JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah kalangan menilai perseteruan sengit yang terjadi antara Partai Golkar dan Nasional Demokrat (Nasdem) adalah kelanjutan persaingan dan pertarungan lama yang terjadi di internal partai politik berlambang pohon beringin tersebut, terutama terkait perebutan posisi Ketua Umum Partai Golkar beberapa waktu lalu.
Tidak hanya itu, perseteruan yang terjadi juga diyakini banyak diwarnai dengan rivalitas yang bersifat emosional sekaligus personal antara dua tokoh utama Partai Golkar dan Nasdem, antara Aburizal Bakrie (Ical) dan Surya Paloh, yang diyakini pula berlatar belakang dan mempunyai karakteristik yang lebih kurang sama.
Penilaian itu disampaikan peneliti Lembaga Survei Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, Jumat (25/6/2010), saat dihubungi Kompas per telepon.
“Saya yakin sikap keras Partai Golkar karena memang khawatir dengan langkah Nasdem, apalagi mengingat di dalam organisasi kemasyarakatan itu ada banyak kadernya. Keduanya bersaing di lahan yang sama. Kekuatan Paloh pun di dalam Partai Golkar tidak dapat dipandang enteng selama ini,” ujar Burhanuddin.
Burhanuddin juga sangat yakin, jika sampai akhirnya nanti perseteruan berujung pada dideklarasikannya Nasdem menjadi partai politik (parpol), hal itu akan berdampak sedikitnya seperlima hingga sepertiga kader Partai Golkar di pusat dan daerah akan hengkang mengikuti Paloh.
Namun, diakui pula tidak mudah bagi Nasdem untuk maju sebagai prapol baru kelak, apalagi saat ini Partai Golkar pun sedemikian keras memperjuangkan peraturan yang meningkatkan nilai ambang batas elektoral (electoral threshold), yang tentunya bertujuan mempersulit parpol-parpol baru.
“Selain dari sisi persaingan elektoral, saya juga melihat ada semacam pernak-pernik persaingan (pribadi) antara Ical dan Paloh. Hal itu tampak, misalnya, dari kekritisan Media Grup milik Paloh, yang tidak hanya kepada Partai Golkar, namun juga ke Ical serta perusahaan dan bisnisnya. Saya mengistilahkan pernak-pernik ini balapan personal dan politis (personal and political race) antara keduanya,” ujar Burhanuddin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang