Liburan, Jalur Puncak Macet

Kompas.com - 17/06/2010, 04:49 WIB

Bogor, Kompas - Meningkatnya volume kendaraan pribadi dan bus umum yang menuju lokasi wisata di Puncak, Bogor, sepanjang Rabu (16/9), membuat arus lalu lintas nyaris stagnan. Bahkan, para pengendara butuh lebih dari tiga jam untuk menempuh jalur Ciawi-Cisarua yang berjarak kurang dari 20 kilometer.

Penyebab utama tersendatnya arus di jalur tersebut adalah keluar masuknya ratusan bus pariwisata ke areal parkir di wilayah Megamendung dan persimpangan Taman Safari Indonesia (TSI) di Cisarua.

Dari pukul tujuh hingga tengah hari, puluhan bus besar masuk dan parkir di beberapa lokasi parkir di wilayah Desa Lewimalang dan Desa Kopo di Kecamatan Megamendung. Sekitar 20 bus malah parkir di tepi jalan. Sementara puluhan bus lainnya tak tertampung.

Penumpang ratusan bus tersebut berjalan kaki dari tempat parkir bus menuju Taman Wisata Matahari di Desa Lewimalang dan Desa Cilember, Megamendung. Kondisi itu menambah tersendatnya arus lalu lintas di jalur Puncak.

”Hari ini memang ada 280 bus dan 120 mobil kecil yang parkir di tiga titik parkir kami. Jumlah pengunjung sekitar 20.000 orang. Sepanjang liburan sekolah kali ini, alhamdulillah, tempat wisata kami akan dikunjungi puluhan ribu wisatawan, yang sebagian besar anak-anak sekolah,” kata H Husein, juru bicara Taman Wisata Matahari (TWM).

Bus wisata

Hal yang sama juga dikatakan Yulius Suprihardo, juru bicara Taman Safari Indonesia. ”Lebih dari 100 bus yang berisi anak- anak sekolah liburan di sini. Kendaraan keluar juga lebih dari 100 unit. Setiap libur sekolah, memang padat seperti ini,” katanya.

Bus-bus wisata yang mengangkut anak-anak sekolah itu berasal dari Bogor, Bekasi, Tambun, Jakarta, Cianjur, Bandung, dan Banten.

”Kalau liburan, pasti Puncak macet kayak gini. Biang kemacetannya saat ini TWM. Sebab, lahan parkirnya di pinggir jalan. Saya dari Hankam (Cisarua) sampai Sukasari tiga jam lebih. Berangkat pukul 09.00 sampai terminal (Sukasari) pukul 11.00 lebih. Untung mobil yang ke Kediri mau menunggu,” kata Miraz (19), yang mengantar saudaranya yang akan ke Kediri.

Kompas yang tiba di persimpangan Ciawi pukul 13.28 sampai di persimpangan TSI sudah pukul 15.38. Arus lalu lintas tersendat terasa sejak memasuki tanjakan Slarong di Gadog.

Kendaraan hanya merambat sejauh 5 meter-15 meter lalu berhenti dan bergerak lagi setelah 5 hingga 10 menit kemudian. Arus lalu lintas mulai agak lancar setelah melewati kawasan parkir TWA. Kendaraan sudah bisa dipacu agak kencang setelah melewati Pasar Cisarua dan simpang TSI.

Nandang (28), sopir angkutan kota jurusan Cisarua-Sukasari, mengatakan, setiap libur, dirinya hanya bisa mencari penumpang tiga rit.

”Kalau hari biasa, narik-nya bisa sampai lima rit. Namun, kalau hari libur, paling cuma bisa tiga rit. Padahal, bensin yang dipakai untuk operasional makin banyak. Kalau hari biasa, satu rit hanya perlu Rp 25.000 buat beli bensin. Kalau libur, bisa sampai Rp 35.000 per rit,” ujarnya.

”Untuk setoran (Rp 80.000) bisa tertutup, tetapi uang yang dibawa pulang kadang enggak ada sama sekali,” katanya.

Bapak dua anak itu berharap ada solusi tepat untuk mengatasi kemacetan arus lalu lintas di jalur Puncak. ”Saya sudah lima tahun bawa angkot Cisarua. Dari dulu sampai sekarang, kalau liburan, Puncak macet. Bahkan, kemari ini, semakin macet saja,” katanya.

Tidak serius

Imam Sukarya, Sekretaris Ikatan Komunitas Kawasan Puncak dan Sekitarnya, mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dan Kepolisian Resor Bogor kurang serius dalam mengatasi kemacetan arus lalu lintas di jalur Puncak.

”Buktinya, banyak usaha yang cukup besar, seperti Cimory, dibiarkan tidak punya lahan parkir yang cukup. Lahan parkir TWM yang semrawut, tidak jelas mana pintu masuk dan keluarnya, juga tetap dibiarkan. Pedagang kaki lima tidak ditata dengan baik, wisatawan yang akan berbelanja dibiarkan kesulitan memarkir mobilnya. Mereka terpaksa parkir di jalan sehingga membuat arus lalu lintas tambah macet,” katanya

Dia juga heran dengan pemkab yang tidak juga membangun jalan alternatif yang memadai ke lokasi-lokasi wisata, khususnya ke TSI. ”Di simpang Ciawi juga harus ada jalan layang, kalau mau keluar masuk Jakarta, Bogor, Sukabumi lancar,” ungkapnya.

Kepala Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris Besar Tomex Korniawan mengatakan, arus lalu lintas jalur Puncak selama musim liburan akan terus tersendat seperti ini. Penyebab utamanya adalah infrastruktur jalan yang tidak bertambah lebar serta animo masyarakat untuk berlibur di kawasan Puncak yang tidak pernah surut.

”Siapa yang bisa larang masyarakat untuk berwisata ke Puncak. Tadi pukul 13.00 saja sudah sekitar 300 bus masuk jalur puncak. Isinya anak-anak sekolah yang mau berwisata ke TWM dan TSI. Sistem buka tutup atau one way dalam mengatur arus lalu lintas di jalur itu memang bukan solusi permanen untuk mengatasi arus lalu lintas. Itu terpaksa kami lakukan agar arus lalu lintas tidak stagnasi,” katanya.

Kepadatan arus lalu lintas di jalur tersebut hingga pukul 20.00 masih terus berlangsung, bahkan lebih padat dan tersendat dibandingkan pada siang hari.

(rts)

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau