Piala Maling, Maling Piala

Kompas.com - 30/06/2010, 12:21 WIB

PRETORIA, KOMPAS.com - Jika ada piala maling, mungkin Afrika Selatan akan menjadi juara dan memperoleh trofi itu. Jika ada maling piala, itu sudah terbukti terjadi di di Afsel pula.

Maling seperti cerita biasa di Afsel dan sehari-hari selalu saja ada. Selama Piala Dunia, sudah banyak kasus permalingan. Rata-rata target para kriminal itu adalah wartawan dan tim peserta Piala Dunia.

Enam wartawan sudah menjadi korban maling dan rampok. Tiga tim juga sudah menjadi korban kemalingan. Diawali timnas Yunani, Uruguay, kemudian terakhir Inggris.

Rupanya, sasaran para maling itu mulai dikembangkan. Mereka kemudian mencuri merchandise atau replika Piala Dunia. Tujuh replika Piala Dunia yang disimpan di Sandton sudah dicuri. Kini, tinggal piala asli yang mungkin terus diincar para pencuri. Bahkan, kemungkinan trofi lain seperti bola emas dan sarung tangan emas juga akan dicuri. Apalagi, bahan bakunya juga emas yang tentu punya nilai tinggi.

Pencurian terhadap trofi Piala Dunia bukan hal baru. Dulu semasa trofi masih bernama Julies Rimet juga pernah dicuri dan baru ditemukan di Inggris oleh seekor anjing di bak sampah pada 1966. Jules Rimet kemudian menjadi milik abadi Brasil karena sudah juara Piala Dunia tiga kali. Namun, piala itu kemudian hilang dan sampai sekarang tak ditemukan.

Kini, para maling di Afsel pun seperti sedang berlomba mendapatkan piala yang asli. Mulanya piala replika, lama-lama terus mendekat ke piala yang asli. Logikanya, kalau bisa mengambil yang asli, kenapa harus mengambil replikanya.

Di Afsel, banyak kelompok maling yang menjadi anggota beberapa geng. Bahkan, hampir setiap blok punya geng sendiri. Mereka sudah berlomba meraih rezeki sebanyak-banyaknya selama Piala Dunia dengan cara mencuri dan merampok. Mungkin, kini juga sudah ada perlombaan di antara mereka untuk mencuri trofi asli Piala Dunia.

Siapa yang menang, dialah juaranya. Dia pula yang mendapatkan pialanya. Dan, piala itu adalah Piala Dunia yang kini sedang susah-payah dperebutkan Brasil, Belanda, Jerman, Spanyol, Uruguay, Paraguay, Argentina, dan Ghana.

"Afsel itu banyak malingnya dan mereka sangat pintar. Kadang-kadang juga ada kerja sama dengan polisi, maka mereka bisa punya akses ke mana-mana. Maka, jangan terlalu percaya polisi," jelas Philip Treeby, warga Pretoria ketika ditanya KOMPAS.com tentang kondisi permalingan di Afsel. Hal sama juga dikatakan beberapa staf KBRI yang lama tinggal di Afsel.

Faktanya, terkadang maling di Afsel bisa mencuri tim peserta Piala Dunia. Itu sangat hebat. Jika tak ada yang memberi akses, tentu orang dalam hotel. Jika itu orang dalam hotel, berarti pegawainya tidak tersaring secara baik.

Pada Piala Konfedeerasi 2009, dua tim peserta juga kecurian uang. Pencurian dilakukan di hotel tim.

Namanya pencuri, mereka tak pernah puas. Jika ada yang lebih besar, maka akan terus dikejar. Sekarang baru replikanya yang hilang. Para pencuri pasti sedang memikirkan bagaimana mencuri yang asli.

Semua bisa ditembus. Tinggal bagaimana melobi pihak keamanan, mengetahui lokasinya, mengatasi penjagaan dan alat penyimpanannya. Ah, geng-geng maling yang banyak jumlahnya di Afsel, pasti sedang berpikir keras. Atau, jangan-jangan mereka sudah menabuh genderang perlombaan untuk mencuri trofi Piala Dunia yang asli. Siapa pemenangnya, dialah peraih trofi itu dan pasti akan bernilai miliaran rupiah.

"Soal keamanan, tak ada yang benar-benar bisa terjami di sini. Ini Afsel, Bung," begitu kata beberapa orang Afsel jika ditanya soal kondisi keamanan di negerinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau