Misi bantuan gaza

Surya Masih di Haifa

Kompas.com - 04/06/2010, 04:45 WIB

Amman, Kompas - Seorang relawan warga negara Indonesia penumpang kapal kemanusiaan Mavi Marmara, Surya Fahrizal dari Hidayatullah.com, Kamis (3/6), masih dirawat di Israel setelah menjalani operasi. Rekannya, Okvianto Baharudin dari Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa), telah diterbangkan ke sebuah rumah sakit di Istanbul, Turki.

Demikian disampaikan Duta Besar (Dubes) RI untuk Jordania Zainulbahar Noor dalam ramah tamah dengan sejumlah relawan WNI yang berada di Amman, Kamis, di Kantor Kedutaan Besar RI di Amman.

Menurut Dubes, pihaknya menunggu setiap saat untuk menyambut Surya Fahrizal jika dievakuasi ke Jordania. Fahrizal dan Okvianto mengalami luka-luka akibat serangan pasukan komando Israel di atas kapal Mavi Marmara.

Adapun 10 relawan WNI yang dibebaskan Israel telah berada di Amman sejak Rabu pagi. Mereka disekap di Penjara Beersheva lebih dari 24 jam sebelum dideportasi ke Jordania.

Dubes Zainulbahar Noor menjelaskan, pihaknya masih menunggu konfirmasi dari Sekjen Kementerian Luar Negeri Jordania Muhammad Siraj tentang kapan Surya Fahrizal bisa dibawa ke Jordania. Nasib Fahrizal masih belum diketahui karena masih dalam penanganan intensif tim dokter Israel.

Selama ini KBRI Amman, selain Pemerintah Jordania, mengandalkan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) Jordania dan Organisasi Amal Hasyimi Jordania (Jordan Hashemite Charity Organization/JHCO) untuk memperoleh informasi soal kondisi relawan WNI yang disekap Israel.

Akses ke Israel

JHCO merupakan lembaga kemanusiaan nirlaba di bawah pimpinan langsung Raja Abdullah II. ICRC Jordania memiliki akses luas ke Israel.

Menurut Kepala Fungsi Ekonomi KBRI Amman Ari Wardhana, JHCO dan ICRC sangat bermanfaat di tengah ketertutupan Israel dalam hal informasi tentang relawan WNI dan masalah berita armada kapal misi kemanusiaan Gaza.

”Pihak KBRI Amman pernah menghubungi salah satu juru bicara Hamas, Fauzi Barhoum. Dubes Zainulbahar Noor juga telah menemui Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas untuk mendapatkan informasi tentang relawan WNI. Kami juga minta bantuan Ny Indah (WNI yang tinggal di Israel) dan Kedutaan Filipina di Amman yang juga punya kedutaan di Israel untuk mencari informasi tentang relawan WNI itu,” ungkap Wardhana.

Tiba-tiba, Selasa malam lalu, lanjut Wardhana, terembus berita bahwa Israel pada Rabu dini hari akan membebaskan dan mendeportasi 126 relawan dari mancanegara ke Jordania.

Dubes RI dan anggota staf KBRI Amman berangkat menuju perbatasan untuk antisipasi kemungkinan ada relawan WNI yang dideportasi Israel itu. ”Ternyata benar ada 10 relawan WNI yang dideportasi pada Rabu pagi,” kata Wardhana.

Dari Bethlehem, Mahmoud Abbas pada hari Rabu menyampaikan bahwa Otoritas Palestina akan menganugerahkan kewarganegaraan Palestina kepada semua aktivis di armada kapal kemanusiaan untuk Gaza.

Abbas menganggap Israel melakukan ”terorisme negara”. Dia meminta Dewan Keamanan PBB, kuartet pendorong perundingan Timur Tengah, dan badan-badan internasional memberikan perlindungan kepada rakyat Palestina dan berjuang menghapuskan blokade terhadap Jalur Gaza.

Abbas berharap reaksi seluruh rakyat Palestina terhadap penyerangan di tengah laut itu bisa menyatukan faksi Fatah dengan Hamas. Untuk tujuan itu, Abbas berencana mengirim delegasi tingkat tinggi Fatah dan PLO ke Jalur Gaza untuk mendiskusikan cara-cara mengakhiri krisis. Delegasi itu akan dipimpin pebisnis asal Nablus, Munib al-Masri.

Sementara itu, sebuah kapal Irlandia berisi bantuan juga dalam perjalanan ke Jalur Gaza. Kapal itu, MV Rachel Corrie, yang mengambil nama wanita AS yang tewas di Jalur Gaza tahun 2003, diperkirakan tiba pada Sabtu pagi. ”Kami memiliki peluang memasuki Jalur Gaza,” kata Derek Graham, warga Irlandia.(AFP/MTH/DAY/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau