Rusia Minta RI Latih Manajemen Haji

Kompas.com - 03/06/2010, 07:59 WIB

LONDON, KOMPAS.com - Mufti Dagestan, Ahmad Muhamad Abdullah, dan miliarder Muslim Rusia, Abusupyan Kharkharov, meminta bantuan Indonesia untuk mengadakan pelatihan manajemen haji.

Permintaan itu disampaikannya seiring dengan meningkatnya jumlah haji di Rusia yang menuntut penanganan lebih serius, ujar Cousellor Pendidikan, Penerangan, dan Sosial Budaya KBRI Moskow M. Aji Surya dalam keteranganya kepada koresponden Antara London, Kamis (3/6/2010).

Hal itu terungkap dalam pertemuan Mufti Dagestan, Ahmad Muhamad Abdullah, bersama miliarder Muslim Rusia, Abusupyan Kharkharov, dan Dubes Hamid Awaludin yang langsung menyanggupi permintaan pelatihan manajemen haji dari Indonesia.

Selain terus mencari format yang pas, beberapa kantong Muslim di Rusia telah meminta Dubes RI Hamid Awaludin untuk menyiapkan pelatihan haji bagi mereka.

Setengah tahun lalu, Mufti Tatarstan juga meminta hal serupa. "Nanti setelah melakukan pelatihan di Kazan, Tatarstan, segera pindah ke Dagestan," ujarnya.

Kedutaan Besar Republik Indonesia Moskow juga menggandeng Kementerian Agama Jakarta serta salah satu perusahaan ONH plus untuk memberikan pelatihan haji di Rusia pada akhir bulan Juni.

Direktur Jenderal Haji dan Umrah beserta beberapa stafnya menyampaikan kesanggupannya, dan kini tinggal mengatur jadwal karena kemungkinan besar pelatihan akan berkembang di tiga kota, yakni Moskow, Kazan, dan Dagestan.

Hal-hal yang ingin dilakukan terkait dengan persiapan, seperti pembayaran, pendaftaran, manasik, "booking" penginapan, dan penerbangan. Kemudian masalah keberangkatan dari berbagai daerah, mulai penginapan hingga penerbangan, dan juga pelaksanaan di Tanah Suci serta pengembalian jemaah ke kampung halaman.

Semua itu, kata dia, sangat penting mengingat Muslim di Rusia tersebar di berbagai daerah yang wilayahnya lebih luas daripada Indonesia. "Karakternya hampir mirip Indonesia," ujarnya.

Menurut Abusupyan, jemaah haji dari Indonesia dikenal sangat ramah, santun, dan patuh atas berbagai peraturan yang ditetapkan. "Meskipun jumlahnya sangat besar, tetap rapi dan tidak menunjukkan sikap-sikap yang negatif.

"Nanti setelah mendapat pelatihan, jemaah kami juga akan sebagus Indonesia," ujarnya.

Gairah Muslim di Rusia dalam beberapa tahun terakhir memang sedang pasang. Semangat beragama, khususnya dalam pendirian masjid dan ibadah haji, menjadi tren masyarakat setempat.

"Kerinduan transendental yang sempat dilarang selama 70 tahun lebih terus memuncak di beberapa tahun terakhir," katanya.

Disebutkan, warga Rusia yang beragama Islam sekitar 24 juta orang, dan mereka yang menunaikan ibadah haji meningkat setiap tahunnya. Pada tahun lalu, misalnya, naik 6.000 orang atau menjadi 35 ribu haji. Umumnya mereka berasal dari Dagestan, Tatastan, dan Moskow.

Dubes Hamid Awaludin menggarisbawahi kegiatan pelatihan yang akan dijalankan tersebut merupakan salah satu dari bagian berdiplomasi sesuai dengan kebutuhan pasar.

"Inilah salah satu cara untuk mendekatan kedua umat yang dahulu sempat terbelah dan bahkan tidak saling mengenal," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau