sosial, 3 juta (tepatnya 2.994.330) di antaranya telantar. Indonesia termasuk lima besar negara berpenduduk lansia terbesar di dunia.
Jumlahnya pun terus meningkat dari waktu ke waktu. Jika pada tahun 1970 penduduk lansia sekitar 5,3 juta jiwa (4,48 persen), tahun 1990 menjadi 12,7 juta jiwa (6,29 persen) dan tahun 2000 mencapai 14,4 juta (7,18 persen). ”Tahun 2020 diproyeksikan menjadi 28,8 juta jiwa atau 11,34 persen dari total penduduk Indonesia,” kata Salim.
Walaupun di antara penduduk lansia itu masih ada yang produktif dan mampu berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat, karena faktor usia, mereka akan banyak menghadapi keterbatasan, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Karena itu, bantuan pemerintah dan masyarakat dipandang perlu supaya bisa menopang sebagian besar para lansia agar tetap bisa hidup sejahtera.
Butuh keberpihakan
Terkait upaya peningkatan kesejahteraan sosial mereka, sesuai amanat UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, Kementerian Sosial melalui program Jaminan Sosial Lanjut Usia memang telah mengucurkan santunan sebesar Rp 300.000 per orang per bulan. Jumlah ini memang belum cukup memadai. Realisasinya pun baru menjangkau sekitar 3.500 warga lansia. Suatu jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan jutaan penduduk lansia yang perlu disantuni.
Dengan anggaran untuk penduduk lansia saat ini senilai Rp 36 miliar per tahun, besaran bantuan dan jumlah lansia yang bisa dijangkau bantuan memang masih terbatas. Menurut Salim, saat ini anggaran untuk lansia baru 5 persen dari total anggaran Kementerian Sosial tahun 2010 senilai Rp 13,6 triliun. ”Idealnya mencapai 20 persen. Tidak mungkin ada perhatian penuh tanpa ada keberpihakan anggaran,” kata Salim.
Ketua Komisi VIII DPR Abdul Kadir Karding dalam satu diskusi di Kementerian Sosial mengatakan, pada masa mendatang anggaran untuk para lansia itu masih bisa ditambah. Akan tetapi, katanya, hal itu dimungkinkan apabila Kementerian Sosial memiliki konsep yang lebih bagus dalam menangani para lansia ini. ”Konsep nasional yang diinginkan itu harus terintegratif dan holistik,” katanya.
Meningkatnya angka harapan hidup bukan saja anugerah, melainkan juga mengemban sebuah tanggung jawab, dan tanggung jawab sosial itu ada di pundak kita: warga bangsa! Di atas segalanya, sesuai dengan amanat undang-undang dan konstitusi yang diembannya, tentu saja pemerintah harus berada di garis depan agar tak ada lagi penduduk di negeri ini—termasuk para lansia—yang telantar dan terkapar di Bumi Pertiwi ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang