KNYSNA, SENIN - Zinedine Zidane mengatakan bahwa Perancis mampu mengatasi persoalan internalnya. Zidane yang pernah membawa tim Perancis memenangi Piala Dunia 1998 ini berharap, tim Perancis tetap fokus pada pertandingan dan tidak saling menyalahkan.
Harapan Zidane itu bukan sesuatu yang muskil. Skuad Perancis akhirnya melanjutkan latihan, Senin (21/6) pascamogok pemain yang dipicu kepulangan Nicolas Anelka. Atas dasar kesadaran, mau tak mau mereka harus berlatih untuk melawan tim Afrika Selatan.
Para pemain berlarian sepanjang lapangan, sementara Pelatih Raymond Domenech berdiskusi dengan staf pelatih, menjelang laga melawan Afrika Selatan.
Kamera-kamera televisi terus menyorot tempat berlatih tim Perancis di Knysna. Para wartawan ingin tahu kelanjutan drama ini. Setelah 15 menit wartawan diminta meninggalkan lokasi latihan. Juru bicara tim mengatakan, latihan berjalan normal. ”Semuanya hadir,” katanya.
Agaknya, semua telah berjalan normal. Namun, bukan berarti kehebohan itu lantas dilupakan. Zidane mengkritik aksi para pemain Perancis yang sebelumnya menolak latihan.
”Saya tidak sepakat mereka lantas tidak mau berlatih,” kata pemain yang pensiun setelah membawa timnya ke final Piala Dunia 2006 ini.
Ia menambahkan, ada dua hal yang akan selalu diingat di Piala Dunia ini. Sang pemenang dan kenyataan bahwa tim Perancis menolak untuk datang ke tempat latihan.
Seperti diwartakan, striker tim Perancis, Nicolas Anelka, dipulangkan Sabtu pekan lalu setelah mencerca Domenech di ruang ganti. Pemecatan pemain berusia 31 tahun oleh Federasi Sepak Bola Perancis (FFF) ini telah disepakati semua delegasi Perancis di Piala Dunia.
Anelka mempertanyakan taktik pelatihnya sekaligus menghina dengan kata-kata kasar seusai babak pertama melawan Meksiko.
Kapten tim Perancis, Patrice Evra, Minggu, berteriak-teriak saat berlatih fisik bersama Robert Duverne. Ketika para pemain menolak untuk berlatih, Duverne yang terlihat geram lantas membanting stopwatch dengan penuh frustrasi.
Menyusul kekacauan itu, direktur tim, Jean-Louis Valentin, pun mengundurkan diri, menilai peristiwa ini sebagai ”skandal”. Ia menyesalkan peristiwa tersebut, terlebih lagi itu menimpa tim level top.
Sebaliknya para pemain berpendapat, FFF sama sekali tidak berupaya untuk melindungi tim. ”Keputusan itu (mengusir Anelka) hanya berdasarkan pada fakta yang dilaporkan media massa tanpa berkonsultasi dengan
Kehebohan itu juga mengusik Presiden Perancis Nicolas Sarkozy untuk ikut campur. Ia meminta Menteri Olahraga Roselyne Bachelot tetap berada di Afrika Selatan guna berbicara dengan Evra, Domenech, dan Presiden FFF Jean-Pierre Escalettes.
Media massa di Perancis saling melempar cemoohan dan ejekan kepada ”Les Bleus”, Senin. Tidak hanya ditujukan kepada pelatih, tetapi juga para pemain dan federasi. Semua sepakat bahwa krisis ini memalukan jagat olahraga dan negara.
”Tim Perancis memalukan kita semua. Setiap hari. Les Bleus menciptakan standar baru mengenai perilaku yang tidak semestinya,” tulis tabloid Le Parisien. Di halaman depan tertulis pendek: ”Pemberontakan”.
Harian olahraga L’Equipe—yang pertama kali membuka dampratan Anelka kepada Domenech—menyalahkan Evra, yang memimpin persekutuan.
”Patrice Evra benar-benar menunjukkan, ia bingung dengan perannya sebagai kapten. Kapten seharusnya menjadi pemimpin grup. ”Ia tidak memiliki kapasitas ataupun karisma. Juga kualitas sebagai kapten,” tulis harian itu.
Menteri Olahraga Perancis Roselyne Bachelot mengatakan, Perancis merasa sangat geram akibat keadaan ini. Namun, Domenech yang eksentrik itu mengatakan, Anelka hanyalah seseorang yang duduk di pojok dan menceracau.
Hal ini menjadi penting, lanjut Domenech kepada televisi TF1, karena telah dimuat surat kabar di halaman depan. ”Pers memuat kehidupan internal tim. Menurut saya, ini persoalan internal. Sudah terjadi dan dibersihkan,” katanya.