Tangani video asusila

Polisi Tak Terima Disebut Lamban

Kompas.com - 16/06/2010, 15:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Markas Besar Polri membantah telah bertindak lamban dalam menangani kasus video asusila yang diduga dibintangi artis cantik Luna Maya, Cut Tari, dan Ariel "Peterpan".

"Kami sedang melihat unsur-unsur pidananya dulu. Kan sekarang harus dibuktikan dulu. Jadi, Polri tidak serta-merta bisa menyatakan seseorang terlibat. Kami harus mencari pembuktian ilmiah terlebih dahulu. Dari sana baru kami bisa berangkat soal siapa saja yang bisa kami mintai keterangan. Jadi, bukan lambat, tapi kami harus cermat," ujar Ito Sumardi kepada para wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (16/6/2010).

Kabareskrim Mabes Polri itu mengatakan, polisi juga selalu menggunakan asas praduga tak bersalah dan selalu menghormati hak-hak asasi manusia dalam menyelidiki kasus video asusila.

Sebelumnya, tuduhan lamban setidaknya disampaikan oleh beberapa anggota Komisi I DPR RI Tantowi Yahya, yang juga artis dan penyanyi musik country. Dirinya khawatir kasus video asusila ini dimanfaatkan untuk membelokkan isu-isu tertentu.

"Jangan dijadikan video ini sebagai komoditas. Atas nama rakyat dan orangtua yang terganggu atas video ini, kami harus segera sudahi," ujar Tantowi, Rabu di DPR.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau