Jerman Pantas Jadi Unggulan

Kompas.com - 28/06/2010, 04:41 WIB

Bloemfontain, Minggu - Setelah menghancurkan Inggris, 4-1 (2-1), di Stadion Free State, Bloemfontain, Minggu (27/6), Jerman pantas menjadi unggulan. Jerman bersiap menghadapi Argentina atau Meksiko di perempat final hari Sabtu, 3 Juli 2010. Sampai berita ini diturunkan, Argentina sedang menghadapi Meksiko.

Inggris akhirnya takluk di tangan Jerman, tetapi sebuah golnya di babak pertama dianulir wasit Jorge Larrionda (Uruguay) yang tidak mengesahkan gol Frank Lampard. Padahal, dalam tayangan ulang televisi, bola terlihat telah masuk ke gawang.

Pemain-pemain Inggris sempat merayakan gol, termasuk pelatih mereka, Fabio Capello, tetapi Larrionda tidak mengesahkan gol itu dan pertandingan tetap berjalan dengan bola dikuasai pemain-pemain Jerman. Padahal, seandainya tendangan Lampard disahkan menjadi gol, kedudukan menjadi imbang 2-2.

Inggris sebelumnya tertinggal dua gol lewat aksi Miroslav Klose dan Lukas Podolski sebelum memperkecil kedudukan lewat gol tandukan Matthew Upson.

Keputusan kontroversial itu seperti mengingatkan pada kenangan Piala Dunia 1966. Namun, dalam peristiwa itu kejadiannya terbalik. Ketika itu Inggris berada di pihak yang diuntungkan.

Dalam pertandingan final di Stadion Wembley, waktu itu pemain Jerman, Wolfgang Weber, menyamakan kedudukan, 2-2. Hasil itu membuat pertandingan dilanjutkan dengan babak tambahan.

Ketika itu Jerman sudah di atas angin, sebelum datang gol kontroversial dari pemain Inggris, George Hurst. Menurut pemain Jerman, jelas bola belum masuk ke gawang, tetapi wasit mengesahkannya menjadi gol.

Kedudukan pun berubah menjadi 3-2 untuk Inggris yang kemudian berhasil menambah satu gol lagi dan menang 4-2.

”Inggris tersingkir karena keputusan yang mengerikan. Benar-benar keputusan yang sangat keliru,” ujar mantan pemain nasional Inggris, Alan Shearer, seperti dikutip BBC.

Pertandingan antara Inggris dan Jerman berlangsung menegangkan. Pada awal pertandingan, kedua tim bermain dalam tempo lambat untuk menemukan irama permainan sekaligus mencari kelemahan lawan.

Pertahanan lemah

Jerman baru mempercepat tempo pertandingan setelah memasuki menit ke-15. Tekanan demi tekanan tak mampu dibendung sektor pertahanan Inggris yang terlihat sangat lemah membaca arah permainan bola pemain-pemain Jerman.

Sebuah kesalahan fatal harus dibayar Inggris. Pemain belakang mereka gagal mengantisipasi tendangan langsung penjaga gawang Jerman, Manuel Neuer. Bola yang menuju jantung pertahanan Inggris tepat jatuh di kaki Klose yang dengan mudah mengecoh Matthew Upson sebelum melepaskan tembakan keras tanpa mampu dibendung David James.

Gol Klose membuat pemain Inggris kalut. Belum sempat membenahi permainan, mereka kembali dikejutkan gol Podolski.

Lagi-lagi gol ini lebih karena buruknya pertahanan Inggris. Pemain Jerman membuat kerja sama yang baik diawali pergerakan Mesut Oezil yang memberikan umpan matang kepada Klose yang dilanjutkan ke Thomas Mueller sebelum memberikan umpan matang kepada Podolski.

Meski berada di bawah tekanan, Inggris masih bisa bangkit. Hanya lima menit berselang Upson mencetak gol memanfaatkan umpan silang Steven Gerrard.

Gol itu semakin meningkatkan semangat pemain Inggris sampai terjadinya keputusan kontroversial Larrionda yang tidak mengesahkan tendangan Lampard menjadi gol.

Di babak kedua, tempo pertandingan tetap cepat. Inggris terus berusaha mengejar, tetapi para pemain Jerman juga tak mengendurkan tekanan.

Petaka bagi Inggris akhirnya datang ketika Mueller mencetak dua gol hanya dalam tempo tiga menit untuk mengubah kedudukan menjadi 4-1. Lagi-lagi gol ini tercipta karena buruknya koordinasi pertahanan Inggris.

”Sulit bagi kami menerima kekalahan ini. Terlepas dari keputusan kontroversial, Jerman memang tampil sangat bagus,” ujar Capello.

Bagi Inggris, kekalahan ini menambah rekor buruk pertemuan mereka dengan Jerman di Piala Dunia. Inggris terakhir kali menang pada Piala Dunia 1966. Pada Piala Dunia berikutnya tahun 1970, Inggris dipukul 2-3 di babak perempat final.

Setelah itu, 12 tahun kemudian, Inggris kembali bertemu dengan Jerman di babak penyisihan grup Piala Dunia tahun 1982 di Spanyol. Kedua tim bermain imbang 0-0.

Tahun 1990 di Italia, Inggris kembali jumpa Jerman. Kali ini mereka bertemu di babak semifinal. Ketika itu Jerman unggul terlebih dahulu lewat gol Andreas Brehme pada menit 60.

Akan tetapi, Inggris memperpanjang napas lewat gol balasan Gary Lineker pada menit ke-80 sampai babak tambahan 2 x 15 menit. Namun, Inggris tetap menjadi pecundang setelah Stuart Pierce dan Chris Waddle gagal mengeksekusi penalti.

Kemenangan Jerman atas Inggris membawa mereka ke babak perempat final. Tim polesan Joachim Loew kemungkinan besar akan berjumpa dengan Argentina. Sampai berita ini turun, Argentina masih menghadapi Meksiko di Stadion Soccer City, Johannesburg. (OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau