Piala dunia 2010

Kematian Semangat Juara Perancis

Kompas.com - 21/06/2010, 12:27 WIB

JOHANNESBURG, KOMPAS.com Entah apa yang tengah terjadi dengan tim nasional Perancis saat ini. Penampilan mereka pada Piala Dunia Afrika Selatan 2010 sangat jauh dari kata menggembirakan. Para pemain kehilangan semangat juang mereka dan sang pelatih pun tak mampu menaikkan moral atau membangun keharmonisan dalam tim.

Wajar bila kemudian media menilai skuad Les Blues kini dihuni oleh sekelompok "pemberontak". Sayangnya, para "pemberontak" ini bukanlah petani-petani yang secara lantang berteriak meminta potongan brioche atau sedikit keadilan pada zaman tirani masa lalu. Para "pemberontak" ini cuma sekelompok pesepak bola kaya yang punya kehidupan penuh dengan kemewahan dan fantasi, tapi tak tahu arti kata "bersatu" atau "respek".

Hal ini bisa dilihat dari tingkah laku mereka yang persis seperti sekumpulan anak-anak manja nan menyebalkan. Mereka menolak berlatih, memaki pelatih, hingga "mengamuk" di depan kamera televisi.

"Semua orang di dunia pasti tengah menghujat kami sekarang. Saya sangat geram karena kami tidak lagi bermain sepak bola seperti dulu," keluh Franck Ribery.

Apa yang terjadi dengan "Tim Ayam Jantan" saat ini memang sangat memalukan. Sungguh jauh berbeda dengan pasukan Piala Dunia 1998 ketika sepak bola Perancis merasakan nikmatnya gelar juara dari sebuah legiun multietnis mereka. Saat itu para "Black, Blancs, and Beurs" atau "Hitam, Putih, dan Arab" kompak bahu-membahu meraih impian mereka jadi yang terbaik di jagat sepak bola dunia.

"Legion of Dishonor"

Sekarang, Patrice Evra dkk boleh melupakan medali "La Belle France", yang mungkin akan dapat mereka raih bila mampu berprestasi. Sebaliknya, mereka justru lebih layak mendapat gelar Legion of Dishonor alias "Pasukan tanpa Kehormatan" akibat performa plus perangai buruk mereka di dalam maupun di luar lapangan.

Pelatih Raymond Domenech pun gagal membuat tim yang solid dan harmonis. Selama enam tahun masa kepelatihannya, Domenech telah membuktikan diri sebagai pelatih paling menyedihkan yang pernah dimiliki Perancis.

Kendati bermaterikan pemain-pemain bintang yang bermain di klub-klub besar Eropa, Domenech tak sanggup memoles mereka menjadi satu tim yang kompak. Sebaliknya, skuad Perancis justru terlihat kepayahan untuk bermain efektif dan mumpuni.

Meski begitu, apa yang tengah terjadi di tubuh timnas Perancis bukanlah sepenuhnya salah pelatih. Federasi Sepak Bola Perancis atau French Football Federation (FFF) juga harus bertanggung jawab atas "keyakinan" mereka yang terlalu lama terhadap Domenech. Media menilai, FFF harusnya "membuang" Domenech pasca-Perancis gagal total pada Piala Eropa 2008.

Parahnya lagi, Domenech bahkan sanggup melakukan hal gila dengan melamar rekannya, Estelle Dennis, secara langsung di televisi, hanya beberapa saat ketika Perancis tereliminasi dari Piala Eropa 1998. Skandal inilah yang kemudian berbuntut dengan tak lagi dihormatinya sosok Domenech di tubuh timnas.

Ditambah dengan keputusan-keputusannya yang dianggap tak populer dan perselisihan dengan para pemainnya sendiri, hal-hal ini kian menjadikan Domenech sebagai "musuh nomor satu" Perancis.

Pendek kata, tak ada satu pun perilaku pemain atau pelatih Domenech yang masuk kategori bagus. Kejahatan paling besar dari skuad ini adalah gagal menaikkan prestasi sepak bola Perancis layaknya timnas Piala Dunia 1998, yang dimotori Zinedine Zidane.

Kegagalan Perancis mencetak gol dan meraih kemenangan dalam dua pertandingan pada penyisihan Grup A Piala Dunia 2010 membuat posisi mereka terancam untuk pulang lebih awal. Kini, semua orang bisa menebak apa yang bakal terjadi di pertandingan terakhir mereka kontra Afrika Selatan.

Yang terlintas di benak rakyat Perancis saat ini hanyalah "pesona tim pesakitan". Tim yang tercerai berai ini telah menghancurkan segala sejarah dan ekspektasi jutaan warga multietnis Perancis. Ketegangan demi ketegangan yang terjadi di tubuh timnas plus ketidakmampuan Domenech untuk mengubah Perancis jadi tim juara lagi kian memadamkan asa warga Perancis.

Patut dinanti apa yang akan dilakukan anak-anak asuh Domenech pada laga terakhir mereka pada penyisihan Grup A Piala Dunia 2010. Mungkinkah Perancis akan mencoba bangkit dan menyelamatkan sedikit kehormatan mereka atau justru mereka malah akan memperpanjang aib mereka dengan lagi-lagi bermain manja?

Well, satu hal yang pasti, semangat juara ala skuad 1998 telah lama mati.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau