JAYAPURA, KOMPAS.com--Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat kaya akan lukisan manusia pada zaman megalitikum yang ditorehkan pada dinding-dinding gua/ceruk, tebing karang, dan pada permukaan batu-batu besar.
"Bagi manusia prasejarah, permukaan batuan tersebut adalah kanvas untuk menuangkan ide atau gagasan berkaitan dengan suatu kejadian atau keadaan yang dialami atau dilihatnya," kata Peneliti Balai Arkeologi Jayapura, M.Irfan Mahmud,M.Si di Jayapura, Kamis.
Dia mengatakan, Distrik Kokas merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Fakfak yang banyak memiliki peninggalan arkeologis, mulai zaman prasejarah hingga periode masuknya Islam dan kolonial ke wilayah Papua.
Seni cadas yang terdapat pada dinding-dinding tebing dan ceruk-ceruk karang, lanjut Irfan, merupakan manifestasi rasa seni pada zaman prasejarah yang memiliki nilai budaya dan daya tarik wisata.
Motif-motif lukisan seni cadas tersebut berupa cap tangan, bentuk-bentuk geometris dan ada juga yang menyerupai binatang berwarna merah karena ditorehkan dengan menggunakan pewarna alami.
"Gua-gua alam yang ada tinggalan arkeologis seperti seni cadas ini jika dikelola dengan baik bisa menjadi obyek wisata gua," ujar Irfan yang juga merupakan Kepala Balai Arkeologi Jayapura.
Menurut dia, gua merupakan data arkeologi yang cukup kompleks dan akurat karena di dalamnya sering dijumpai sisa-sisa aktivitas manusia sebagi bukti adanya kehidupan masa lalu.
Peninggalan aktivitas manusia itu adalah sisa-sisa makanan berupa cangkang kerang dan peralatan hidup seperi kapak batu, gerabah dan lain sebagainya.
Selain memiliki kekayaan arkeologi yang sangat berharga, kata Irfan, Distrik Kokas juga memiliki panorama alam yang sangat indah dengan pulau-pulau karang dan pantai berpasir putih.
Sejauh ini, kegiatan penelitian dan pengembangan Balai Arkeologi Jayapura telah menemukan 89 situs yang sangat berharga, baik dari segi pendidikan dan budaya maupun wisata sejarah.
Situs-situs ini ada yang merupakan sisa-sisa aktivitas manusia zaman megalitikum, makam Islam dan Cina, serta peninggalan zaman kolonial ketika pasukan sekutu dan Jepang menjadikan Pulau Papua sebagai medan Perang Dunia II.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang