Beijing, Rabu
Aksi pemogokan buruh di China mematahkan postulat para investor dunia yang selalu merasa aman dan nyaman berbisnis di China, yang mengandalkan upah buruh murah. Kejadian ini juga mematahkan postulat yang mengatakan bahwa buruh China ini bersedia bekerja dalam tekanan dan tidak menuntut apa pun.
Juru bicara Honda, Yoshiyuki Kuroda, di Tokyo menjelaskan, Sengketa perburuhan terbaru itu terjadi di Honda Lock Co, Provinsi Guandong di Zhongshan, sebuah kota dekat basis produksi Honda di kota Guangzhou di selatan China. Pemogokan dimulai Rabu pagi.
Penundaan produksi masih akan dilakukan hari Kamis karena masih akan dilakukan negosiasi perburuhan di pabrik pembuat suku cadang Foshan Fengfu. Produksi Honda di dua pabrik perakitan lainnya di China tidak terganggu karena mereka mempunyai stok suku cadang yang memadai.
Dalam aksi mogok, aparat kepolisian China turut campur tangan. Para buruh bentrok dengan para polisi yang menyebabkan puluhan pekerja cedera.
Aksi pemogokan di pabrik Honda itu terjadi setelah munculnya serangkaian aksi bunuh diri di pabrik Foxconn, perusahaan asal Taiwan berteknologi tinggi.
Sejumlah buruh di Foxconn melakukan aksi bunuh diri
Pada hari Senin lalu juga terjadi bentrokan antara aparat dan para buruh di perusahaan karet, yang dibiayai investor Taiwan di Provinsi Jiangsu. Pada pemogokan di perusahaan ini, 50 pekerja cedera karena diserang aparat.
Para aktivis buruh mengatakan, kejadian terbaru di China itu sekaligus menunjukkan kekecewaan dan kemarahan jutaan buruh pabrik di China yang digaji amat rendah.
Pada hari Rabu, koran China Daily memberitakan, sekitar 2.000 buruh di pabrik milik KOK Machinery, terletak di kota Kunshan di pinggiran Shanghai, mogok kerja.
Buruh di perusahaan KOK Machinery, milik investor Taiwan itu, menuntut kenaikan gaji dan perbaikan kondisi ruang pekerjaan.
Polisi bertindak dengan membela perusahaan, berupa pemaksaan kepada karyawan untuk tidak mogok kerja. Mereka dipaksa kembali bekerja. ”Para polisi memukuli kami membabi buta, menendang bagian perut pekerja yang dekat dengan polisi, tak peduli apakah pekerja itu seorang buruh perempuan,” kata seorang pekerja perempuan kepada harian South China Morning Post, yang juga memberitakan sekitar 30 orang ditangkap.
Para buruh itu mengeluh karena harus bekerja di ruangan dengan temperatur 40-50 derajat celsius karena tidak ada pengatur suhu udara.
Para buruh tersebut mengeluh karena dipaksa bekerja dengan jam panjang tanpa perbaikan gaji. Hal itu telah berlangsung sekian tahun. ”Saya kira para tokoh buruh di China sudah mulai bermunculan,” kata Geoff Crothall, pemerhati buruh China.