Jimly assidhiqqie :

Jika Tak Mau Deponeering, Pengadilan Lebih Elegan

Kompas.com - 09/06/2010, 11:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Assidhiqqie menyarankan Jaksa Agung Hendarman Supanji mengeluarkan keputusan penghentian perkara (deponeering) dengan alasan demi kepentingan umum untuk menghentikan perkara pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah.

"Jangan perbaikan Surat Ketetapan Penghentian Perkara (SKPP). Karena kalau perbaikan SKPP, pasti di praperadilankan lagi," tandas Jimly, yang kini dikenal juga sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), saat memberikan keterangan ke pers, Rabu (9/6/2010) pagi ini di ruang kerjanya di Gedung Wantimpres, Jakarta.

Menurut Jimly, kalau Jaksa Agung tetap tidak mau keluarkan deponeering, "Ya, masuk ke pengadilan, biar elegan diputuskan benar atau salahnya. Daripada perkara itu terus memenjarakan kita semua dan KPK-nya dikuyo-kuyo."

Jimly yang menyatakan, pendapatnya itu sebagai pendapat pribadi dan bukan pendapat atas nama anggota Wantimpres, mengakui bahwa sejak lama dirinya sudah mengusulkan supaya perkara Bibit-Chandra terus dilanjutkan ke pengadilan.

"Akan tetapi, malah dibentuk Tim Delapan untuk memverifikasi fakta kasus pimpinan KPK dan kemudian dikeluarkan rekomendasi agar menghentikan perkara karena tidak adanya bukti. Namun, Kejaksaan Agung malah mengeluarkan SKPP dengan alasan sosiologis sehingga akhirnya ditolak oleh pengadilan," jelasnya.

Dikatakan Jimly, "Bisa saja Kejaksaan Agung kesulitan jika mau mengeluarkan deponeering, karena merasa memiliki bukti sehingga tidak mau mengeluarkan deponeering. Yang dikeluarkan justru SKPP dengan alasan sosiologis atau kepentingan umum itu. Padahal, kalau SKPP alasannya buka sosiologis, akan tetapi tidak ada bukti."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau