Jakarta, Kompas -
Humas Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Ahyaudin Sodri, Rabu (2/6), mengatakan, pihaknya telah melakukan pembicaraan jarak jauh (teleconference) dengan para relawan pada pukul 17.00 WIB. ”Kami sudah berbicara dengan relawan dan meminta informasi tentang kondisi mereka,” ucap Ahyaudin.
Dua orang yang masih dirawat adalah Octavianto Emil Baharudin di RS Barzilai, Ashkelon, serta Surya Fachrizal di RS Rambam, Haifa.
Setelah mengetahui kondisi relawan, MER-C meminta satu relawan untuk mengawal perkembangan dua orang yang masih dirawat. ”Kalau relawan
Selain itu, MER-C juga merencanakan pihaknya akan kembali membawa bantuan ke Gaza lewat jalur Rafah. Bantuan yang bakal dibawa ini merupakan bantuan baru. Bantuan sebelumnya yang berupa makanan, obat-obatan, dan bahan bangunan telah dirampas oleh tentara Israel.
Sementara ini, MER-C belum menambah relawan ke Jalur Gaza. ”Sudah ada beberapa orang yang mendaftar menjadi relawan, tapi sekarang kami masih dalam proses seleksi,” kata dia.
Insiden kapal bantuan kemanusiaan Mavi Marmara ini juga memancing sejumlah aksi
Di Semarang, sekitar 200 mahasiswa yang tergabung dalam Forum Aksi Umat Islam Semarang berunjuk rasa mengecam aksi penyerangan Israel ini. Mereka juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk proaktif mengajak negara lain membawa Israel ke Mahkamah Internasional.
Mahasiswa menggelar unjuk rasa di bundaran videotron Jalan Pahlawan, Semarang, sekitar pukul 09.30. Mereka berorasi, mengibarkan bendera Palestina, dan membawa poster-poster bertuliskan ”Stop Genocide Now”, ”Mau Memberikan Bantuan Kemanusiaan kok Malah Ditahan”, dan ”Dunia Bersatu Kecam Israel”.
Selain itu, mahasiswa juga menggelar doa bersama dan menggalang dana sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan. ”Dana ini akan kami serahkan kepada Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa). Sejauh ini sudah sekitar Rp 5 juta yang terkumpul,” ujar Ibnu Dwi Cahyo, koordinator aksi.
Mahasiswa menilai, penyerangan Israel terhadap kapal pengangkut bantuan kemanusiaan Mavi Marmara tersebut tidak bisa didiamkan. Setidaknya 19 orang tewas dalam kejadian tersebut.
Penyerangan itu, bagi para pengunjuk rasa, merupakan percobaan genosida baru dengan membiarkan penduduk Gaza kelaparan pascablokade Israel terhadap kawasan itu.
Untuk itu, mahasiswa meminta ketegasan PBB untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan Israel. Mereka juga mendesak Indonesia bersikap proaktif mengajak negara-negara Timur Tengah dan Eropa untuk menyeret Israel ke Mahkamah Internasional. ”Indonesia jangan hanya diam saja. Apalagi, 12 warga negara kita juga ikut ditahan,” kata Ibnu.
Mahasiswa juga mengajak seluruh warga Indonesia untuk mengecam penyerangan Israel. Solidaritas ini sebagai aksi kemanusiaan, bukan merupakan seruan atas nama agama.(ART/ilo)