PERJALANAN santai 30 menit dari Cape Town menuju Muizenberg, kota kecil di sebelah selatan Cape Town, Afrika Selatan, terasa menyenangkan. Jalanan mulus dengan kendaraan yang sedikit membuat gangguan untuk menikmati pemandangan nyaris tak ada. Rasanya sayang untuk sekejap menutup mata.
Udara yang cerah membuat langit menampilkan warna biru yang kita kenal sebagai ”biru langit”. Layaknya sebuah kanvas, pada permukaannya alam memulaskan berbagai gumpalan semacam kapas. Sedikit di sini, sedikit di sana. Kontras sekali, warna biru dan putih. Di sela-selanya tersisip sedikit gradasi warna biru muda atau putih agak kelabu.
Dengan sedikit memanfaatkan imajinasi, kita bisa melihat lukisan alam itu seolah menyuguhkan bentuk binatang, manusia, bunga, yang kadang-kadang seperti membuat adegan. Gambar hidup yang semula bergerak dan pada titik tertentu dipaksa berhenti.
Perlahan saya turunkan kaca jendela mobil. Angin pantai—yang kali ini agak dingin—merambat masuk. Udara terasa sejuk, tetapi tidak membuat menggigil. Wilayah Cape Peninsula—tempat Cape Town berada bersama kota-kota kecil lain—yang di sebelah baratnya berhadapan dengan Samudra Atlantik cenderung agak dingin dibandingkan dengan wilayah Southern Cape, seperti Port Elizabeth dan Durban, yang memperoleh hangatnya arus dari Samudra Hindia.
Akan tetapi, secara keseluruhan Cape Peninsula pada musim dingin jauh lebih hangat dibandingkan dengan kota-kota Afrika Selatan di sebelah utara, seperti Johannesburg dan Pretoria. Bahkan, kerap kali terjadi kota Cape Town mendapat sinar matahari yang benar-benar terang sehingga temperatur menunjukkan angka 30 derajat Celsius. ”Mana ada di tempat lain musim dingin, tetapi sangat hangat,” kata Garry Brand, pemilik rumah penginapan Bellevue Manor di Cape Town.
Kembali ke perjalanan menuju Muizenberg, siang itu 20 menit pertama perjalanan angin sejuk berembus perlahan. Namun, pada 10 menit terakhir, angin mulai bertiup lebih kencang. Langit tetap biru, tak ada tanda-tanda akan terjadi perubahan cuaca. Dari dalam mobil yang bergerak sepanjang pantai terlihat ombak mulai menguat. Ombak yang tidak terlalu tinggi, tetapi deburannya cukup kuat. Di beberapa tempat ombak terempas ke batu karang di tepi pantai, melambung tinggi, membentuk semacam pancuran sebelum menyebar kembali ke pantai.
Pantai Muizenberg siang itu tak terlalu ramai. Seorang ayah mengajari anaknya yang masih berusia sekitar tiga tahun bersepeda di pasir, sekaligus menunjukkan onggokan rumput laut atau kulit kerang yang terbelah. Seorang perempuan berjalan bersama anjingnya yang tampak menikmati setiap sudut pantai. Beberapa anak muda bergembira dengan papan seluncurnya, sementara yang lain tengah bersiap untuk memasuki laut.
Begitu tiba di Muizenberg, kembali saya mendapat suguhan permainan warna. Di hamparan pasir putih sedikit kecokelatan, deretan puluhan ruang ganti pakaian berdiri tegak. Deretan ruangan yang terbuat dari kayu ini tidak membosankan, malah menyenangkan.
Masing-masing ruang ganti pakaian dicat warna-warni: merah, hijau, kuning, biru. Paduannya berselang-seling. Ada yang dinding depan dan belakang kuning, berpintu hijau dan merah, dinding samping merah dan atapnya biru. Ia bersebelahan dengan ruang yang keseluruhan paduan warnanya berbeda sama sekali. Dinding depannya hijau dengan pintu merah dan kuning.
Dilihat dari areal parkir, deretan ruang ganti pakaian ini mirip kotak pensil berwarna. Bentuknya sederhana, persegi empat dengan kerucut atap dan topangan kaki yang pada bagian depannya sekaligus sebagai anak tangga menuju pintu ruang ganti. Latar belakangnya adalah deburan ombak putih yang datang dari laut yang biru, yang sejauh mata memandang seolah garis ufuknya menyatu dengan langit biru dan awan putihnya.
Bersantai
Hanya berjarak sekitar tiga kilometer ke selatan Muizenberg, Pantai Kalk Bay juga menjadi salah satu lokasi warga Cape Peninsula bersantai. Praktis sejak dari Muizenberg, Kalk Bay, hingga Simon’s Town berderet-deret penginapan kecil cantik mengundang tamunya untuk menikmati False Bay, bagian dari Cape Peninsula yang menghadap timur.
Bersebelahan dengan penginapan yang umumnya menawarkan bed and breakfast, berderet restoran, kafe, dan bistro yang menyajikan beraneka ragam makanan lewat tema yang beragam pula. Toko cendera mata menjual barang dengan desain khusus yang cenderung modern minimalis, sebagian besar dengan warna muda.
Tepat di Pantai Kalk Bay, misalnya, mereka yang ingin menikmati pemandangan laut memilih memasuki restoran yang berdinding kaca besar sehingga seluruh pemandangan laut bisa dinikmati sepenuhnya tanpa terkena dinginnya angin laut. Akan tetapi, di tempat yang sama pula, sebuah restoran yang sudah berusia puluhan tahun, Kalky’s, menawarkan harga yang lebih murah. Tak heran restoran ini tak pernah sepi. Dua potong besar fish and chips—ikan goreng dan kentang goreng—bisa diperoleh seharga sekitar 35 rand (Rp 45.000).
”Anda datang ke tempat yang tepat,” kata pelayan tua restoran itu, yang sesekali duduk di bangku tamu, menemani mereka yang bersantap. ”Semua orang lama tahu tempat ini.”
Buku perjalanan tentang Cape Town yang dibuat oleh Time Out juga menyebutnya sebagai toko fish and chips legendaris. Sebuah tempat yang tepat untuk menutup perjalanan dari pantai ke pantai di Cape Peninsula. (Fitrisia Martisasi, dari Cape Town, Afrika Selatan)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang