JAKARTA, KOMPAS.com — Majalah Tempo edisi 28 Juni-4 Juli 2010 yang terbit Senin (28/6/2010) langka di pasaran. Sejumlah penjaga toko majalah, lapak, hingga loper-loper koran dan majalah di Jakarta mengatakan, pada edisi kali ini mereka nyaris kehabisan stok.
Itu terlihat dari pantauan di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jalan HOS Cokroaminoto, Jalan Diponegoro, hingga Jalan MH Thamrin, Jakarta.
"Habis diborong polisi," ujar Ahmad, seorang pemilik lapak koran dan majalah yang ditemui Kompas.com di depan Pasar Festival, Jakarta Selatan, Senin sore.
Ahmad yang mengaku memiliki tiga majalah Tempo mematok harga Rp 50.000 per majalah. Padahal, harga normal majalah tersebut hanya Rp 27.000.
Sementara itu, di toko majalah News Stand di Pasar Festival di pusat perbelanjaan Setiabudi 1, majalah bergambar polisi yang sedang membawa beberapa celengan babi tersebut tak tampak.
Hal yang sama terjadi di sejumlah lapak koran dan majalah di Jalan HOS Cokroaminoto, Jalan Diponegoro, dan Jalan MH Thamrin.
Pada umumnya, mereka memberikan keterangan serupa. Sementara itu, dua loper koran yang ditemui Kompas.com di Jalan Diponegoro memasang harga Rp 35.000 per majalah.
Loper mengaku bernama Anton itu menyebutkan, kali ini dia hanya mendapat empat eksemplar Tempo dengan keuntungan Rp 4.000 per eksemplar. "Saya harus setor Rp 31.000 per majalah ke bos saya," ujar Anton.
Sebelumnya, saban Senin, Anton mengaku mampu menjual majalah Tempo secara eceran sebanyak 15 buah. Untuk setiap majalah, Anton mengaku memperoleh laba Rp 5.000 karena dia hanya menyetor Rp 22.000 per eksemplar.
Anton menceritakan, agen-agen majalah Tempo di Blok M dan Ciledug sempat menahan stok majalah dan hanya menjualnya kepada langganan.
Majalah Tempo yang menurunkan berita utama berjudul "Rekening Gendut Perwira Polisi" memang dikabarkan diborong seseorang berseragam polisi Senin pagi ini.
Majalah tersebut membeberkan sejumlah petinggi kepolisian yang diduga melakukan transaksi keuangan mencurigakan. Kapolda Kalimantan Timur Inspektur Jenderal Mathius Salempang dituliskan memiliki rekening Rp 2.088.000.000 dengan sumber dana yang tidak jelas.
Pada 29 Juli 2005, menurut majalah tersebut, Mathius memindahkan dana Rp 2 miliar ke rekening lain atas nama seseorang yang tidak diketahui hubungannya.
Begitu juga Kepala Divisi Pembinaan Hukum Kepolisian Badrodin Haiti. Majalah tersebut melaporkan, jenderal bintang dua itu dilaporkan membeli polis asuransi PT Prudential Life Assurance sebesar Rp 1,1 miliar.
Asal dananya dilaporkan berasal dari pihak ketiga. Jenderal-jenderal lainnya yang turut dilaporkan adalah Kepala Korps Brigade Mobil Polri Irjen Sylvanus Yulian Wenas, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian Irjen Budi Gunawan, dan mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, Komjen (Pol) Susno Duadji.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang