Minuman keras

Pesta Miras Oplosan, 4 Tewas, 5 Opname

Kompas.com - 02/06/2010, 06:02 WIB

MALANG, KOMPAS.com - Kenaikan tarif pita cukai minuman keras meminta tumbal banyak nyawa pemabuk berkantong cekak di berbagai daerah seluruh Indonesia. Setelah miras bikinan pabrik tak lagi terjangkau, mereka umumnya beralih ke miras oplosan yang murah meriah.

Fenomena kematian akibat miras oplosan kali ini terjadi di Malang, Jawa Timur. Setidaknya empat pemabuk tewas, tumbal empat nyawa dan lima lainnya haus dirawat di rumah sakit (RS).

Mereka diduga keracunan miras home industry yang biasa disebut trobas bikinan pabrik rumahan di Malang. Para pemabuk itu pesta miras dalam tiga kelompok berbeda dan tak saling kenal. Tempat kejadian di Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.

Dari tiga kelompok itu, ada yang menggelar pesta miras pada Minggu (30/5/2010) siang dan Senin (31/5/2010) siang hingga malam. Data di Polres Malang, hanya tiga orang yang tewas, yakni Siswoyo (40) dan Sodikin (42) dari Dusun Kalimeri, Desa Tambak Asri, Kecamatan Tajinan.

Satu lagi adalah Gunawan (42) dari Desa/ Kecamatan Bululawang. Sedangkan informasi lain menyebutkan, ada satu lagi korban tewas, yakni Tutuk (35), warga Desa Wadanpuro, Kecamatan Bululawang. “Iya, dia meninggal dunia namun kami belum tahu penyebabnya,” kata perangkat desa setempat.

Keempat korban tewas itu terdiri dalam tiga kelompok sewaktu menggelar pesta miras. Untuk korban Siswoyo dan Sodikin, sekelompok dengan korban selamat, Subakir (42), warga Desa Tangkil, Kecamatan Tajinan.

Kelompok ini pesta miras di depan rumah Siswoyo mulai Minggu (30/5/2010) pagi sampai siang. Kondisi kesehatan Subakir mulai membaik meski hanya dirawat di rumahnya.

Sedangkan Gunawan (45) menggelar pesta miras di samping rumahnya bersama lima temannya, mulai Senin (31/5/2010) siang hingga berakhir malam hari.

Di antaranya, Mulyadi, Cahyono, Soleh, Rokim, dan Roji. Kelima temannya itu selamat meski masih menjalani peratawan di rumah sakit yang berlainan. Sementara Tutuk, kabarnya menenggak miras sendiri di rumahnya, Senin (31/5/2010) siang.

“Kami lagi di RS Panti Nirmala, karena ada satu korban, atas nama Roji, yang masih dirawat. Dia itu kelompoknya Gunawan,” kata Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Hartoyo, Selasa (1/6/2010).

Dari empat korban itu, yang tewas pertama kali adalah Sodikin. Bapak tiga anak ini menghembuskan nafas di RS Soepraon, Kota Malang, Senin sekitar pukul 21.00 WIB, kemudian disusul Siswoyo, Gunawan, dan Tutuk, Selasa pagi.

Siswoyo tewas di RS Kanjuruhan, Kecamatan Kepanjen. Sedang Gunawan di RS Bokor, Kecamatan Turen dan Tutuk di rumahnya. Kabarnya, saat dibangunkan, Selasa pagi itu dia tak bergerak. Ternyata dia sudah tak bernyawa.

Para korban yang masih selamat, kini menjalani perawatan di RS yang berbeda. Untuk Cahyono dirawat di RS Bokor, Kecamatan Turen, Soleh dirawat di RSI Gondanglegi,  dan Roji, RS Panti Nirmala. Kabarnya, mereka Selasa siang, ada yang dirujuk ke RSSA Malang.

Informasi sementara, trobas maut itu dibeli di toko jamu milik Slamet (69), Jl Krebet Senggrong, Kecamatan Bululawang. Kemungkinan mereka memilih membeli miras oplosan karena harganya murah dibandingkan miras buatan pabrik, yang kini harganya melambung tinggi.

Miras favorit pemabuk kebanyakan di Malang berlabel Topi Miring, misalnya, dulu hanya Rp 20.000 per botol kini jadi Rp 45.000. Padahal, para pemabuk ini umumnya pekerja serabutan.

Agar rasanya tak menyengat, miras oplosan itu dicampuri dengan minuman suplemen. “Kata tetangganya, Minggu itu mereka mabuk mulai pagi dan baru berakhir sekitar pukul 12.00 WIB. Sehabis mabuk, mereka pulang ke rumah masing-masingnya, dan belum ada tanda-tanda apa-apa. Bahkan, kabarnya mereka masih sempat melihat televisi (sepak bola),” kata Kades Tambak Asri, M Imam Safii, Selasa.

Minggu malam itu, mereka bisa tidur nyenyak dan belum menunjukkan gejala aneh pada dirinya. Baru Senin pagi, Siswoyo mulai muntah-muntah dan tak henti-hentinya meski sudah diberi minuman penawar.

Buntut tewasnya para pemabuk ini, petugas buser Polres Malang langsung menggelar razia terhadap para penjual miras oplosan. Razia kali ini bukan pada semua penjual miras Trobas namun khusus dua penjual jamu yang nyambi berjualan miras oplosan.

Mereka adalah Slamet (61) dan Sriatin (45), penjual jamu tradisional di Jl Raya Krebet Senggrong. Keduanya berikut barang bukti beberapa jiriken yang berisi miras oplosan, dibawa ke Polres Malang.

“Saya menjual miras oplosan ini sudah setahun lebih. Kalau menjual jamu, sudah puluhan tahun," tutur Sriatin sewaktu dimasukkan ke mobil polisi.

Menurut Sriatin, miras buatannya hanya Rp 16.000 per 1 liter karena bahannya cukup murah dan mudah didapat. Misalnya, dengan 7 liter air, Sriatin cukup mencampurnya dengan 1 kg gula merah ditambah alkohol yang dibeli di Apotik. “Iya, cuma itu bahannya, kemudian diaduk jadi satu pada bak,” tuturnya. (Imam Taufiq)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau