China

Buruh Pabrik Honda Mogok

Kompas.com - 10/06/2010, 05:03 WIB

Beijing, Rabu - Para pekerja di pabrik kedua suku cadang yang berafiliasi dengan Honda Motor Co, Rabu (9/6), melakukan mogok kerja. Mereka mengikuti langkah pemogokan di pabrik suku cadang lainnya. Aksi mogok memaksa Honda menghentikan produksi di dua pabrik perakitan mobil di China.

Aksi pemogokan buruh di China mematahkan postulat para investor dunia yang selalu merasa aman dan nyaman berbisnis di China, yang mengandalkan upah buruh murah. Kejadian ini juga mematahkan postulat yang mengatakan bahwa buruh China ini bersedia bekerja dalam tekanan dan tidak menuntut apa pun.

Juru bicara Honda, Yoshiyuki Kuroda, di Tokyo menjelaskan, Sengketa perburuhan terbaru itu terjadi di Honda Lock Co, Provinsi Guandong di Zhongshan, sebuah kota dekat basis produksi Honda di kota Guangzhou di selatan China. Pemogokan dimulai Rabu pagi.

Penundaan produksi masih akan dilakukan hari Kamis karena masih akan dilakukan negosiasi perburuhan di pabrik pembuat suku cadang Foshan Fengfu. Produksi Honda di dua pabrik perakitan lainnya di China tidak terganggu karena mereka mempunyai stok suku cadang yang memadai.

Dalam aksi mogok, aparat kepolisian China turut campur tangan. Para buruh bentrok dengan para polisi yang menyebabkan puluhan pekerja cedera.

Aksi pemogokan di pabrik Honda itu terjadi setelah munculnya serangkaian aksi bunuh diri di pabrik Foxconn, perusahaan asal Taiwan berteknologi tinggi.

Sejumlah buruh di Foxconn melakukan aksi bunuh diri karena tidak tahan dengan tekaan pekerjaan, kondisi pekerjaan yang buruk, dan gaji yang rendah.

Perbaikan kondisi kerja

Pada hari Senin lalu juga terjadi bentrokan antara aparat dan para buruh di perusahaan karet, yang dibiayai investor Taiwan di Provinsi Jiangsu. Pada pemogokan di perusahaan ini, 50 pekerja cedera karena diserang aparat.

Para aktivis buruh mengatakan, kejadian terbaru di China itu sekaligus menunjukkan kekecewaan dan kemarahan jutaan buruh pabrik di China yang digaji amat rendah.

Pada hari Rabu, koran China Daily memberitakan, sekitar 2.000 buruh di pabrik milik KOK Machinery, terletak di kota Kunshan di pinggiran Shanghai, mogok kerja.

Buruh di perusahaan KOK Machinery, milik investor Taiwan itu, menuntut kenaikan gaji dan perbaikan kondisi ruang pekerjaan.

Polisi bertindak dengan membela perusahaan, berupa pemaksaan kepada karyawan untuk tidak mogok kerja. Mereka dipaksa kembali bekerja. ”Para polisi memukuli kami membabi buta, menendang bagian perut pekerja yang dekat dengan polisi, tak peduli apakah pekerja itu seorang buruh perempuan,” kata seorang pekerja perempuan kepada harian South China Morning Post, yang juga memberitakan sekitar 30 orang ditangkap.

Para buruh itu mengeluh karena harus bekerja di ruangan dengan temperatur 40-50 derajat celsius karena tidak ada pengatur suhu udara.

Para buruh tersebut mengeluh karena dipaksa bekerja dengan jam panjang tanpa perbaikan gaji. Hal itu telah berlangsung sekian tahun. ”Saya kira para tokoh buruh di China sudah mulai bermunculan,” kata Geoff Crothall, pemerhati buruh China. (AP/AFP/REUTERS/MON/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau