Partai uji coba antara Nigeria dan Korea Utara, Minggu (6/6/2010) yang mengakibatkan 15 orang luka-luka karena terinjak-injak, seorang di antaranya polisi menyisakan pertanyaan, mampukah Afrika Selatan menggelar peristiwa sebesar Piala Dunia? Stadion Makhulong di Tembisa hanya berkapasitas 15.000 tempat duduk. Namun, penonton yang ingin masuk ke dalam tak kurang dari 20.000 orang, sebagian besar mengenakan seragam Nigeria.
Bagaimana mungkin itu terjadi?
Rupanya, menurut juru bicara kepolisian, Brigadir Sally de Beer, seperti dikutip Pretoria News, Senin (7/6), penyelenggara laga sempat membagikan 10.000 tiket gratis di luar stadion. Ribuan penonton lain yang tak memegang tiket pun merasa tak puas, apalagi ketika mereka tahu Nigeria mencetak gol.
Seperti dilaporkan wartawan Kompas Fitrisia Martisasi dari Pretoria, Afrika Selatan (Afsel), keinginan untuk mendukung tim nasional kesayangan pun memuncak. Pintu stadion sempat dibuka, tetapi kemudian ditutup lagi. Entah apa penyebabnya, pintu kembali dibuka dan peristiwa naas pun terjadi.
Presiden FIFA Sepp Blatter mengakui, meski bukan FIFA yang menyelenggarakan, insiden itu telah makin ”membuka mata” dirinya akan tingkat kejahatan di Afrika Selatan. Namun, ia meyakinkan, ini tak bakal terjadi pada penyelenggaraan Piala Dunia yang sesungguhnya.
Hal serupa diyakini Sekjen FIFA Jerome Valcke. Ia bahkan menegaskan, betapa berbahayanya penjualan atau distribusi tiket tepat pada saat penyelenggaraan laga. Kerap kali ia dikritik mengapa FIFA tidak melakukan penjualan pada hari pertandingan. ”Lihat saja hasilnya,” ujar Valcke, seperti dikutip Reuters.
Animo besar
Animo warga Afsel untuk menonton pesta akbar sepak bola ini memang tak diragukan. Ini terlihat setelah sistem penjualan tiket Piala Dunia 2010 yang semula hanya bisa dilakukan lewat internet akhirnya dialihkan ke penjualan langsung di loket-loket di seluruh Afsel. Puluhan ribu tiket dalam sekejap tandas.
Hari Senin, panitia kembali menjual 53.000 sisa tiket, yang kali ini hanya disebar di pusat penjualan tiket FIFA. Kali ini memang bukan untuk pertandingan penting, seperti final, semifinal, pembukaan, ataupun laga yang melibatkan tim Bafana Bafana (Afsel).
Namun, harga penjualan tetap saja tidak main-main, yakni 200 hingga 300 dollar AS (hampir Rp 3 juta). Maklum, ini adalah sisa tiket paket ramah-tamah, yang memungkinkan pemegang tiket menonton sekaligus menikmati jamuan makan sebelum laga.
FIFA tak pernah kehabisan akal untuk mengeduk keuntungan sebesar mungkin dari hajat besar di Afrika pertama kali untuk tingkat tertinggi sepak bola dunia ini. Surat kabar City Press, Minggu, mengkritik habis FIFA yang disebutnya telah ”menguliti Afrika Selatan”.
Diuraikan bagaimana FIFA—seperti diakui sendiri oleh Valcke—memperoleh peningkatan penghasilan 50 persen antara penyelenggaraan Piala Dunia 2006 di Jerman dan 2010 di Afsel. Sementara itu, di sisi lain, Afsel yang telah mengguyurkan dana 63 miliar rand (8,4 miliar dollar AS) ternyata malah berpotensi kehilangan pendapatan, antara lain dari pajak.
Pada akhir April lalu, misalnya, untuk urusan turnamen, Afsel harus mengimpor barang senilai 613 juta rand (sekitar 81 juta dollar AS). Alih-alih mendapatkan penghasilan dari pajak, mereka malah harus merelakan bebas pajak. Sponsor utama FIFA, pemegang lisensi, badan penyiaran, pemilik hak siaran, rekanan penjualan barang-barang cenderamata, dan penyedia jasa telekomunikasi tak perlu membayar pajak untuk keuntungan yang mereka peroleh sepanjang Piala Dunia.
Pendeknya, tak kurang dari 17 jaminan yang harus dibuat Afsel untuk FIFA. Bandingkan dengan Jerman yang hanya 12 jaminan atau bahkan Belanda-Belgia—yang tengah mengajukan penawaran untuk Piala Dunia 2018 dan 2022—yang hanya bersedia memberikan delapan jaminan.
Lebih dari itu, FIFA masih memiliki hak untuk menjual informasi pribadi yang didapat dari penjualan lewat internet. Bahkan, seluruh data yang diperoleh bakal menjadi milik tunggal FIFA. Kalaupun Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan (SAFA) ingin mendapatkan keuntungan, mereka wajib bekerja sama dengan FIFA untuk melakukan eksploitasi komersial atas data itu.
Sampai kapan dan berapa lama darah Afrika Selatan diisap FIFA?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang