Maradona Tak Pernah Mati Gaya

Kompas.com - 20/06/2010, 04:19 WIB

Diego Maradona membelalakkan mata seolah bola matanya akan keluar sambil menggeleng- gelengkan kepala. Seorang reporter bertanya soal kebiasaannya mencium dan merangkul erat-erat para pemainnya. ”Cipika-cipiki” dan memeluk erat-erat pemainnya—tentu saja laki-laki—adalah bagian dari gaya pelatih Argentina itu.

Apakah Anda mengalami perubahan orientasi seksual? Begitu kira-kira pesan utama dari pertanyaan reporter tadi pada jumpa pers seusai Argentina menekuk Korea Selatan 4-1 di Stadion Soccer City, Johannesburg, Afrika Selatan, Kamis (17/6). Pertanyaan usil ini tidak diduga Maradona. Ia tampak kaget dan membelalakkan mata. Semua yang melihat ekspresi wajah lucu itu tersenyum.

”Hei, saya masih menyukai perempuan. Sekarang saya lagi berpacaran dengan Veronica, perempuan berambut pirang dan berusia 31 tahun,” kata pelatih berusia 49 tahun itu. ”Seperti itulah saya memberi selamat kepada para pemain setiap kali tampil sebagus seperti hari ini.”

Lionel Messi adalah salah satu pemain yang paling sering mendapat sambutan hangat Maradona. Dengan postur tubuh yang tingginya hampir sama, tubuh Messi sampai terangkat ketika dipeluk erat Maradona. Melihat akrabnya mereka saat berangkulan, orang akan melihat keduanya seperti anak dan bapak.

Sudah lama, dua sosok itu dianggap memiliki banyak kemiripan. Cara mengolah bola Messi dan banyak kejadian lainnya di lapangan mengingatkan publik sepak bola dunia pada gaya Maradona, saat masih menjadi pemain, dan sedang menjalani era keemasannya. Mulai dari kemampuan mengatur permainan, keistimewaan keduanya pada kaki kiri, hingga kesamaan keduanya yang pernah mencetak gol dengan tangan.

Terakhir, pada laga Argentina versus Korea Selatan, Messi tertangkap kamera fotografer dalam posisi tengah dikepung empat pemain Korsel. Foto ini mengingatkan pada foto serupa saat Maradona dikepung lima hingga enam pemain Belgia di semifinal Piala Dunia 1986 di Meksiko. Wajar, jika ada yang menyebut Messi adalah titisan mahabintang Maradona.

Kembali ke soal ”cipika-cipiki” di atas, hal itu ternyata tidak hanya dilakukan Maradona kepada pemainnya. Sebelum laga Argentina melawan Nigeria di Ellis Park, ia juga mencium pemain Nigeria. Pada akhir laga, Argentina menang 1-0. Menurut kapten Javier Mascherano, kehangatan Maradona itu selalu diperlihatkan sehari-hari di markas tim di Pretoria, tidak hanya di depan kamera.

Adegan cium-mencium ini sebenarnya bukan hal baru di panggung Piala Dunia. Di Piala Dunia 1998, bek Perancis, Laurent Blanc, selalu mencium kepala plontos kiper Fabien Barthez sebelum memulai pertandingan. Pada akhir turnamen, Perancis keluar sebagai juara setelah menaklukkan Brasil di final.

Latihan nyentrik

Namun, tidak ada yang mengalahkan gaya Maradona di Piala Dunia 2010. Semua gerak-geriknya, isyarat tubuhnya, dan ucapannya selalu menjadi magnet dan mengundang perhatian, termasuk para wartawan. Tingkah polahnya di pinggir lapangan tak pernah luput dari sorotan kamera televisi dan dikomentari penyiarnya.

Singkat kata, di mana ada Maradona, di situlah ada berita menarik. Sebelum turnamen dimulai, ia menarik perhatian media lewat beberapa jenis sesi latihannya. Dalam sebuah latihan, ia pernah menyuruh beberapa pemainnya—termasuk ia sendiri juga ikut—berdiri di bawah mistar gawang, membelakangi lapangan. Sementara sebagian pemain lainnya diminta menghujani gawang dengan tembakan bola sekeras- kerasnya.

Pada suatu kesempatan, ia juga menjadwalkan latihan tertutup untuk media pada pukul 24.00 atau tengah malam. Dengan sepak terjangnya yang kontroversial itu, hampir semua pernyataannya menjadi berita dan ”layak dikutip”. Belum lama ini, ia terlibat saling ledek dengan legenda Brasil, Pele, dan mantan bintang Perancis, Michel Platini.

Saat itu, ia dikonfrontasi wartawan yang mengutip ucapan Pele bahwa ”Maradona menjadi pelatih hanya karena butuh duit”. Sementara Platini mengatakan, Maradona hebat sebagai pemain, tetapi ”tidak” sebagai pelatih. Mendengar itu, Maradona pun membalas agar Pele sebaiknya ”balik kandang ke museum”.

Untuk Platini, Maradona menyatakan keheranannya mengapa legenda Perancis selalu merecokinya. Dalam jumpa pers seusai lawan Korsel lalu, ia mencabut ucapannya tentang Platini dan meminta maaf. Itu dilakukannya setelah ia menerima surat—dan ditunjukannya kepada wartawan—dari Platini yang mengaku tak pernah melontarkan pernyataan yang dikutip media. Untuk Pele? Tidak ada kata maaf dari Maradona.

Jarang menghukum

Terhadap para pemainnya, Maradona juga termasuk pelatih yang longgar. ”Jika seorang pemain datang terlambat latihan, kami lebih suka berbicara dengannya. Saya yakin, sikap saling memahami lebih bagus daripada menjatuhkan hukuman. Jika Anda melakukannya dengan tepat, segalanya akan berjalan lebih baik,” jelas Maradona.

Bahkan, dalam urusan seks pemainnya, ia juga amat longgar. Seperti disampaikan dokter tim Argentina, Donaro Villani, tim Argentina memberi kelonggaran dalam urusan dorongan biologis itu. ”Berhubungan seks tidak masalah (bagi pemain). Hanya jadi masalah jika pemain melakukannya pukul 2 dini hari sambil meminum sebotol sampanye,” katanya. Nah!

(Mh Samsul Hadi dari Johannesburg, Afsel)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau