”Perang besar” pada babak 16 besar tak terhindarkan lagi, Jerman versus Inggris. Dua hal memicu duel hidup-mati dua kekuatan besar sepak bola Eropa itu. Pertama, gol ”injury time” gelandang Amerika Serikat, Landon Donovan, ke gawang Aljazair. Kedua, kemenangan tim ”Panser” Jerman atas Ghana 1-0 (0-0) pada laga Grup D di Stadion Soccer City, Johannesburg, Rabu (23/6) atau Kamis dini hari WIB.
Dua peristiwa tersebut menempatkan Jerman sebagai juara Grup D dan di babak 16 besar bakal menantang Inggris sebagai runner-up
Tiket 16 besar itu bisa lepas dari tangan mereka andai saja, misalnya, mereka ditahan imbang Ghana dan pada laga terpisah Serbia memukul Australia. Serbia ternyata kalah dari Australia 1-2, sekaligus menyelamatkan Ghana dan juga seluruh Afrika. Meski kalah, Ghana tetap lolos sebagai runner-up Grup D dan menghadapi Amerika Serikat di 16 besar.
Kemenangan Jerman ditentukan gelandang Mesut Oezil lewat golnya pada menit ke-60. ”(Duel lawan Inggris) bakal spesial. Begitu banyak sejarah di antara kami (Jerman dan Inggris). Mereka punya pemain-
”Saya telah mengamati laga-laga mereka,” kata Loew. ”Mereka belum memperlihatkan penampilan terbaik sejauh ini, tetapi jangan pernah membuat kesalahan. Mereka tim luar biasa. Inggris punya segudang pengalaman, jadi mereka berbahaya.”
Di kancah Piala Dunia, Jerman sudah empat kali bertemu Inggris. dan tim ”St George Cross” Inggris hanya menang sekali, yakni di final tahun 1966 dengan skor 4-2 di kandang sendiri, Wembley. Pertemuan terakhir mereka terjadi pada semifinal
Kembali pada laga Ghana versus Jerman, kedua tim menampilkan taktik formasi starter sama, yakni 4-2-3-1. Pelatih Jerman memasang Cacau sebagai ujung tombak tunggal, ditopang oleh tiga gelandang menyerang: yakni Lukas Podolski (kiri), Mesut Oezil (tengah), dan Thomas Mueller (kanan).
Gelandang Bastian Schweinsteiger mengatur ritme permainan di belakang mereka, dibantu Sami Khedira. Formasi itu tidak cukup kuat menembus kokohnya barisan pertahanan Ghana. Jerman lemah dalam umpan-umpan silang dan tidak meyakinkan dalam bola-bola terobosan ke jantung pertahanan.
Suporter Jerman di Stadion Soccer City berusaha menyuntikkan semangat dengan meneriakkan ”Deutchland! Deutchland! Deutchland!” Oezil seharusnya bisa mencetak gol lebih cepat di babak pertama saat ia tinggal berhadapan satu lawan satu dengan kiper Ghana, Richard Kingson. Namun, tendangannya terlalu lemah dan diblok Kingson.
”Saya seharusnya membuat 1-0 di babak pertama, saya kecewa dengan diri sendiri,” kata Oezil (21), gelandang Werder Bremen, yang terpilih menjadi pemain terbaik laga. Buntu lewat gempuran umpan silang dan terobosan, Jerman baru memanen gol lewat tendangan Oezil dari luar kotak penalti. Loew menyebut barisan depan timnya tidak cukup tajam.
Namun, kemenangan Jerman tak terlepas dari penampilan cemerlang kiper Manuel Neuer. Ia beberapa kali dengan tenang menahan tendangan-tendangan pemain Ghana meski teror suporter Ghana di tribune belakang gawangnya tak pernah berhenti. Bek kanan dan kapten Philipp Lahm juga dua kali ikut menyelamatkan Neuer.
Meski tampil dengan pola dasar sama seperti Jerman, yaitu 4-2-3-1 dengan ujung tombak Asamoah Gyan., Ghana sangat agresif dan cepat dalam menyerang. Saat menekan, pola itu dengan cepat berubah menjadi 4-3-3 dengan naiknya pemain sayap Prince Tagoe (kiri) dan Andre Ayew (kanan).
Satu kelemahan tim asuhan Pelatih Milovan Rajevac ini terkesan ingin mengharapkan gol cantik. Beberapa kali kesempatan, pemain Ghana berlama-lama mengolah bola di kotak penalti dengan harapan bisa mencetak gol indah. Ini tidak pas untuk menghadapi Jerman yang tanpa kompromi membuang bola saat ditekan.
Baru di babak kedua, Ghana mengubah pendekatan itu dengan lebih banyak melepaskan tendangan begitu ada kesempatan. Satu peluang emas didapat Tagoe di sisi kiri lapangan saat tinggal berhadapan satu lawan satu dengan kiper Neuer. Namun, sepakannya dipatahkan Neuer.
Ayew juga mendapat ruang tembak persis di depan gawang Jerman, tetapi tendangannya berbelok arah setelah menerpa kaki Lahm. ”Ini laga sangat sulit, tetapi kami melawan dan itu sudah cukup membuat kami lolos. Kami punya banyak peluang terbuang, tetapi yang penting kami lolos ke (16 besar),” kata Ayew.
Sebagian suporter Ghana telah meninggalkan tribune stadion, yang dipenuhi 83.391 penonton, sebelum laga memasuki injury time. Mereka mengira timnya sudah tersingkir dan tidak ada harapan lagi bagi wakil Afrika di Piala Dunia 2010.
Akan tetapi, suasana duka itu berubah menjadi ledakan euforia, membuat Stadion Soccer City terasa bergetar saat petugas mengumumkan kemenangan Australia 2-1 atas Serbia. (Mh Samsul Hadi