Piala dunia

Tim Perancis Harus Fokus

Kompas.com - 22/06/2010, 05:18 WIB

KNYSNA, SENIN - Zinedine Zidane mengatakan bahwa Perancis mampu mengatasi persoalan internalnya. Zidane yang pernah membawa tim Perancis memenangi Piala Dunia 1998 ini berharap, tim Perancis tetap fokus pada pertandingan dan tidak saling menyalahkan.

Harapan Zidane itu bukan sesuatu yang muskil. Skuad Perancis akhirnya melanjutkan latihan, Senin (21/6) pascamogok pemain yang dipicu kepulangan Nicolas Anelka. Atas dasar kesadaran, mau tak mau mereka harus berlatih untuk melawan tim Afrika Selatan.

Para pemain berlarian sepanjang lapangan, sementara Pelatih Raymond Domenech berdiskusi dengan staf pelatih, menjelang laga melawan Afrika Selatan. Dengan atau tanpa keributan, pertunjukan tetap harus berlanjut.

Kamera-kamera televisi terus menyorot tempat berlatih tim Perancis di Knysna. Para wartawan ingin tahu kelanjutan drama ini. Setelah 15 menit wartawan diminta meninggalkan lokasi latihan. Juru bicara tim mengatakan, latihan berjalan normal. ”Semuanya hadir,” katanya.

Agaknya, semua telah berjalan normal. Namun, bukan berarti kehebohan itu lantas dilupakan. Zidane mengkritik aksi para pemain Perancis yang sebelumnya menolak latihan.

”Saya tidak sepakat mereka lantas tidak mau berlatih,” kata pemain yang pensiun setelah membawa timnya ke final Piala Dunia 2006 ini.

Ia menambahkan, ada dua hal yang akan selalu diingat di Piala Dunia ini. Sang pemenang dan kenyataan bahwa tim Perancis menolak untuk datang ke tempat latihan.

Seperti diwartakan, striker tim Perancis, Nicolas Anelka, dipulangkan Sabtu pekan lalu setelah mencerca Domenech di ruang ganti. Pemecatan pemain berusia 31 tahun oleh Federasi Sepak Bola Perancis (FFF) ini telah disepakati semua delegasi Perancis di Piala Dunia.

Anelka mempertanyakan taktik pelatihnya sekaligus menghina dengan kata-kata kasar seusai babak pertama melawan Meksiko.

Kapten tim Perancis, Patrice Evra, Minggu, berteriak-teriak saat berlatih fisik bersama Robert Duverne. Ketika para pemain menolak untuk berlatih, Duverne yang terlihat geram lantas membanting stopwatch dengan penuh frustrasi.

Menyusul kekacauan itu, direktur tim, Jean-Louis Valentin, pun mengundurkan diri, menilai peristiwa ini sebagai ”skandal”. Ia menyesalkan peristiwa tersebut, terlebih lagi itu menimpa tim level top.

Sebaliknya para pemain berpendapat, FFF sama sekali tidak berupaya untuk melindungi tim. ”Keputusan itu (mengusir Anelka) hanya berdasarkan pada fakta yang dilaporkan media massa tanpa berkonsultasi dengan para pemain,” kata sejumlah pemain.

Kehebohan itu juga mengusik Presiden Perancis Nicolas Sarkozy untuk ikut campur. Ia meminta Menteri Olahraga Roselyne Bachelot tetap berada di Afrika Selatan guna berbicara dengan Evra, Domenech, dan Presiden FFF Jean-Pierre Escalettes.

Cemooh

Media massa di Perancis saling melempar cemoohan dan ejekan kepada ”Les Bleus”, Senin. Tidak hanya ditujukan kepada pelatih, tetapi juga para pemain dan federasi. Semua sepakat bahwa krisis ini memalukan jagat olahraga dan negara.

”Tim Perancis memalukan kita semua. Setiap hari. Les Bleus menciptakan standar baru mengenai perilaku yang tidak semestinya,” tulis tabloid Le Parisien. Di halaman depan tertulis pendek: ”Pemberontakan”.

Harian olahraga L’Equipe—yang pertama kali membuka dampratan Anelka kepada Domenech—menyalahkan Evra, yang memimpin persekutuan.

”Patrice Evra benar-benar menunjukkan, ia bingung dengan perannya sebagai kapten. Kapten seharusnya menjadi pemimpin grup. ”Ia tidak memiliki kapasitas ataupun karisma. Juga kualitas sebagai kapten,” tulis harian itu.

Menteri Olahraga Perancis Roselyne Bachelot mengatakan, Perancis merasa sangat geram akibat keadaan ini. Namun, Domenech yang eksentrik itu mengatakan, Anelka hanyalah seseorang yang duduk di pojok dan menceracau.

Hal ini menjadi penting, lanjut Domenech kepada televisi TF1, karena telah dimuat surat kabar di halaman depan. ”Pers memuat kehidupan internal tim. Menurut saya, ini persoalan internal. Sudah terjadi dan dibersihkan,” katanya. (AFP/REUTERS/AP/IVV)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau