Telah begitu lama kejuaraan tenis tertua dunia Wimbledon, Inggris, dikuasai oleh satu nama: Roger Federer. Bak penguasa despotik, Federer mencengkeram kuat takhta tertinggi Wimbledon setiap tahun sejak 2003. Tujuh tahun berlalu, orang selalu bertanya-tanya, kapankah sang ”raja” turun singgasana.
Baru pada Rabu (30/6) jawaban itu terkuak. Mata penggemar tenis dunia menyaksikan runtuhnya rezim pemain asal Swiss di turnamen berusia 133 tahun tersebut. Petenis unggulan pertama itu takluk oleh unggulan ke-12 asal Ceko, Tomas Berdych, 4-6, 6-3, 1-6, 4-6, pada babak perempat final.
Kekalahan ini merupakan rekor tersendiri buat juara enam kali Wimbledon tersebut. Pasalnya, pemain berusia 28 tahun itu selalu masuk final Wimbledon tujuh tahun berturut-turut dan hanya kehilangan satu gelar saat dikalahkan Rafael Nadal pada 2008.
Mimpi Federer untuk menyamai rekor pemain legendaris Pete Sampras (AS), kolektor tujuh gelar Wimbledon (terbanyak sepanjang sejarah era terbuka), harus ditunda.
Tanda-tanda menurunnya performa Federer sebenarnya sudah terbaca sejak awal tahun ini, jauh sebelum berangkat ke Inggris. Sejak menjuarai Australia Terbuka Januari lalu, Federer tak pernah lagi memenangkan gelar dari tujuh turnamen yang diikutinya. Itu merupakan yang pertama kali ia datang ke Wimbledon hanya dengan satu gelar sejak tahun 2001.
Tanda-tanda itu makin menguat menyusul kegagalannya menembus semifinal Perancis Terbuka awal bulan Juni saat dikalahkan Robin Soderling. Rekornya yang telah 23 kali berturut-turut menembus semifinal
Memasuki Wimbledon, Federer sudah harus tertatih-tatih pada babak pertama saat menghadapi pemain nonunggulan asal Kolombia, Alejandro Falla. Bahkan, Federer nyaris saja dipermalukan sebelum akhirnya membalikkan keadaan dalam pertandingan lima set.
Pada babak kedua, ia juga mengalami kesulitan mengatasi pemain nonunggulan lain, Ilija Bozoljac( Serbia), dan harus menyelesaikan laga dalam empat set sebelum akhirnya naas itu datang juga ditangan Berdych.
”Tentu saja, jika seseorang bertambah tua dan sudah mencapai banyak hal seperti Roger, di titik tertentu, orang itu hanya manusia biasa. Ia harus bisa menghadapi kenyataan bahwa tak mungkin memenangkan semuanya atau mungkin memenangkan apa pun lagi,” ujar John McEnroe, mantan juara Wimbledon, kepada AP.
Wartawan tenis Reuters, Martyn Herman, menganalisa, pukulan Federer tak lagi melubangi pertahanan lawan. Servisnya, meski masih layak, sudah tak bisa menjadi senjata andalan seperti biasanya. ”Tetapi yang terutama adalah sarafnya menegang,” katanya.
Hal itu terlihat saat menghadapi Falla, di mana Federer sering terlihat putus asa. Padahal, salah satu keunggulan Federer selama ini adalah ketenangannya menghadapi tekanan.
Lain lagi yang diungkapkan juara tiga kali Wimbledon, Boris Becker, kepada BBC. Ia menilai Federer telah kehilangan motivasinya bermain tenis. ”Apa pun itu, dia bukan seperti Roger yang kita lihat selama bertahun-tahun ini,” katanya.
Namun, Federer menampik jika performanya dikatakan sudah menurun. Saat ditanyai wartawan usai kekalahan dari Berdych, ia berkilah penampilan buruknya diakibatkan sakit di punggung dan paha kanan yang dirasakan sejak turnamen Halle. Sebelumnya, Federer tak pernah menyinggung apa pun soal cedera.
”Ini menyakitkan dan tidak nyaman. Saat bertahan, sakit itu lebih terasa. Kaki-kakiku jadi tak sekuat biasanya dan membuatku bermain berbeda,” kata suami Mirka Vavrinec dan ayah dua bayi kembar ini.
Federer pun menyatakan tak sabar menunggu Perancis Terbuka dan Wimbledon tahun depan untuk membuktikan kalau ia belum habis.
Seperti yang diamini pemain legendaris Wimbledon lainnya, Pat Cash.
”Dia tidak bermain lebih buruk. Dia cuma kehilangan beberapa pukulan. Aku yakin dia akan kembali lagi memenangkan
Hal itu bisa saja terjadi seperti yang dilakukan Federer pada 2008. Saat semua meramalkan eranya telah habis usai dikalahkan Nadal di final Wimbledon, Federer kembali lagi dan memenangkan empat turnamen besar. Mungkinkah kali ini sang ”raja” berkuasa lagi?