Konsumen pln

Listrik Belum Memihak Orang Kecil

Kompas.com - 04/06/2010, 04:47 WIB

Oleh DOTY DAMAYANTI

Widi (41), warga Perumahan Griya Kebantenan Asri, Tangerang, Banten, tidak dapat menahan emosi ketika bercerita tentang kabel listrik yang centang-perenang di depan rumahnya.

Waktu saya menempati rumah ini, Februari lalu, listrik belum nyala. Kami terpaksa menumpang dulu ke satu tiang listrik. Kabel ditarik dari rumah ke rumah,” kata Widi, guru di salah satu sekolah menengah kejuruan di daerah Grogol, Jakarta Barat.

Kekesalannya semakin bertambah karena pengembang meminta para penghuni untuk menalangi biaya pembelian tiang dan kabel listrik. Setiap penghuni dimintai Rp 1,3 juta untuk sambungan daya 1.300 volt ampere (VA). Padahal, dalam kesepakatan jual beli, fasilitas listrik sudah termasuk dalam harga rumah. Rumah tipe 36 dengan luas tanah 72 meter persegi itu dibeli Widi dan suaminya seharga Rp 140 juta.

”Eh, sudah begitu, fasilitas listrik prabayar yang dijanjikan PLN (PT Perusahaan Listrik Negara) belum terealisasi sampai sekarang. Alasan mereka ada keterlambatan pengadaan material,” tutur Widi.

Sebagai konsumen, ia merasa berkali-kali dirugikan. Listrik baru mengalir sebulan lalu dengan kondisi instalasi dipasang seadanya karena masih bersifat instalasi sementara. Meteran listrik pun masih digabung di salah satu rumah yang paling dekat dengan tiang utama. Dari sekitar 20 rumah yang sudah dibangun, baru enam rumah yang dihuni. Dari rumah pertama yang paling dekat dengan tiang utama tersebut, kabel ditarik sambung-menyambung ke rumah para penghuni lain.

Di rumah Widi, sakelar pemutus arus dipasang di tonggak kayu yang ada di depan teras rumahnya. Tonggak kayu itu juga difungsikan untuk sementara sebagai tempat memasang lampu penerangan jalan.

”Saya sebenarnya takut lihat kabel menggelantung begini, apalagi kalau hujan dan ada petir,” ujarnya.

Padahal, sebagai konsumen, para penghuni perumahan juga dikenai biaya konsultan teknik listrik yang ditunjuk PLN. ”Orang PLN bilang, sebenarnya biaya pasang enggak sampe sejuta. Akan tetapi, karena ada jasa perusahaan konsultan, biaya total yang harus dibayar jadinya Rp 1,3 juta,” papar Widi.

Ada banyak konsumen bernasib seperti Widi. Real Estat Indonesia mencatat, sedikitnya ada 100.000 unit perumahan baru yang masuk dalam daftar tunggu PLN. Di wilayah Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang saja, PLN mencatat ada 38.000 pelanggan baru yang tidak bisa dilayani. Mereka terutama berada di daerah pinggiran yang jauh dari fasilitas gardu PLN atau berada di lokasi yang jaringannya sudah penuh.

Ketua Real Estat Indonesia Teguh Satria menilai, akibat ”ketidaksehatan” PLN, pengembang dan konsumen jadi korban. ”Kemampuan investasi PLN terbatas antara lain karena tarif dasar listrik yang terlalu rendah,” kata Teguh.

Akibat ketidakmampuan itu, biaya pemasangan fasilitas listrik yang seharusnya menjadi kewajiban PLN justru dibebankan kepada konsumen. ”Yang paling dirugikan justru konsumen kecil yang hanya mampu membeli rumah sederhana, yang lokasinya di pinggiran, jauh dari jangkauan jaringan distribusi PLN,” tutur Teguh.

Oleh karena itu, terkait rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang saat ini tengah dibicarakan, Real Estat Indonesia berada pada posisi yang sedikit berbeda dibandingkan pengguna listrik lainnya. ”Kami malah sepakat kalau TDL dinaikkan supaya PLN lebih sehat,” ujarnya.

Pelayanan

Keruwetan mendapatkan layanan listrik juga dirasakan pelaku industri kecil. Hikmat (40), pemilik pabrik sepatu di kawasan industri Cikupa, Tangerang, memilih mengajukan pemasangan baru sebagai konsumen rumah tangga. Setelah mendapat sambungan, ia kemudian menaikkan daya listrik sesuai dengan kebutuhan pabrik.

Alasan Hikmat sederhana. ”Supaya urusan cepat. Kalau mengajukan pemasangan baru sebagai industri pasti bakal lama dan ruwet,” ungkapnya.

Dengan kondisi pelayanan yang masih pas-pasan, tidak usah heran jika masyarakat merasa keberatan dengan rencana kenaikan TDL. ”Percuma saja kalau TDL naik, tetapi tidak ada perbaikan pelayanan oleh pihak PLN,” kata Hikmat.

Purnomo Willy, General Manager PLN Wilayah Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang, mengakui, pihaknya kesulitan memenuhi permintaan pemasangan baru. Sebab, kata Purnomo, sebagian besar gardu induk di Jakarta bebannya sudah maksimal. Penambahan jaringan baru harus menunggu penambahan gardu yang akan masuk tahun depan. Sampai kondisi infrastruktur lebih memadai, PLN belum bisa melayani permintaan sambungan baru.

Ironisnya, PLN masih bersedia menyediakan pasokan listrik kepada pelanggan yang mau membayar lebih. Perlu dicatat, saat ini bukan hanya rumah-rumah sederhana yang tumbuh pesat, proyek-proyek perumahan dan apartemen mewah juga tak kalah menjamur.

Di sinilah ironi itu dipertontonkan. Di saat pemilik rumah-rumah sederhana di daerah pinggiran kesulitan mendapatkan ”titik api”, PLN sepertinya tak pernah kesulitan memasok listrik ke kawasan elite. Simaklah berita terbaru: PLN baru saja menerima permintaan pemasangan untuk perumahan mewah Spring Hills di Kemayoran, dengan besaran daya tiap rumah mencapai 10.000 VA!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau