Golkar-nasdem

Kekuatan Paloh Jangan Dianggap Enteng

Kompas.com - 25/06/2010, 22:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah kalangan menilai perseteruan sengit yang terjadi antara Partai Golkar dan Nasional Demokrat (Nasdem) adalah kelanjutan persaingan dan pertarungan lama yang terjadi di internal partai politik berlambang pohon beringin tersebut, terutama terkait perebutan posisi Ketua Umum Partai Golkar beberapa waktu lalu.

Tidak hanya itu, perseteruan yang terjadi juga diyakini banyak diwarnai dengan rivalitas yang bersifat emosional sekaligus personal antara dua tokoh utama Partai Golkar dan Nasdem, antara Aburizal Bakrie (Ical) dan Surya Paloh, yang diyakini pula berlatar belakang dan mempunyai karakteristik yang lebih kurang sama.

Penilaian itu disampaikan peneliti Lembaga Survei Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, Jumat (25/6/2010), saat dihubungi Kompas per telepon.

“Saya yakin sikap keras Partai Golkar karena memang khawatir dengan langkah Nasdem, apalagi mengingat di dalam organisasi kemasyarakatan itu ada banyak kadernya. Keduanya bersaing di lahan yang sama. Kekuatan Paloh pun di dalam Partai Golkar tidak dapat dipandang enteng selama ini,” ujar Burhanuddin.

Burhanuddin juga sangat yakin, jika sampai akhirnya nanti perseteruan berujung pada dideklarasikannya Nasdem menjadi partai politik (parpol), hal itu akan berdampak sedikitnya seperlima hingga sepertiga kader Partai Golkar di pusat dan daerah akan hengkang mengikuti Paloh.

Namun, diakui pula tidak mudah bagi Nasdem untuk maju sebagai prapol baru kelak, apalagi saat ini Partai Golkar pun sedemikian keras memperjuangkan peraturan yang meningkatkan nilai ambang batas elektoral (electoral threshold), yang tentunya bertujuan mempersulit parpol-parpol baru.

“Selain dari sisi persaingan elektoral, saya juga melihat ada semacam pernak-pernik persaingan (pribadi) antara Ical dan Paloh. Hal itu tampak, misalnya, dari kekritisan Media Grup milik Paloh, yang tidak hanya kepada Partai Golkar, namun juga ke Ical serta perusahaan dan bisnisnya. Saya mengistilahkan pernak-pernik ini balapan personal dan politis (personal and political race) antara keduanya,” ujar Burhanuddin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau