Truk Masa Depan, Konvoi dengan Autopilot

Kompas.com - 02/06/2010, 20:53 WIB

KOMPAS.com-Angkutan jarak jauh masa depan adalah rangkaian atau konvoi panjang truk (bisa juga bus) yang meluncur pada kecepatan konstan dan dikontrol oleh autopilot. Truk-truk tersebut terus meluncur nonstop dengan bagian depan (hidung) dan buntut saling berdempetan.

Hebatnya lagi, konvoi truk tersebut, berada pada pada jalur khusus, yang disebut koridor hijau, mirip dengan busway, Trans-Jakarta di ibu kota. Bedanya, Trans-Jakarta harus disupiri terus, koridor hijau, bisa melaju dan berbelok sendiri.

Konsep truk dan transportasi masa depan jarak jauh tersebut digagas dan dituangkan oleh Rikard Odel, Direktur Desain Volvo Truck Corporation dan dipublikasi kemarin melalui website-nya.

Lebih Cepat Selain konsep transportasinya, Rikard Orell juga menuangkan bentuk dan teknologi truk yang diberi nama Volvo Concept Truck 2020. Dijelaskan, realisasi truk dengan fasilitas autopilot, progresnya berjalan lebih cepat dari perhitungannya semula.

“Paling tidak, 10 tahun ke depan sudah bisa diterapkan,” jelasnya. Ia pun mengatakan, penampilan truk masa depan tersebut sangat berbeda dibanding dengan truk terkini.

Bagi kita di Indonesia, seandainya proyek jalan tol trans-Jawa selesai, gagasan Rikard Odell tersebut bisa dipertimbangan sebagai moda transportasi di masa yang akan datang. Apalagi, kalau nantinya, proyek jembatan selat Sunda jadi kenyataan. Mantap! Bisa mengurangi kemacetan karena truk yang betrjalan lambat!

Rikard yakin, gagasannya bisa diujudkan secepatnya karena teknologi yang akan dicangkokkan pada Volvo Concept Truck 2020, banyak yang telah digunakan saat ini. “Hanya beberapa teknologi yang masih dalam pengembangan,” imbuhnya.

Transportasi Komersial Dengan konsep tersebut, transportasi komersial, baik truk maupun bus jarak jauh akan menjadi lebih aman dan efisien. Daya tarik lainnya, truk atau bus yang melaju dalam formasi konvoi seperti kereta api, melaju pada kecepatan rata-rata 90 km/jam, tidak memerlukan rel. Di samping juga juga tidak perlu menggunakan penghubung khusus antar-truk. Untuk, direncanakan menggunakan sistem nirkabel.

Dijelaskan pula, dengan metode ini, tingkat keselamatan lalulintas truk semakin baik. Lahan yang disita truk menjadi lebih kecil. Begitu juga dengan penggunaan jalan.

Tak kalah menarik, konsumsi bahan bakar dan emisi CO2 jadi rendah. Pasalnya, hambatan yang dialami truk yang berada di belakang berkurang karena meluncur dengan formasi “slipstream”. Dengan autopilot, supir bisa beristirahat di belakang setir.

Layar Sentuh Tak kalah menarik, konsep lain adalah ruang pengemudi yang lega dengan penampilan futuristik.

“Kami mengantikan dashboard tradisional dengan panel tipis. Informasi bisa disesuaikan dengan kebutuhan supir. Panel konntrol dioperasikan seperti seperti iPhone karena menggunakan layar sentuh. Ruangnya jadi kabin lebih irit,” lanjut Rikard Odell.

Penghematan ruang di kabin dilakukan pula dengan membuat jok supir yang ramping dan tipis. Sandarannya dilengkapi dengan anyaman berventilasi, mirip seperti kursi di kantor moderen. Tambahan lain, di belakang jok supir dipasang sofa futon yang dapat dijulurkan menjadi tempat tidur.

Pelindung Aerodinamis Penampilan truk massa depan ini sangat berbeda dibandingkan dengan yang sekarang. Eksteriornya ramping dengan bidang muka yang kecil. Lampu depan, tipe LED dan sein disatukan. Tak ada lagi kaca spion besar dan sudah diganti dengan kamera. Gambarnya langsung ditayangkan di kaca depan.

Terakhir dijelaskan, di depan, bagian bawah truk ini, dibuat tonjolan yang mencuat sekitar setengah meter ke depan dari bodi utama. “Ini pelindung bila tabrakan dengan bentuk aerodinamis,” ujarnya. Karena itu pula, tidak dihitung sebagai panjang maksimal truk! Ah… ada-ada saja!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau