World cup

Piala Dunia di Rimba Tsotsi

Kompas.com - 10/06/2010, 09:04 WIB

PERNAH dengar Tsotsi? Atau, barangkali malah pernah menonton filmnya atau membaca novelnya dengan judul Tsotsi? Ini film yang diangkat dari novel dengan judul sama karangan Athol Fugard. Film ini mrndapatkan penghargaan Academy Award for Best Foreign Language Film pada 2005 dan nomine Golden Globe for Best Foreign Language Film pada 2006

Sekadar info, film ini menceritakan anak di daerah kumuh di Soweto, dekat Johannesburg. Dia meninggalkan rumah karena ayahnya suka main kasar, kemudian bergabung dengan gelandangan lain. Ketika besar, dia menjadi pemimpin geng kriminal Soweto dan melakukan kejahatan secara berkelompok.

Tsotsi tak segan-segan menembak mati. Kekejaman menjadi bagian dari hidup dan aksinya, demi mendapatkan uang.

Kisah di film itu sebenarnya gambaran nyata di Soweto, juga Afrika Selatan pada umumnya. Faktanya, hanya tinggal sehari Piala Dunia 2010 dibuka, kejahatan justru makin marak di Afsel. Janji pemerintah Afsel bahwa mereka akan memberantas kejahatan, tampaknya hanya isapan jempol belaka.

Faktanya, beberapa hari lalu sebuah toko emas dirampok. Selasa (8/6/2010), dua wartawan Portugal dan satu wartawan Spanyol dirampok hingga ludes alat dan hartanya. Tiga wartawan tersebut masing-masing dari Expresso, Global Noticias, dan Marca. Mereka tengah terlelap di kamar hotel mereka yang berlokasi sekitar 15 km dari Magaliesburg, dekat Pretoria.

Beberapa waktu lalu, wartawan Korea Selatan juga dirampok di Durban. Dia tak bisa apa-apa kecuali menyerahkan semua barang dan uangnya.

Ini tak lepas dari keamanan yang lemah di Afsel. Rabu (9/6/2010) malam, misalnya, jalan-jalan di kota-kota di Afsel rata-rata sepi. Bahkan, terkadang kita tak menemukan satu pun polisi yang ada di jalan. Dan, itu pemandangan sehari-hari. Ini membuat para penjahat leluasa beraksi.

Apalagi, polisi mengancam akan mogok selama Piala Dunia, jika mereka tak dibayar overtime (lembur). Jika ini terjadi, hampir pasti kejahatan akan meraja lela. Sebab, rasanya justru semakin banyak kantong-kantong kriminal di Afsel.

Wajar jika di masyarakat sering muncul ucapan, "Jangan percaya kepada polisi!" Ini bukan berarti mendeskreditkan polisi, tapi masyarakat Afsel sebagian memang kurang percaya. Selain lambat, kadang ada oknum yang ikut berman dalam kejahatan.

"Bayangkan, seorang diplomat dari Jepang baru saja dari kantor polisi. Keluar dari kantor itu, dia dirampok. Seolah, ada yang membocorkan bahwa orang Jepang itu membawa banyak uang," kata seorang warga Pretoria.

Apalagi di Soweto, tempat Stadion Soccer City berada. Ini tempat paling rawan di Afsel, karena banyak wilayah kumuh dan kantong-kantong penjahat. Bahkan, orang luar kota, terutama kulit putih, jarang ada yang berani ke sana. Ironisnya, di stadion itu tempat pembukaan dan penutupan Piala Dunia 2010.

"Waaah, ini tempat paling berbahaya. Sejak lahir, saya baru sekali ini ke sini karena mengantar Anda," kata sopir yang membawa Kompas.com ke Soweto. Pemuda berumur 27 tahun itu pun tampak tegang selama menyopir mobilnya di wilayah Soweto menuju Stadion Soccer City.

Maka, sebenarnya Piala Dunia ini berada di rimba Tsotsi. Tsotsi adalah nama sebutan buat gali. Jika di Indonesia bisa diartikan seperti itu atau begundal, gento, dan sebagainya. Film Tsotsi menceritakan berandalan di Afsel. Sang tokoh yang sering dipanggil tsotsi itu nama sebenarnya David.

Bisa dibayangkan bagaimana Piala Dunia di Afsel ini jika polisi tak mampu memberantas atau setidaknya mencegah para penjahat beraksi. Baru empat hari tinggal di Afsel saja, rasa keamanan begitu terusik. Sehingga, gerak pendatang tak begitu leluasa.

Wajar saja jika suporter yang datang ke Afsel belum begitu banyak. Sebab, negeri ini belum juga bisa menunjukkan citra yang positif di segi keamanan. Sebaliknya, para Tsotsi siap mengancam para suporter, bahkan para wartawan.

Mungkin mereka mengatakan, "Ini Afrika Selatan, Bung! Di sini rimba tsotsi. Jadi, siap-siaplah dirampok." (Ikuti lanjutannya: "Barang Hilang, Nyawa Melayang")

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau