KOMPAS.com - Tentara anak masih menjadi keprihatinan di muka bumi ini. Terlebih di kawasan bergejolak di Afrika, tentara anak amat dekat dengan kekerasan. Sama halnya juga dengan yang terjadi di Timur Tengah.
Berangkat dari situlah, Dewan Keamanan PBB sebagaimana warta Bernama pada Jumat (18/6/2010), mengadakan debat terbuka di New York terkait keprihatinan itu. Salah satu peserta acara, Qatar, melalui perwakilannya Sheikha Alia Ahmed bin Saif al Thani mengatakan negerinya menyambut baik upaya-upaya internasional untuk menghentikan rekrutmen tentara anak.
Sheika Alia yang membagikan pengalamannya mengatakan di Palestina pada periode kini tercatat 374 anak terbunuh dalam kekerasan bersenjata. Sementara, 2.086 lainnya mengalami luka-luka. "Angka ini termasuk 350 anak yang tewas serta 1.815 yang yang terluka selama operasi militer oleh Irak," kata perempuan itu.
Laporan oleh Sheika Alia juga mengatakan tujuh bocah Palestina dimanfaatkan oleh tentara Israel sebagai tameng manusia kala perang. "Berangkat dari keprihatinan ini, kiranya negara-negara mesti menghormati betul-betul norma-norma internasional perlindungan anak, bahkan di masa perang," katanya menekankan.
Norma internasional yang juga mesti memperoleh penghormatan adalah larangan merusak fasilitas pendidikan. Perlindungan terutama juga adalah kepada hak-hak anak perempuan untuk belajar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang