Jelang perancis vs afrika selatan

Perancis Krisis!

Kompas.com - 22/06/2010, 15:25 WIB

BLOEMFONTEIN, KOMPAS.com Pelatih Raymond Domenech menyebut tindakan pemain tim nasional Perancis yang melakukan "pemberontakan" pascapemulangan Nicolas Anelka sebagai tindakan yang sangat bodoh. Domenech menilai, keputusan Federasi Sepak Bola Perancis alias French Federation Football atau FFF memulangkan Anelka sudah tepat.

Anelka dipulangkan FFF lantaran "menyerang" Domenech dengan kata-kata yang tidak pantas. Penyerang Chelsea itu menyebut Domenech dengan perkataan, "dirty son of a whore" atau "anak pelacur" saat ia diganti pada babak kedua laga Perancis lawan Meksiko, yang berakhir dengan kekalahan Les Blues 0-2.

Begitu mengetahui kejadian ini, pihak FFF langsung mengambil tindakan tegas dengan memulangkan Anelka. Keputusan ini kemudian disetujui oleh Domenech.

"Saya ingin menegaskan bahwa sanksi terhadap Nicolas Anelka telah diputuskan. Saya mendukung keputusan federasi," ucap Domenech pada konferensi pers beberapa hari lalu.

"Tak ada yang bisa bersikap seperti ini, baik di kamar ganti maupun di mana pun itu. Para atlet dunia harus belajar dari contoh ini," tambahnya.

Suasana kian panas ketika kapten Patrice Evra terlibat adu argumen dengan Pelatih Fisik Robert Duverne dan Direktur Tim Jean-Louis Valentin. Konon, Evra mengucapkan kata "muak dan jijik" dengan perkembangan timnya terhadap dua orang tersebut.

Namun, pertikaian Evra ini belum sampai pada titik final krisis di tubuh Perancis. Situasi lebih sulit justru terjadi saat Domenech mendapati semua pasukannya sepakat untuk mendukung Anelka dengan menolak berlatih, dan kemungkinan tak akan bertanding lawan Afrika Selatan.

"Ini penyimpangan. Kami harus berbuat sesuatu. Rakyat Perancis punya hak untuk tahu. Apa yang harus saya katakan adalah saya tidak mendukung tindakan ini," ucap Domenech.

"Bersama Presiden FFF Jean-Pierre Escalettes, kami telah mencoba meyakinkan tim bahwa tindakan mereka ini bodoh. Saya tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Apa yang mereka lakukan sama sekali tidak dipikirkan. Kami membuang banyak energi. Tak ada satu kata pun yang bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi. Saya harap kami bisa menemukan solusi untuk menyelesaikan ini," tambahnya.

Meski Domenech tak membantah spekulasi perihal pemboikotan pertandingan lawan Afsel, Domenech tetap berusaha untuk meyakinkan para pemainnya agar tetap bermain demi menjaga kehormatan negara.

"Yang saya harap dari semua pemain dan juga rakyat Perancis adalah bukan lagi mencari-cari alasan atau kesalahan, melainkan sikap dan hasil di atas lapangan," tuntut Domenech.

"Tanggung jawab saya adalah menyiapkan mereka untuk pertandingan esok dan hanya itu yang penting. Mereka harus bermain dengan hati nurani mereka dan mungkin kami bisa bermimpi bisa lolos dari babak ini," lanjut pelatih yang membawa Perancis lolos ke final pada Piala Dunia 2006.

Tak cuma Domenech yang berusaha keras membujuk pemainnya. Menteri Olahraga Perancis Roselyne Bachelot juga turut meminta para pemain untuk mau bermain pada laga terakhir penyisihan Grup A di Stadion Free State, malam nanti.

"Saya bilang pada pemain bahwa mereka telah merusak citra Perancis. Ini adalah bencana moral dalam sepak bola Perancis. Saya bilang kepada mereka bahwa mereka bukan lagi sosok pahlawan bagi anak-anak Perancis. Mereka telah merusak mimpi bangsa mereka sendiri, teman-teman mereka, dan suporter," papar Bachelot seperti dikutip dari soccernet.

Ya, kita lihat saja apakah skuad "Les Blues" masih punya harga diri dan semangat juang yang tersisa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau