Distrik Kokas Kaya Seni Lukis Prasejarah

Kompas.com - 02/07/2010, 02:36 WIB

JAYAPURA, KOMPAS.com--Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat kaya akan lukisan manusia pada zaman megalitikum yang ditorehkan pada dinding-dinding gua/ceruk, tebing karang, dan pada permukaan batu-batu besar.

"Bagi manusia prasejarah, permukaan batuan tersebut adalah kanvas untuk menuangkan ide atau gagasan berkaitan dengan suatu kejadian atau keadaan yang dialami atau dilihatnya," kata Peneliti Balai Arkeologi Jayapura, M.Irfan Mahmud,M.Si di Jayapura, Kamis.

Dia mengatakan, Distrik Kokas merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Fakfak yang banyak memiliki peninggalan arkeologis, mulai zaman prasejarah hingga periode masuknya Islam dan kolonial ke wilayah Papua.

Seni cadas yang terdapat pada dinding-dinding tebing dan ceruk-ceruk karang, lanjut Irfan, merupakan manifestasi rasa seni pada zaman prasejarah yang memiliki nilai budaya dan daya tarik wisata.

Motif-motif lukisan seni cadas tersebut berupa cap tangan, bentuk-bentuk geometris dan ada juga yang menyerupai binatang berwarna merah karena ditorehkan dengan menggunakan pewarna alami.

"Gua-gua alam yang ada tinggalan arkeologis seperti seni cadas ini jika dikelola dengan baik bisa menjadi obyek wisata gua," ujar Irfan yang juga merupakan Kepala Balai Arkeologi Jayapura.

Menurut dia, gua merupakan data arkeologi yang cukup kompleks dan akurat karena di dalamnya sering dijumpai sisa-sisa aktivitas manusia sebagi bukti adanya kehidupan masa lalu.

Peninggalan aktivitas manusia itu adalah sisa-sisa makanan berupa cangkang kerang dan peralatan hidup seperi kapak batu, gerabah dan lain sebagainya.

Selain memiliki kekayaan arkeologi yang sangat berharga, kata  Irfan, Distrik Kokas juga memiliki panorama alam yang sangat indah dengan pulau-pulau karang dan pantai berpasir putih.

Sejauh ini, kegiatan penelitian dan pengembangan Balai Arkeologi Jayapura telah menemukan 89 situs yang sangat berharga, baik dari segi pendidikan dan budaya maupun wisata sejarah.

Situs-situs ini ada yang merupakan sisa-sisa aktivitas manusia zaman megalitikum, makam Islam dan Cina, serta peninggalan zaman kolonial ketika pasukan sekutu dan Jepang menjadikan Pulau Papua sebagai medan Perang Dunia II.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau