Wimbledon

Ujung Kisah Rezim Federer?

Kompas.com - 02/07/2010, 03:20 WIB

Telah begitu lama kejuaraan tenis tertua dunia Wimbledon, Inggris, dikuasai oleh satu nama: Roger Federer. Bak penguasa despotik, Federer mencengkeram kuat takhta tertinggi Wimbledon setiap tahun sejak 2003. Tujuh tahun berlalu, orang selalu bertanya-tanya, kapankah sang ”raja” turun singgasana.

Baru pada Rabu (30/6) jawaban itu terkuak. Mata penggemar tenis dunia menyaksikan runtuhnya rezim pemain asal Swiss di turnamen berusia 133 tahun tersebut. Petenis unggulan pertama itu takluk oleh unggulan ke-12 asal Ceko, Tomas Berdych, 4-6, 6-3, 1-6, 4-6, pada babak perempat final.

Kekalahan ini merupakan rekor tersendiri buat juara enam kali Wimbledon tersebut. Pasalnya, pemain berusia 28 tahun itu selalu masuk final Wimbledon tujuh tahun berturut-turut dan hanya kehilangan satu gelar saat dikalahkan Rafael Nadal pada 2008.

Mimpi Federer untuk menyamai rekor pemain legendaris Pete Sampras (AS), kolektor tujuh gelar Wimbledon (terbanyak sepanjang sejarah era terbuka), harus ditunda.

Tercengang?

Tanda-tanda menurunnya performa Federer sebenarnya sudah terbaca sejak awal tahun ini, jauh sebelum berangkat ke Inggris. Sejak menjuarai Australia Terbuka Januari lalu, Federer tak pernah lagi memenangkan gelar dari tujuh turnamen yang diikutinya. Itu merupakan yang pertama kali ia datang ke Wimbledon hanya dengan satu gelar sejak tahun 2001.

Tanda-tanda itu makin menguat menyusul kegagalannya menembus semifinal Perancis Terbuka awal bulan Juni saat dikalahkan Robin Soderling. Rekornya yang telah 23 kali berturut-turut menembus semifinal grand slam (16 di antaranya menjadi juara) pun harus putus.

Memasuki Wimbledon, Federer sudah harus tertatih-tatih pada babak pertama saat menghadapi pemain nonunggulan asal Kolombia, Alejandro Falla. Bahkan, Federer nyaris saja dipermalukan sebelum akhirnya membalikkan keadaan dalam pertandingan lima set.

Pada babak kedua, ia juga mengalami kesulitan mengatasi pemain nonunggulan lain, Ilija Bozoljac( Serbia), dan harus menyelesaikan laga dalam empat set sebelum akhirnya naas itu datang juga ditangan Berdych.

Menurun

”Tentu saja, jika seseorang bertambah tua dan sudah mencapai banyak hal seperti Roger, di titik tertentu, orang itu hanya manusia biasa. Ia harus bisa menghadapi kenyataan bahwa tak mungkin memenangkan semuanya atau mungkin memenangkan apa pun lagi,” ujar John McEnroe, mantan juara Wimbledon, kepada AP.

Wartawan tenis Reuters, Martyn Herman, menganalisa, pukulan Federer tak lagi melubangi pertahanan lawan. Servisnya, meski masih layak, sudah tak bisa menjadi senjata andalan seperti biasanya. ”Tetapi yang terutama adalah sarafnya menegang,” katanya.

Hal itu terlihat saat menghadapi Falla, di mana Federer sering terlihat putus asa. Padahal, salah satu keunggulan Federer selama ini adalah ketenangannya menghadapi tekanan.

Lain lagi yang diungkapkan juara tiga kali Wimbledon, Boris Becker, kepada BBC. Ia menilai Federer telah kehilangan motivasinya bermain tenis. ”Apa pun itu, dia bukan seperti Roger yang kita lihat selama bertahun-tahun ini,” katanya.

Namun, Federer menampik jika performanya dikatakan sudah menurun. Saat ditanyai wartawan usai kekalahan dari Berdych, ia berkilah penampilan buruknya diakibatkan sakit di punggung dan paha kanan yang dirasakan sejak turnamen Halle. Sebelumnya, Federer tak pernah menyinggung apa pun soal cedera.

”Ini menyakitkan dan tidak nyaman. Saat bertahan, sakit itu lebih terasa. Kaki-kakiku jadi tak sekuat biasanya dan membuatku bermain berbeda,” kata suami Mirka Vavrinec dan ayah dua bayi kembar ini.

Federer pun menyatakan tak sabar menunggu Perancis Terbuka dan Wimbledon tahun depan untuk membuktikan kalau ia belum habis.

Seperti yang diamini pemain legendaris Wimbledon lainnya, Pat Cash.

”Dia tidak bermain lebih buruk. Dia cuma kehilangan beberapa pukulan. Aku yakin dia akan kembali lagi memenangkan grand slam,” katanya.

Hal itu bisa saja terjadi seperti yang dilakukan Federer pada 2008. Saat semua meramalkan eranya telah habis usai dikalahkan Nadal di final Wimbledon, Federer kembali lagi dan memenangkan empat turnamen besar. Mungkinkah kali ini sang ”raja” berkuasa lagi? (ENG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau